Saya heran di setiap kali melakukan perjalanan. Ke mana pun dan memakai kendaraan apa pun, keheranan saya itu selalu muncul. Keheranan itu tampak nyata di pandangan mata saya. Penampakan-penampakan yang tidak bisa kita memungkirinya. Dan kemudian tidak mengakuinya.

Saya heran dan bersyukur pada maraknya proyek pembangunan. Di mana-mana, tidak peduli di kota, sebab di desa pembangunan juga dilaksanakan, baik proyek itu yang masih tahap memulai, tahap mengerjakan, hingga yang sudah selesai. Meskipun di setiap pengerjaannya menghasilkan debu-debu yang mengganggu orang-orang yang melintasinya.

Maka yang hadir di lensa mata kita dalam perjalanan itu adalah kendaraan-kendaraan besar pengangkut materiel pembangunan. Kendaraan berat pembongkar tanah. Kendaraan besar pengaduk semen. Tumpukan bahan bangunan. Serta banyaknya pekerja yang menjadi tenaga manual pada proyek-proyek pembangunan itu.

Di sini kita tidak usah membicarakan tol. Itu terlalu elite. Tol terlalu politis untuk dibahas di sini. Kita membicarakan saja jalanan antarkabupaten yang sering kita kenal sebagai jalan provinsi. Juga pembangunan di kota dan desa-desa.

Jalanan provinsi itu juga mengalami banyak perubahan. Ketebalannya ditambah. Lebarnya juga ditambah beberapa meter. Di pinggir kanan kirinya dipasang beton, supaya aspal di tengahnya tidak pecah. 

Ada juga yang dipasang gorong-gorong sebagai saluran air jika terjadi hujan. Itu juga untuk menanggulangi bangunan-bangunan milik masyarakat yang berdekatan dengan jalan raya agar tidak kebanjiran.

Banyak proyek jalan raya itu yang sudah selesai. Hasil dan manfaatnya jelas. Perubahan yang menjadi tujuannya juga jelas: perjalanan orang-orang yang melintasinya lebih lancar dan lebih cepat sampai ke tujuan. Sebab kendaraan-kendaraan tidak perlu lagi berdesakan.

Kita tengok di tempat yang lain. Sekarang ini di desa-desa, gang-gang kecil yang menjadi jalanan utamanya sudah banyak yang diaspal. Menutupi jalanan bebatuan yang dikenal dengan istilah makadam. Dulu oleh kakek-nenek kita, jalanan makadam sangat dibanggakannya. Tapi kini peradaban makadam itu sudah terkubur. Diganti peradaban aspal.

Bahkan tidak sedikit di kampung-kampung, gang-gang kecil itu dibeton. Desa atau kampung pun terasa lebih mewah. Sebab pembuatan beton pasti membutuhkan biaya yang lebih besar dibanding aspal. Beton pun menjadi kebanggaan, mengalahkan jalanan di gang-gang perkotaan.

Perubahan itu ternyata tidak saja terjadi di jalanan. Di pematang kali di desa-desa, kini pun mengalami perubahan pula. Di pematang kali sudah banyak yang dipasang fondasi batu dan semen. Sehingga bisa menahan kekuatan air hingga puluhan tahun yang akan datang. Setiap sore banyak orang yang duduk di atasnya. Mereka mancing di kali itu dengan santainya.

Jalanan yang berubah, kali yang sudah dibangun penahan, pembukaan jalan-jalan baru, juga akses internet yang lancar, serta peluang banyak orang bisa berjualan melalui media sosial, menunjukkan satu semangat baru. Bahwa sebenarnya kehidupan kita, sebagai generasi sekarang, jelas lebih nikmat dibanding orang tua dan kakek-nenek kita.

Hidup kita sekarang pasti lebih gampang. Lebih sejahtera. Karena faktor yang menggampangkan kita menuju hidup yang sejahtera itu sudah ada. Meskipun dalam proyeksi para sosiolog, anak turun kita yang disebut sebagai generasi Z akan berhadapan dengan kesulitan-kesulitan yang menakutkan. Salah satunya kesulitan memperoleh properti murah.

Dampak perubahan dari pembangunan yang kita rasakan ini pasti berjangka panjang. Kita yang hidup di tahun-tahun ini bukanlah pengecap utama kenikmatan hasil pembangunan tersebut. Sebab anak turun kita di masa yang akan datang akan pula menikmatinya. Ini nikmat yang bervisi masa depan.

Mereka lahir, tumbuh dewasa, bersekolah dan bekerja, tidak akan menemui kesulitan hidup yang berarti. Maka menurut perhitungan, kemajuan generasi akan mungkin terjadi dengan lebih mudah. Mereka tak perlu memikirkan pelebaran jalan. Tak perlu gundah pada sungai yang meluap. Tak perlu pusing pada kesulitan bekerja dan berkarya. Semua sudah digampangkan, pada saat sekarang ini.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mereka menggunakan ini semua, dengan semangat menjaga budaya luhur kita? Artinya, dengan disediakannya kemudahan ini, sewajarnya kebudayaan masyarakat akan makin maju. Prestasi bertambah. Orang hebat bisa terlahir lebih banyak. Kehidupan yang rukun dan damai pun semestinya tidak sulit diwujudkan.

Maka pertanyaannya, untuk apalagi kita terus berseteru pada hari-hari ini? Untuk apa kita saling berdebat tanpa henti, saling mengolok, saling membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain? Untuk apa kita masih dikuasai situasi kompetisi politik yang sebenarnya sudah selesai? Apakah kita tidak pandai mensyukuri semua ini?