“Surga itu ada di telapak kaki ibu,” kata Mail. 

“Kalau tak punya Ibu?” tanya Upin Ipin polos.

“Kalau tak ada Ibu, maka tak ada surga,” seloroh Fizi enteng.

Berkat sabda Fizi yang spontan dalam salah satu episode tersebut, Upin dan Ipin akhirnya menangis. Mereka mengadu kepada Kak Ros dan Opah karena berpikir bahwa surga tak berpihak pada mereka.

Ulah Fizi tak hanya membuat Upin Ipin menangis, tetapi juga mengundang kemarahan netizen karena dianggap dark jokes. Tak heran jika kemudian Fizi sempat menjadi trending topic pertama di Twitter.

Ucapan Fizi dinilai menyinggung dan tidak memiliki empati terhadap Upin dan Ipin dan sebagian besar penonton. Ucapan itu seakan-akan mengisyaratkan bahwa seseorang yang tidak memiliki Ibu, maka tidak memiliki kesempatan untuk masuk surga.

Saya sepakat soal empati. Kita memang harus selalu meletakkan empati kepada siapa pun. Tapi setelah itu, apa yang mau kita harapkan dari seorang karakter fiksi macam Fizi? Permohonan maaf publik? Atau klarifikasi seperti yang dilakukan oleh salah seorang influencer baru-baru ini?

Sudah-sudah. Lagi pula penulis skenarionya juga sudah meminta maaf. Saya justru melihat ini sebagai suatu kritik bagi mereka yang memiliki narsisme dalam memandang konsep surga.

Bagaimana bentuk surga? Kita membayangkan kehidupan yang indah tanpa perintah dan larangan, taman yang menyejukkan mata dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Kalau kita sedikit lebih beruntung, mungkin kita akan mendapatkan surga kelas satu dengan fasilitas president suite, yaitu firdaus.

Tak perlu takut kelaparan atau kekenyangan. Bahkan dalam bayangan saya, semua bagian dari surga itu seperti rumah milik Willy Wonka dalam film Charlie and The Chocolate Factory, semuanya bisa dinikmati.

Lalu apa lagi? Ditemani oleh bidadari atau bidadari? Boleh saja membayangkan seperti itu. Tapi kelak jika saya diizinkan oleh Tuhan, maka saya akan minta ditemani oleh pasangan saya saja. Cukup satu orang, karena dengannya saya pasti sudah bahagia. Itu kalau saya ya.

Ah sudahlah, saya takut imajinasi saya kebablasan. Saya yakin surga lebih dari apa yang ada dalam rasio manusia.

***

Kita ramai-ramai membully Fizi di media sosial (saya berdoa supaya Fizi tidak mengalami tekanan psikis karena cyberbullying yang dialaminya. Please, masa depannya masih panjang!).

Melihat banyak orang yang memprotes ucapan Fizi, lantas memunculkan pertanyaan dalam benak saya. Apakah surga adalah sesuatu yang sudah dijatah dari awal? Tesis dan antitesisnya seperti ini: kalau kita memiliki Ibu, maka kita akan lebih mudah masuk surga. Jika tidak, akan lebih sulit bahkan mustahil.

Apakah eksistensi surga seremeh itu? Kalau surga seremeh itu, berarti Tuhan tidak adil kepada para piatu.

Apakah lantas setiap anak yang memiliki Ibu, entah dia berbuat baik kepada ibunya atau tidak, berhak merasa lega karena telah mendapat kunci surga? Apakah ia akan selalu mengandalkan doa dan pengampunan sang Ibu sepanjang masa?

Bagaimana dengan anak tanpa Ibu, bagaimana cara ia memperoleh kunci surga? Siapa yang akan melimpahkannya doa dan pengampunan yang tak terhitung jumlahnya itu?

Ada sebuah adagium “banyak jalan menuju Roma” yang memiliki arti ada banyak ladang pahala yang disediakan oleh Tuhan bagi manusia. Oke. Tapi, apakah yang lebih hebat dari doa dan restu seorang Ibu? Bisakah kita membandingkannya dengan hal yang lain? Adakah nilai substitusi yang sebanding?

Maka terjawablah sudah mengapa Upin dan Ipin bisa sesedih itu.

Tapi bukan itu pesan yang ingin disampaikan penulis. Siapalah saya dapat menguantifikasi nilai satu amalan dengan amalan lain, itu hak prerogatif Tuhan.

Memiliki ibu yang gemar mendoakan kita pada sepertiga malam tidak serta-merta memberikan free access kepada kita menuju surga. Memiliki ibu yang selalu memberikan pengampunan setiap kali kita membuat salah tidak serta merta membuat surga itu terasa dekat.

Anggaplah kita sebagai anak yang berbakti. Lalu bagaimana dengan seorang Ibu yang memiliki anak durhaka, tidak hormat, dan gemar menyakiti? Apakah sang anak dapat terus percaya diri karena merasa telah memegang kunci surga lalu hidup semaunya? Apakah kebaikan hati seorang Ibu semurah itu? Ya ampun, jangan bercanda!

Jangan jadikan Ibu sebagai tameng yang akan menjustifikasi, melindungi, dan menyelamatkan setiap tindak tanduk anak yang buruk. Tugas seorang Ibu adalah untuk membesarkan seorang manusia seutuhnya yang mampu bertanggung jawab.

Surga di bawah telapak kaki Ibu bukanlah tiket. Surga bukanlah sesuatu yang given, tapi sesuatu yang harus diperjuangkan dengan penuh rasa tanggung jawab sebagai satu kedirian insan manusia. Ia bukan proyek yang dibagi-bagi melalui negosiasi seperti yang banyak dilakukan oleh politisi. Juga bukan sebuah kontraprestasi cuma-cuma pada lembaran MoU para pebisnis.

Tuhan tidak pernah menjatah surga bagi orang-orang tertentu: ber-Ibu atau tidak, kaya atau miskin, pribumi maupun asing. Surga adalah bagi siapapun yang mampu membuat Tuhan jatuh cinta padanya. Surga itu inklusif, bahkan untuk mereka yang terasing atau terbuang di dunia.

Sekali lagi, tidak ada surga di bawah kaki Ibu.