Setiap kali aksi mahasiswa, diksi "kapitalisme" maupun ditambah awalan "neo" kerap kita dengar. Ideologi ini dianggap biang kerok kesenjangan ekonomi yang melahirkan 'raksasa' ekonomi. Pada saat yang sama, kapitalisme dianggap bertanggung jawab atas kemiskinan di negara kita.

Benarkah pendapat itu? Benarkah kapitalisme biang kehancuran ekonomi kita?

Saya tidak menyalahkan pendapat itu, namun ada baiknya kita bongkar lagi apa dan bagaimana 'makhluk' bernama kapitalisme ini. Mengapa ia begitu dibenci, terutama oleh para penganut sosialis bahkan oleh sebahagian umat Islam.

Membahas kapitalisme tak lengkap rasanya bila tak mengajak Adam Smith di meja kopi kita. Sebagai 'nabi' kapitalisme, kiranya pemikirannya perlu kembali diperdebatkan. 

Dalam bukunya The Wealth Of Nations, filsuf asal Skotlandia itu berhasil mengunggah pemikirannya dengan cerdas. Pemikirannya itu di kemudian hari sering disalahpahami. Salah satunya, praktik monopoli dalam ekonomi. 

Substansi kapitalisme pada dasarnya ialah kompetisi secara sehat. Setiap individu dan organisasi, termasuk negara, berhak mendapatkan apa yang diinginkan tanpa merugikan hak orang lain.

Adam Smith menekankan pentingnya ekspor dan mengurangi impor demi bertambahnya kekayaan negara. Ia juga menilai simbiosis mutualisme sebagai keharusan universal. Tidak boleh hanya menguntungkan salah satu pihak saja.

Kapitalisme mengusung ide kebebasan individu dalam bidang ekonomi tanpa meninggalkan toleransi. Terlahirlah sikap libertarian, yang menjunjung tinggi nilai kebebasan individual diikuti tanggung jawab sosial. Kebebasan sipil yang diperjuangkan demokrasi merupakan spirit kapitalisme. 

Melalui semangat kompetisi, dengan sendirinya akan berusaha meng-upgrade kapasitas dirinya. Sama halnya ketika Darwin memperkenalkan teori evolusi, di mana seleksi ketat menghasilkan yang terbaik.

Platform ekonomi kita yang cenderung sosialis menjadikan negara sebagai fokus utama. Bagi kapitalisme, mayoritas belum tentu benar, termasuk negara. Sehingga prinsip ekonomi Indonesia selama ini telah salah.

Ekonomi kita cenderung menghindari kompetisi individual. Akibatnya, sulit melahirkan pengusaha-pengusaha baru. Kerap kali investor dihambat regulasi yang didasari kepentingan politik.

Regulasi yang kontraproduktif harus disingkirkan, apalagi menghambat iklim investasi maupun melahirkan pengusaha baru. Hal itu dikatakan Eamonn Butler (2018) dalam bukunya An Introduction to Capitalism.

Kapitalisme juga menentang upah pekerja yang serendah-rendahnya. Menurut Smith, upah dan kondisi kerja yang baik akan meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan. Di sinilah simbiosis mutualisme tercipta antara pekerja dan pemodal.

Prinsip ini jelas membantah propaganda yang selama ini mengatakan bahwa kapitalisme mencekik pekerja. Nilai sebuah upah tergantung dari daya beli pekerja. Tampak kapitalisme peduli dengan keinginan dan kebutuhan pekerja. 

Jika Anda kemudian menemukan upah pekerja yang rendah sehingga diikuti daya beli rendah, itu bukanlah praktik yang sesuai dengan spirit kapitalisme. Bahkan kapitalisme menganggap pekerja memiliki peran strategis. 

Bagi kapitalisme, pekerja merupakan mitra dalam upaya meningkatkan produktivitas. Namun penting penyamaan upah sehingga pekerja tidak memilih perusahaan lain. Tidak terlalu tinggi dan terlalu rendah untuk jenis pekerjaan yang sama.

