Kolumnis
1 bulan lalu · 36 view · 4 min baca menit baca · Lingkungan 56422_54656.jpg

Tidak Ada Sampah yang Tidak Bertuan

Pariwisata menjadi salah satu andalan devisa negara Indonesia. Negeri Zamrud Khatulistiwa ini menjadi salah satu destinasi wisata utama global. 

Objek wisata, baik tangible maupun intangible, lengkap dimiliki. Ribuan pulau memiliki berjuta keanekaragaman hayati dan panorama alam yang khas dan menawan. Ribuan suku dan adat yang ada juga memperkaya khasanah nusantara yang jarang dimiliki negara lain.

Selain modal kuat, seiring perkembangan zaman, sektor pariwisata juga memiliki tantangan dan permasalahan. Salah satunya dari aspek lingkungan, khususnya persampahan. Kebersihan tentu menjadi variabel penting kenyamanan wisatawan.   

Kertas dan plastik berpotensi menjadi sumber bencana sampah kontemporer. Pengelolaan yang buruk dapat menyebabkan penurunan wisatawan. 

Selanjutnya, wisatawan sendiri dengan segala dinamikanya menjadi produsen sampah itu sendiri. Lingkaran setan permasalahan pun terjadi. Konsekuensinya, perlu langkah komprehensif guna memutus lingkaran setan tersebut. Sampah mesti dikelola secara baik. Pariwisata ramah lingkungan juga mesti terus dikembangkan.

Pembelajaran Bali

Bali bak surga dunia, demikian testimoni mayoritas turis yang berkunjung di sana. Bahkan Bali lebih poluler dibanding negaranya, Indonesia. Banyak turis asing yang tidak mengetahui jika Bali adalah bagian dari Indonesia. Julukan Pulau Dewata pun melekat cukup lama pada provinsi berpenduduk 4,2 juta jiwa pada tahun 2018 itu. 

Statistisk pariwisata Bali menunjukkan bahwa setiap tahun wisatawan mancanegara yang berkunjung adalah 6.070.473 orang (Dinas Pariwisata Provinsi Bali, 2019). Adalah keelokan alam dan kekhasan budaya dalam kemasan jasa pariwisata yang menjadi daya tariknya.


Di tengah makin ketatnya kompetisi sektor pariwisata, Bali tetap eksis dan mampu mengikuti trend global. Meski harus diakui, semua itu dilalui dalam kondisi pasang surut. Kasus besar pernah melanda pariwisata Bali.

1 April 2011, Indonesia, khususnya insan pariwisata Bali, terhenyak dengan ulasan majalah TIME berjudul Holidays in Hell: Bali’s Ongoing Woes. Sang Penulis, Andrew Marshall, menyebutkan Bali bagian selatan kini penuh sampah, limbah industri, dan kemacetan lalu lintas yang akut. 

Pantai Kuta juga disebutkan telah tercemar bakteri dan plankton yang membusuk yang menyebabkan alergi. Atas fenomena inilah Bali dicap sebagai tempat berlibur yang seperti neraka.

Pantai Kuta adalah salah satu objek wisata di Bali Selatan yang menjadi barometer parwisata Bali pada umumnya. Belum dianggap ke Bali sebelum singgah ke Kuta, terutama di kala senja guna menikmati keindahan sunset. Tapi, saat itu kemasyhuran Kuta tercemari oleh Majalah TIME.

Terlalu hiperbolik memang tulisan itu. Tapi harus jujur diakui, ini adalah kritik atas fakta. Hikmah positif mesti diambil bahwa Bali adalah milik dunia dan reportase Marhall adalah bentuk kepedulian dunia. 

Pemerintah Bali kala itu secara terbuka juga mengakui kondisi Pantai Kuta yang berubah menjadi lautan sampah. Langkah darurat pun telah diambil dengan pembersihan secara intensif Pantai Kuta setiap pagi dengan alat-alat berat.

