Jakarta - Memasuki semester "gasal atau ganjil" perkuliahan sudah dimulai, pada pertemuan pertama melakukan perkenalan melalui "Video Confrance - Daring" dari masing-masing mahasiswa/i dan dosen. Memperkenalkan nama, usia, tempat tinggal, status, tempat tinggal dan sharing kegiatan lainnya. Selain itu juga menjelaskan tata tertib atau aturan selama perkualiahan dan sistem penilaian terutama absensi, tugas individu, ujian tengah semester (UTS), ujian akhir semester (UAS), sikap dan perilaku mahasiswa lainnya.

"Ya" berhubung situasi masih terlihat pasif, lalu saya berinisiatif memberikan kalimat "tidak ada pertanyaan yang salah dan tidak ada jawaban yang bodoh" dengan tujuan untuk membangun dan mendorong cara berpikir mahasiswa biar lebih aktif baik dari berdiskusi terhadap informasi yang diberikan, bertanya terhadap hal yang belum dipahami dan menjawab apa yang sudah dimengerti terutama apa yang telah dibahas oleh dosen. Selanjutnya saya melontarkan kata "siapa yang aktif akan dipertimbangkan dalam penilaian" terhadap masing-masing individu mahasiswa yang merespon dan mau berdiskusi.
***
"Ehh…" selang waktu 10 menit baru suasana mencair dan semua situasi menjadi lebih aktif "sembari canda tawa serta bergurau hal yang positif" terutama yang berhubungan dengan mata kuliah yang akan disampaikan. Ini menjadi harapan semua dosen, pasti menginginkan semua mahasiswa "aktif, efektif dan produktif" walaupun pembelajaran dilakukan secara daring. Karena pada prinsipnya belajar online harus dinilai juga perilaku mahasiswanya tidak hanya mata kuliahnya saja, namun secara kepribadian menjadi pokok utama perubahan mindset untuk kehidupan di masa akan datang.

Makna kalimat diatas sebagai "motivasi dan doktrinisasi" untuk menggerakan kecerdasan otak kiri agar mampu berpikir kritis dalam mengalih potensi ilmu pengetahuan. Aktivitas di bangku belajar melalui online hanya teoritis sebagai pondasi rasa percaya diri dan mentalitas yang kuat. Sedangkan implementasinya tidak digunakan sesuai dengan fakta yang ada, namun pasti berbeda secara sudut pandang "orang lulus SMA dan orang yang melanjutkan belajar ke perguruan tinggi".

"Lantas" apa tujuan yang sebenarnya? Ini menjadi ulusan yang panjang namun demikian dalam waktu pembelajaran terutama masa pandemi covid-19, membutuhkan penyampaian materi yang detail dan mendalam, maksudnya adalah tidak hanya materi perkuliahan yang dibahas akan tetapi lebih kepada "study kasus dan sharing pengalaman dari mahasiswa dan dosen". Sehingga dijadikan bahan diskusi serta digabungkan dengan beberapa teori yang lebih kongkrit dari setiap kasus yang terjadi.

Merujuk pada konsep Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Bpk. Nadiem Anwar Makarim, untuk menciptakan "Kampus merdeka dan Merdeka belajar" yang sudah disosialisasikan sejak beberapa bulan lalu dan setelah beliau menjabat sebagai Menteri. Dalam analisanya mahasiswa yang dibimbing oleh dosen agar memberikan kebebasan belajar dengan kurikulum yang berbeda artinya harus banyak belajar diluar kelas "guna menggali dan mencari pengalaman-pengalaman baru" yang bisa digabungkan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengacu ke dunia pekerjaan.

Secara teori Merdeka Belajar - Kampus merdeka bertujuan "mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan yang berguna untuk memasuki duni kerja sedangkan kampus merdeka memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memilih mata kuliah yang akan diambil". Kebijakan ini tentunya menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan atas keefektifan yang dilakukan oleh pihak manajemen kampus, sehingga kajian prakteknya butuh peninjauan hal apa saja yang perlu diperbaruhi untuk dunia pendidikan terutama perguruan tinggi di masa akan datang.

Istilah "Kampus merdeka - Merdeka belajar" sebagai penghantar dan penghubung kondisi kegiatan belajar mengajar baik di luar kelas maupun di dalam kelas agar keterlibatan mahasiswa lebih fokus mencari pengalaman dan ilmu yang belum dimilikinya. Hal ini perlu "dukungan dan bimbingan dari seorang dosen" memberikan agar lebih terarah dalam melakukan pembelajaran dan yang paling penting evaluasi dan akhirnya seorang mahasiswa tersebut mempunyai bekal dalam mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah.

Namun, yang harus dipahami dari setiap "dosen bisa menilai mahasiswa secara objektif" karena karakter yang berbeda mempunyai gaya dan ciri khas masing-masing. Artinya kebiasaanya mahasiswa ada yang "pendiam tapi bukan berarti bodoh dan sebaliknya periang juga bukan berarti pintar" ada yang pandai bicara namun tidak pintar dalam pembelajaran, ada juga yang pintar menganalisaa namun dalam pembahasan materi tidak begitu pintar dan pada intinya pembahasan ini mengajak mahasiswa tetap aktif dan produktif selama kegiatan pembelajaran "baik tatap muka maupun secara online".

Dengan demikian "keaktifan mahasiswa tergantung strategi dosen" memberikan pemahaman selama pembelajaran berlangsung, memang sih membutuhkan kesabaran untuk menghadapinya. Selanjutnya bisa saja dilakukan "penilaian secara individu terhadap mahasiswa" untuk memikat agar mahasiswa tetap merasa diperhatikan, karena pada dasarnya dimanapun mahasiswa berada pasti menginginkan nilai yang memuaskan dan yang lucunya juga apapun alasannya pasti takut kalau disampaikan "mendapat nilai kurang bagus atau bisa saja mengulang" karena tidak mengikuti perkualihan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan kampus.
"Salam aktif dan tetap produktif".