Tidak pernah ada puisi yang biasa-biasa saja. Itu menurut saya.

Salah seorang teman pernah bertanya: 'Menurut Kak Din, puisi yang biasa itu seperti apa?'

Saya jawab: 'Bagi saya seluruh puisi pasti diciptakan dengan hati, pasti berdasarkan pemahaman diri, atau dari pengalaman orang lain yang cukup berarti. Tidak ada puisi yang biasa, sedang, atau istimewa. Semua puisi spesial dengan porsinya masing-masing'.

Begitu pula dengan puisi-puisi Mas Agus di buku ini. Saat membaca puisi di halaman pertamanya, saya langsung tahu bahwa kurang lebih seratus puisi ini pasti tentang diri penulisnya.

Puisi pertama ini berjudul 'Dusun Gamplong', dengan diksi yang sederhana puisinya terasa sangat syahdu. Saya jadi membayangkan suasana kehidupan di sana.

Saya coba kutip bait pertamanya:

menempuh jalan teduh di antara rumpun bambu
pandang mataku merabun biru.
kesunyian harmoni
bersama lenguh sapi, sehumus dengan dedaun rambutan
yang berserak di kebun pekarangan rumah.
sepanjang pagar hijau tanaman katuk dan bunga sepatu,
kugaris ingatan dari titik-titik air mataku
hingga alif-ba-ta masa kanakku di langgar sehabis ashar.
serupa jejak-jejak roda sepeda
di jalan becek sehabis hujan, ingatan hapus timbul

Cukup jelas menggambarkan apa yang ada di desa itu, kan? Tanpa banjir metafora, tanpa diksi-diksi bersayap. Bahkan yang sederhana bisa terbaca dan tervisualisasi dengan indah.

Puisi-puisi selanjutnya pun seperti itu. Ada yang menceritakan hubungan batin penulisnya dengan Tuhan, ada yang tentang perjalanan hidupnya sehari-hari. Saat pagi hari hendak berangkat mengajar (penulis adalah seorang guru), saat melamun ditemani kopi di malam hari, juga percakapan-percakapan dalam benak bersama dengan istrinya. 

Di beberapa tempat terbaca indah, manis, ada pula yang getir. Tapi tetap, tak ada yang biasa-biasa saja.

Yang cukup menarik perhatian saya adalah banyak juga puisi yang diberi nama seseorang di bawah judulnya. Saya menduga puisi yang seperti ini mungkin memang khususon ditujukan untuk orang tersebut atau bahkan ditulis berdasarkan pengalamannya. Contohnya puisi yang beliau tulis untuk seorang temannya.

Berjudul:

'Improvisasi Untuk Sisa Hujan ~bersama Endang Lystieati'

kita tadah sisa hujan dari daun-daun munggur
yang mengibar kesetiaan.
kegaiban merembesi taman hati;
tetes temetes mengantar jarum jam yang sekarat di tubuh kita

Ada lagi puisi 'Debu Ini Milikmu ~ Buat Suryadi - seorang petani di Lereng Merbabu'

dan kau terpaksa mengurai lagi kenangan,
menyambut hangat bara api perapian.
ada ternyata, yang bisa ditertawakan dari perih dan kekonyolan
masa silam.
lereng ini telah memilihmu
begitupun kau mencangkul ladang berdebu dengan riang,
untuk kemudian menabur benih-benih harapan.
menempuh musim; merawat kehidupan.

Sungguh sebuah persembahan yang indah bila kita bisa menjadi inspirasi seseorang untuk menuliskan sebuah puisi, kan? Sangat.

Lagi-lagi tak ada yang biasa-biasa saja di buku ini. Tapi dari keseluruhan puisi yang paling saya suka di buku ini ada di halaman 72.

CATATAN SENJA

~ Buat Dwicipta

Kesetiaanlah yang mengantarmu

pada meja dekat jendela. Sejenak, kau berpaling

pada awan, silir angin, dan pucuk cemara,

sebelum akhirnya kembali kau mengaji Sapardi, Goenawan, Mangun, dan Pram.

Kesetiaanlah yang membuatmu sanggup menertawakan diri sendiri, diwarnai dan mewarnai, sembari mengasah kata-kata

untuk mengiris dunia.  Atau setidaknya

Baca Juga: Muasal Puisi

secuil langit senja.

Seperti katamu, kesetiaanlah.

(2004)

Siapa pun si Dwicipta ini, saya ingin sekali ada di posisinya. Entah dibuatkan puisi atau menjadi sumber terciptanya puisi. Saya iri.

~~~

Kembali lagi seperti yang saya bahas di paragraf awal tulisan ini, tak pernah ada tahapan khusus dalam puisi. Puisi bukan digunakan untuk membedakan kelas dan strata penulisnya, melainkan sedalam apa penulisnya mampu menuangkan dan menuliskan apa yang mereka pikir, mereka rasa, apa yang dikecap oleh seluruh indera perasa mereka. 

Perihal nantinya puisi itu akan terlihat menjadi biasa saja atau tidak, kepekaan pembacanya lah yang dibutuhkan. Karena sebanyak dan seindah apapun metafora yang digunakan, bila tak bisa tertangkap oleh indera perasa si pembaca maka akan mustahil adanya.

Riwayat buku:

  • Judul: Seperti Malam-malam Februari
  • Penulis: Agus Manaji
  • Penerbit: Interlude, 2018