Langkah Komprehensif

Biang kerok rusaknya citra Pantai Kuta saat itu adalah sampah. Tanpa penanganan yang komprehensif, tidak mustahil kejadian ini akan terus terulang di waktu mendatang. Ini mengisyaratkan bahwa sampah telah menjadi ancaman serius dan dapat menjadi bom waktu bagi manajemen pariwisata Bali. 

Tidak salah, bahkan patut dipuji langkah cepat pemerintah dengan segera melakukan pembersihan besar-besaran. Tapi ini semua hanya cukup untuk tanggap darurat sesaat saja. Sebagai langkah mitigasi, tentu masih banyak yang harus dilakukan. Sampah adalah masalah klasik yang mestinya ditangani dari hulu hingga hilir.

Tidak ada sampah yang tidak bertuan. Sampah merupakan sisa aktivitas dari hampir semua aspek kehidupan, mulai dari individu, rumah tangga, masyarakat, pasar, industri, perkantoran, dan lainnya. 

Menangani sampah harus dimulai dengan menangani sumbernya. Satu hal mendasar yang perlu disadarkan secara psikologis kepada masyarakat bahwa sampah bukan sumber masalah bahkan sampah bisa menjadi sumber berkah. Dalam jangka panjang, mindset masyarakat perlu dibongkar dan digiring ke sana. 

Kasus Bali tentunya akan lebih mudah menggugah kesadaran masyarakat. Mayoritas masyarakat hidup dari jasa wisata dan tentu akan merasakan terganggu jika pariwisata lesu akibat ulah sampah. Inilah pintu masuk yang cukup efektif. Secara berkelanjutan, kampanye sadar mengelola sampah ini harus menjadi gerakan masif guna mendidik masyarakat, mulai dari anak-anak hinga lansia.

Kampanye pengelolaan sampah tentu tidak cukup dengan retorika dan wacana. Ia butuh pembuktian dengan gerakan nyata merealisasikannya. Sekarang pertanyaannya, mengelola sampah yang bagaimana? Bukannya selama ini mereka juga sudah membuang sampah?

Berkah Sampah

Menilik pada konsep pengelolaan sampah yang sudah terpayungi dalam UU No. 18 Tahun 2008 bahwa sampah mesti dikelola secara terpadu. Prinsip dasarnya, sampah dikelola dengan seminimal mungkin meninggalkan limbah atau disebut dengan zero waste management. Model yang dapat dilakukan adalah dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycling). 


Tidak boleh lagi dijumpai sampah yang menggunung di lahan bahkan pinggir jalan serta terbuang ke sungai. Sejak hulu dari lingkungan rumah harusnya sampah sudah mulai dipilahkan. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos yang menyuburkan. Sampah anorganik bisa dikreasikan menjadi barang atau souvenir yang bernilai rupiah. Inilah bukti keberkahan sampah bagi siapa yang bisa memanfaatkannya.

Di wilayah tengah, partisipasi masyarakat dan komunitas perlu diberdayakan. Jaringan pengelola sampah saatnya digencarkan dan dikuatkan. Bahkan komunitas pemulung perlu dihargai dan diwadahi, karena mereka sejatinya adalah pahlawan lingkungan tanpa tanda jasa. 

Dan di hilir, yaitu Tempat Pembuangan Akhir (TPA), harus dirancang dengan sistem integrated management, integrated treatment, dan clean development mechanism. Gas Metana sampah di TPA bahkan dapat dikonversikan menjadi sumber energi listrik. Di sini kembali membuktikan, semua lapisan dapat menikmati keberkahan sampah. Bali sebenarnya sudah memiliki sistem pengelolaan TPA yang cukup baik.

Sampah bisa dikelola lintas kabupaten/kota dengan TPA Regional. Isu wisata mestinya dapat menyatukan langkah lintas kabupaten/kota. 

Tragedi Kuta yang lalu kiranya dapat menjadi sumber hikmah bagi tempat lain. Sampah adalah ancaman serius. Tapi, jika mampu bijak mengelolanya, akan berubah menjadi potensi besar.

Artikel Terkait