Dewasa ini, saat kita sudah sepatutnya dewasa namun kenyataannya belum juga dewasa, kita menyadari satu hal. Bahwa kita sedang bingung. Dan, segala kebingungan yang terjadi saat ini (khususnya Quarter-life Crisis dan Mid-life Crisis) adalah bukti, dari kenyataan bahwa kita memang menjadi orang asing bagi diri sendiri.


Kita masihlah sama, karena kita adalah orang yang sama, dari anak kecil yang bodoh dan sering ketakutan. Kita adalah orang yang sama dengan diri kita saat kecil dulu, yang takut keliaran lebih dari pukul 6 sore atau mengarungi gelapnya maghrib. Kita masih sama, masih takut dengan cerita hantu, dan masih sama bodohnya ketika membuka buku hanya karena ingin melihat gambar-gambarnya.

Kita adalah bocah yang pergi jauh,
lalu lupa arah pulang. Sialnya, setelah kita pergi begitu jauh, kita tak bisa mendapatkan diri kita lagi, apalagi kedewasaan. Atau versi puitisnya: "Kita terlampau jauh meninggalkan diri dan mulai tenggelam dalam pusaran dunia."

Namun kita, dan tujuh koma tujuh miliar jiwa diluar sana setidaknya masih punya sesuatu, yaitu waktu. Kita hanya memiliki waktu. Hanya waktu, untuk berbagi cerita dan mengingat masa-masa ingusan diiringi canda dan tawa. Menertawai dunia, yang berjalan begitu ngebut, begitu kalut.

Namun ternyata oh ternyata, diri kita tidak berubah-berubah amat, nampaknya. Ternyata, meskipun kita telah bertambah "besar", sudah mengalami pubertas dan patah hati, kita belum juga dewasa. Kita bertumbuh dan tapi mungkin tidak berkembang-berkembang amat.

"Jika manusia seumpama kembang, maka dewasa ini, kita sudah membuat hal-hal bahagia yang sederhana itu layu dalam diri kita sendiri."

Meskipun kita telah melewati badai elegi dan semua kesuraman masalah hidup, hingga membuat kita terbentur, terbentur dan tersungkur! Tetapi tidak ada yang berubah di diri kita, jauh di dalam diri adalah bocah kecil yang penakut.

Kita sebenarnya masih sama, seperti dulu, yang selalu saja ketakutan seperti bocah, yang sembunyi ketika mendengar suara petir. Ya, walau kadang sifat juga sikap kita seringkali berubah, tapi jauh di dalam diri kita adalah kita saat ini; "seorang anak kecil lugu yang tidak banyak tahu."

Percayalah, bahwa tidak ada yang berubah dari kita juga Spongebob dan Warga Bikini Bottom. Tidak ada yang berubah dari si Kuning Spongebob, ia masih hidup bersama Siput bernama Gary dalam Rumah Nanas di Jalan Keong Nomor Seratus Dua Puluh Empat, Bikini Bottom. Spongebob bahkan masih berbentuk persegi panjang dan selalu siap menjadi budak korporasi Krusty Krab.

Restoran itu masih dimiliki oleh seekor kepiting Borjuis, tamak nan kikir bernama lengkap Eugene Harold Krabs. Tidak ada yang berubah dari kepiting paruh baya itu, bahkan ia masih saja hidup di dalam sauh bersama anaknya yaitu Pearl, yang tak lain adalah seekor Paus Sperma muda.

Eugene (dibaca: Yujin), pun masih bermusuhan dengan Sheldon James Plankton. Seekor Plankton pekerja keras, ambisius dan berwatak maling. Makhluk kecil berwarna hijau itu masih sama, masih berniat untuk mencuri resep rahasia Krusty Krab. Ia juga masih tinggal di sebuah ember, dengan istrinya yaitu Karen. Istri Plankton pun masih sama, masihlah robot.

Dan ya, Yujin pun masih menyimpan cinta pada seekor Ikan Buntal bernama lengkap Poppy Puff, yang bekerja sebagai pialang SIM di Kantor Samsat sekaligus guru di Sekolah Mengemudi, Bikini Bottom. Nyonya Puff pun masih sabar, mengajari si Kuning Spongebob mengendarai kapal.

Sungguh, tidak ada yang berubah dari Patrick si bintang laut, ia masih setia berburu ubur-ubur dengan si childish Spongebob. Si jenius dengan kecerdasan setara Hawking, dan berwarna merah muda itu pun masih tinggal di bawah batu. Mereka berdua masih sama, masih sering mengusili si Gurita yang entah kenapa disebut Squidward.

Dan Squidward masih sama, masih menyebarkan vibes seni dan sastra dengan klarinet-nya. Ia bahkan masih sentimen terhadap Squilliam Fancyson, yang lebih terkenal dan tajir melintir. Sungguh, Squidward masih sama, masih hidup di dalam Moai yang sepertinya juga terdapat di Pulau Paskah.

Begitu pula dengan Sandra Jennifer Cheeks, alias Sandy. Tupai cerdas dan visioner yang berasal dari Texas itu, masih mendalami ilmu Karate dan tinggal di sebuah kubah dengan satu pohon di dalamnya. Ia pun masih sama, masih gemar hibernasi saat musim dingin menerpa di Bikini Bottom.

Pak tua Jenkins pun masih hidup, dan masih bijak. Larry pun masih ada, masih menjadi duta "Sapere Aude" bagi warga Bikini Bottom, dengan slogannya yang masyhur yaitu "Hidup seperti Larry". Larry juga masihlah seekor lobster yang mencari benur-nya, yang katanya di ekspor oleh salah satu Menteri Kelautan dan Perikanan korup ke Rock Bottom.

Sungguh, tidak ada yang berubah bukan?
Tidak ada yang berubah dari kita, Spongebob dan Warga Bikini Bottom. Tidak ada yang berubah dari ini semua. Lalu kita kembali khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti, kita adalah apa yang dikatakan oleh para pejalan spiritual tentang orang-orang yang takut akan hal yang belum terjadi.

Lebih jelas, kekhawatiran kita hari ini adalah hal yang sama dengan kekhawatiran kita kemarin dan buktinya kita masih saja takut bersama kesendirian. Bedanya, mungkin kita saat ini menjadi sedikit berbulu dan secara tidak langsung menjauhi karakterisasi manusia sebagai Featherless Biped, seperti yang digaungkan oleh Plato sebelum dipecundangi Diogenes.

Kita manusia, mungkin adalah makhluk yang paling kompleks dan pandir. Oleh karena itu ketakutan rumit pada setiap individu adalah sama, tapi karena kita tidak berubah, ketakutan itu malah terasa menjadi lebih menakutkan. Mengapa lebih menakutkan? Karena saat ini kita memikirkan hari esok yang belum terjadi, atau mungkin takkan pernah ada.

Tapi kita, Spongebob dan Warga Bikini Bottom sepertinya harus beranjak. Karena waktu pun terus berlari hingga tak berjejak. Dan kita, harus tetap mengeksplorasi ke-absurd-an hidup dan menciptakan hal indah yang baru. Menjalani hidup yang acakadut, suram dan rumit.

Dan mengeluh sepertinya bukanlah hal yang jelek-jelek amat, karena kenyataan di depan adalah ketidakpastian. Karena jikalau kita, katanya bertambah kuat, bertumbuh dewasa dan tidak lagi sama, mengapa kita harus takut dengan perubahan yang ada di hari esok?

Kesimpulannya apa? Ya tidak ada sebenernya. Pesanku adalah tetap hidupi hidupmu, nikmati dan Amorfati! Sekian, dan semoga semua makhluk berbahagia.