Menjadi perempuan memang memiliki beban tersendiri jika ia masih hidup dalam tradisi pernikahan yang ketat. Pandangan masyarakat yang kolot, tidak maju, dan super-sempit perihal pernikahan justru makin memojokkan kaum perempuan. Banyak di antara kita menyadari bahwa kasus seperti ini masih sering terjadi.

Dalam obrolan saya dengan seorang teman, ia mengaku ingin melanjutkan studi S2 lantaran tidak ingin dipaksa segera menikah. Jika ia hanya bekerja di rumah, sedangkan teman-teman seumurannya sudah menikah, besar kemungkinan perjodohan akan terjadi.

Selang beberapa hari, kekhawatiran itu muncul. Ia mendatangi saya dan bercerita ada seorang bapak yang datang ingin melihatnya.

Bukan raut bahagia yang saya dapati ketika ia bercerita, namun justru ketakutan yang muncul. Ia mengaku enjoy dengan karier yang baru saja dia bangun. Tidak ingin merencanakan pernikahan dalam waktu dekat dan masih ingin menikmati hidup sendiri.

Akan tetapi, betapa pun besarnya perasaan takut akan pernikahan muncul, stereotip masyarakat akan perawan tua masih sangat melekat. "Gelar" itu akan diberikan kepada perempuan yang masih setia melajang pada usia yang dianggap waktunya menikah namun tak kunjung menikah, atau perempuan yang memilih tidak menikah sama sekali dalam hidupnya.

Keadaan ini justru menambah beban psikis individu, seperti teman saya misalnya. Dia tidak ingin segera menikah namun risih juga jika dijuluki perawan tua. Bagaimana orang tuanya nanti jika hal itu terjadi adalah salah satu dari sekian hal yang ia risaukan.

Julukan perawan tua ini tentu tidak diberikan secara lugas, hanya saja pandangan dan gosip tetangga kanan kiri yang silih berganti. Beberapa orang kurang ajar yang berani mengatakannya secara empat mata, namun selebihnya hanya menyampaikan rasa penasarannya kepada pihak keluarga.

"Ibu, anaknya sudah berumur kok belum menikah?"

"Mbak, itu mbok ya disuruh cepet-cepet lo. Perempuan harus ingat usia."

"Tetangga saya ada yang lagi nyari calon istri, Mbak. Barangkali itu anaknya kepengin bisa saya kenalkan."

"Sudah 30 tahun, apa nggak kasihan sama anaknya nanti?"

"Zaman modern kayak gini, udah ada HP segala macem masak belum dapet jodoh?"

Kalimat di atas hanyalah segelintir contoh paksaan tetangga agar perempuan pada usia matang segera menikah. Tulisan ini akan terlalu panjang jika saya cantumkan semuanya. Sebenarnya masih banyak lagi kalimat yang mencerminkan niat baik tetangga (dibaca: nyinyiran) hendak ikut campur dalam kehidupan pribadi orang lain.

Jika kita berada dalam posisi itu, tentu perasaan yang muncul tiada lain hanyalah resah. Mengapa orang-orang turut campur dalam kehidupan pribadi orang lain? Tidakkah mereka repot dengan kehidupannya sendiri sehingga menyoalkan pilihan hidup individu lain?

Dalam pandangan saya, yang lebih penting dari hidup itu sendiri adalah bahagia. Individu memiliki pertimbangan satu dan yang lain untuk memutuskan satu hal saja. Termasuk dalam pilihan menikah. Tidak adil rasanya jika setiap orang dinilai melalui satu parameter saja. Sangat tidak adil pula apabila pernikahan dijadikan goal hidup perempuan dewasa.

Apa salahnya dengan pilihan tidak segera menikah atau tidak menikah sama sekali? Hidup sendiri pun sudah penuh masalah. Artinya, memilih berkomitmen dengan pribadi lain juga sangat berpotensi menimbulkan konflik-konflik baru.

Pernikahan bukanlah sebuah kompetisi. Tidak perlu saling membalap atau menyemangati agar lekas sampai finish. Toh menikah adalah start untuk fase hidup yang lain.

Jika memang belum siap, tidak ada salahnya untuk tidak menikah. Entah karena nyaman hidup sendiri, memiliki trauma, ada tanggung jawab lain yang menguras energi, atau masalah orientasi seksual, semua alasan itu sah-sah saja.

Individu yang sanggup memutuskan menikah adalah individu yang berani. Berani mengambil risiko dengan segala kemungkinan yang terjadi ke depan. Namun, pilihan perempuan untuk hidup sendiri juga sangat berani. Ia memilih jalan bahagianya sendiri.

Hal itu mengingatkan saya pada serial drama korea Hospital Playlist di mana dalam drama tersebut menceritakan persahabatan 5 orang yang berprofesi sebagai dokter di rumah sakit yang sama. Dalam drama itu, dr. Chae Song-hwa adalah dokter saraf dan merupakan satu-satunya perempuan dalam "geng" tersebut.

Song-hwa terbilang sukses dalam kariernya. Meskipun begitu, Song-hwa tidak tertarik dengan pernikahan. Baginya, pekerjaan, keluarga, sahabat, dan hobinya sudah cukup membuat hidup bahagia. Komitmen itu selalu ia jaga meskipun beberapa lelaki tertarik padanya.

Jika orang lain selalu berdoa meminta materi yang berlimpah, cintanya terbalas atau kehidupan ke depan, Song-hwa hanya meminta hal-hal baik untuk saat ini. Bukan berarti tidak memedulikan dirinya secara pribadi, Song-hwa memuaskan dirinya dengan hal-hal yang ia sukai. Bekerja, membeli apa yang ia inginkan, nongkrong dengan sahabat, dan camping di akhir pekan adalah caranya untuk "memberi" kepada diri sendiri. 

Satu hal yang dapat dipetik dari Song-hwa adalah pilihannya untuk menentukan bahagianya secara personal.

Menikah, bercerai, adalah siklus yang biasa terjadi. Jika keputusan menikah adalah hal yang wajar, maka keputusan untuk tidak menikah juga tidak salah. Setiap manusia berhak menentukan bahagianya sendiri tanpa mempertimbangkan standar orang lain.

Bisa jadi, pilihan untuk tidak menikah adalah jalan untuk mencintai diri sendiri. Memberikan kebebasan hatinya untuk merdeka dari segala tekanan dan beban psikis pernikahan. Jika individu mampu bahagia dengan pilihan-pilihannya sendiri, lantas kenapa orang-orang ingin menjadi hakim atas hidup individu lain?