Dalam hal keadilan dan supremasi hukum, kapitalisme menganggap penting dilakukan guna melindungi kepemilikan pribadi. Negara harus menjamin setiap individu dapat memperoleh kekayaan. 

Lalu apa yang terjadi dengan ekonomi kita? Ketakutan akan kapitalisme, prasangka negatif, telah melemahkan daya kompetisi. Terlahirlah oligarki ekonomi yang memanfaatkan kekuasaan politik. Efeknya, pengusaha kecil menengah sulit bersaing.

Sebagaimana saya uraikan di atas, kompetisi itu harus sehat. Tidak melibatkan kekuasaan politik. Kapitalisme memandang kompetisi sebagai upaya peningkatan kualitas diri. Tanpa kompetisi, kita akan malas meningkatkan kualitas diri.

Indonesia menerapkan ekonomi kapitalisme setengah hati. Ikut dalam pasar global, namun tidak menciptakan iklim kompetisi di dalam negeri. Oligarki dan monopoli ekonomi yang melibatkan penguasa begitu terang benderang terjadi.

Karenanya, Jokowi harus berkomitmen menciptakan iklim kompetisi yang sehat. Harus memastikan hukum dan keadilan berjalan. Menjamin kebebasan hak individu dan melindungi properti individu. 

Harus diingat pula bahwa kapitalisme sangat menghargai perbedaan. Sehingga muncul sikap saling menghargai dan toleransi. Kapitalisme sangat menghargai bakat, hasil karya, dan kreativitas. Penghargaan itu tanpa kecuali, dari agama, suku, etnis apa pun.

Dalam kapitalisme, Anda tidak perlu takut menjad minoritas. Karena kedudukan Anda sama dengan lain. Hasil kerja Anda tetap dihargai meski dari kelompok minoritas. Entah itu minoritas secara identitas maupun entitas.

Kesukuan dan agama tidak boleh menghalangi seseorang untuk meraih posisi apa pun sesuai dengan kerjanya. Isu SARA sangat bertentangan dengan prinsip kapitalisme. Seseorang dinilai berdasarkan prestasinya, bukan agama dan kesukuan.

Bahkan kapitalisme sejalan dengan spirit Pancasila. Sebut saja sila kedua yang menghendaki kemanusiaan yang adil dan beradab, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Kapitalisme menjelma ke dalam dua sila ini. Kapitalisme pada prinsipnya menentang perbudakan. Sebagaimana yang dilakukan salah satu tokohnya, Henry David Thoreau, ia protes terhadap agresi yang dilakukan negaranya (Amerika Serikat) terhadap Meksiko.

Baginya, segala bentuk kekerasan dan perbudakan merupakan tindakan yang tidak manusiawi dan beradab. Apa yang dilakukannya kemudian menginspirasi tokoh-tokoh perjuangan kemanusiaan seperti Gandhi, Martin Lhuter King Jr, dan puluhan aktivis lainnya.

Dalam essainya Resistance to Civil Government, ia mengatakan bahwa hukum dan aturan yang dibuat sebuah negara belum tentu selalu memuat nilai-nilai keadilan. Meski aturan atau hukum itu dibuat negara yang oleh negara demokrasi, apalagi di negara diktator.

Karenanya, ia menyuarakan setiap individu untuk bertindak berdasarkan pada hati nuraninya. Wajib melawan pemerintahan yang tirani, yang mengabaikan keadilan dan kemanusiaan yang beradab.

Tidak ada negara yang adil kecuali institusinya mengakui bahwa individu merupakan entitas yang independen, harus dihormati dengan nilai-nilai kemanusiaan tanpa kecuali.

Pada dasarnya, kapitalisme sangatlah menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan mencari keadilan bagi tiap individu. Tidak ada eksploitasi manusia terutama pekerja. Kalaupun hal itu terjadi di negara kapitalis, berarti telah terjadi pelanggaran prinsip kapitalisme.

Nah, sekarang, silakan Anda putuskan sendiri. Pantaskah kapitalisme kita cemooh dan kita nistakan? Pantaskah kita singkirkan kapitalisme dalam kehidupan bernegara? Silakan berkompromi dengan hati nurani Anda.