Buku tersebut menyuguhkan percakapan mendalam antara seorang pemuda putus asa yang penasaran tentang pandangan seorang filsuf bijak yang  menganggap dunia sederhana dan kebahagiaan didalamnya dapat diraih oleh semua orang. 

Bagi saya, ini bukan sebuah dialog filsafat yang percakapannya kadang terkesan abstrak, tapi justru didalamnya banyak contoh konkrit yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada beberapa bagian yang menjadi pokok bahasan, dalam upaya filsuf memberi pemahaman tentang hidup sederhana dan mencapai kebahagiaan, yaitu:

1. Teleologi

2. Gaya hidup

3. Hubungan Interpersonal

Teleologi, sebuah prinsip dasar

Bagian ini cukup menarik, dan menjadi dasar bagi 2 poin selanjutnya. 

Kita sering mendengar atau bahkan mengatakan bahwa kondisi kita atau siapapun pada saat ini dipengaruhi oleh masa lalu. Itulah yang dinamakan hubungan sebab-akibat atau dalam teori Psikologi Freud diistilahkan dengan "Aetiologi". 

Bagi Adler, jika kita berfokus hanya pada sebab-sebab di masa lalu dan mencoba menjelaskan berbagai hal semata-mata melalui hubungan sebab akibat, akhirnya kita akan tiba pada sebuah kondisi “determinisme”.

Artinya semisal, gagasan tentang luka batin seseorang (trauma) adalah penyebab dari ketidakbahagiaannya saat ini atau jika saya tambahkan, ketidakbahagiaannya saat ini akan menyebabkan ketidakbahagiaannya dimasa depan. Menurut Adler hal itu akan menciptakan hambatan yang cukup kuat bagi kita saat ini dan kedepannya. 

Jelas Adler menyangkal adanya Trauma, dengan argumennya bahwa tidak ada pengalaman yang dengan sendirinya menyebabkan keberhasilan atau kegagalan (jika saya tambahkan, kesenangan atau kesedihan) kita. 

Kita tidak menderita syok akibat pengalaman kita (ini yang dinamakan trauma) namun  sebaliknya, kita yang mengartikannya sesuai dengan tujuan kita. 

Kita tidak ditentukan pengalaman, namun arti yang kita berikan pada pengalaman-pengalaman itulah yang menentukan kita. 

Jika konsep ini masih menyisakan tanda tanya, Filsuf tersebut memberi contoh seperti ini:

Seorang Ibu dan anak perempuan nya terlibat pertengkaran dengan suara nyaring, lalu tiba-tiba suara telepon berdering dan Ibu nya mengangkat. 

"Hallo"

Ibunya yang masih kental dengan aura kemarahan, mendengar bahwa itu suara Wali Kelas putrinya. Segera setelah menyadari, nada suara ibunya berubah menjadi sangat sopan. 

Setelah telepon berakhir dan si Ibu menutupnya, ekspresinya berubah dan kembali berteriak pada putrinya. 

Dalam kasus itu, amarah adalah alat yang bisa dikeluarkan saat diperlukan. Amarah bisa dikesampingkan ketika telepon berbunyi, dan dikeluarkan lagi setelah seseorang menutup telepon. 

Sang ibu tidak berteriak dengan amarah yang tidak dapat dikendalikan. Dia hanya mengeluarkan amarah dengan suara nyaring untuk menaklukan putrinya, dan dengan demikian akan menegaskan pendapatnya. 

Hal ini adalah yang dimaksud dengan teleologi, bahwa kita tidak dikendalikan oleh sesuatu tetapi sesuatu lah yang kita kendalikan sesuai dengan tujuan kita. 

Dalam hal ini, meskipun menunjukan bahwa "manusia tidak dikendalikan oleh emosi", itu juga dapat mengartikan "Kita tidak dikendalikan oleh masa lalu".

Gaya Hidup Sebagai Kecenderungan Berfikir dan Bertindak

Pada bagian ini, si Pemuda menyatakan bahwa watak dan keperibadian tidak dapat diubah. 

Didalam Psikologi Adler, filsuf menggambarkan watak dan kepribadian dengan kata "gaya hidup".

Gaya hidup adalah kecenderungan berfikir atau bertindak di dalam kehidupan. Bagaimana seseorang melihat dunia  dan melihat dirinya sendiri. 

Menurut Adler, kepribadian memiliki nuansa makna yang terkesan tidak dapat diubah. Tetapi jika istilahnya menjadi pandangan, maka lebih terkesan bisa bisa diubah. 

Apa maksudnya? 

Semisal, katakanlah ada seseorang yang mencemaskan dirinya sendiri. Dan mengatakan bahwa "aku seorang pesimis".

Dengan menggunakan kalimat berbeda, bisa dikatakan kembali "aku memiliki pandangan yang pesimistis akan dunia"

Ketika istilah itu diganti pandangan, maka terlihat bahwa seseorang  memiliki kuasa untuk merubah kepribadiannya, karena itu adalah sekedar pandangan yang sebetulnya dia pilih sesuai kehendaknya sendiri.

Bagi Adler, manusia bisa terus-menerus memilih gaya hidup mereka. Ini artinya, manusia berubah sewaktu-waktu, bahkan tanpa harus memandang lingkungannya. 

Manusia tidak bisa berubah karena dia sendirilah yang mengambil keputusan untuk tidak berubah. Dia tidak berani untuk berubah. 

Yaa, pada dasarnya kita takut berubah, dan tidak mengambil gaya hidup yang membuat kita bahagia dengan alasan tidak kuasa karena lingkungan yang tidak mendukung. 

Padahal kenyataannya kita tidak berubah karena takut bahwa perubahannya akan mengecewakan lingkungannya. Dan akhirnya kita memilih untuk tidak berubah. 

Jadi, keputusan untuk tidak berubah merupakan pilihan kita sendiri. 

Semisal dalam contoh yang diberikan filsuf, ada seseorang teman yang bercita-cita menjadi novelis, tapi dia kelihatannya tidak pernah bisa menyelesaikan karyanya. Menurutnya pekerjaan membuatnya kelewat sibuk sehingga tidak pernah menemukan waktu yang cukup untuk menyelesaikan  novel dan mengikutkan nya dalam kontes menulis. 

Tapi apakah itu alasan yang sesungguhnya? Dalam hal ini, filsuf bilang "Tidak!".

Temannya ingin menyisakan kemungkinan "Aku bisa kalau aku mau". Sebenarnya dia tidak ingin karyanya dikritik dan tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa mungkin dia menghasilkan karya tulis yang inferior dan mendapat penolakan. 

Jadi, dia hanya ingin hidup dalam kemungkinan tersebut, dimana dia bisa mengatakan bahwa dia bisa menulis kalau saja dia punya waktu dan jika saja lingkungan nya mendukung dan dia benar-benar memiliki bakat menulis. 

Dalam 5 atau 10 tahun kedepan, dia mungkin akan menggunakan alasan  seperti "aku sudah tidak muda lagi" atau "sekarang aku punya keluarga yang harus dipikirkan".

Kondisi ini disebabkan karena kita cenderung membiarkan keadaan apa adanya, meneruskan hidup yang saat ini karena dianggap praktis. Sementara merubah gaya hidup hanya menyisakan ketidaknyamanan. 

Hubungan Interpersonal

Dikatakan bahwa segala persoalan adalah tentang hubungan interpersonal. Seseorang bisa bahagia ataupun sebaliknya karena hubungan interpersonal. 

Kalau saja hubungan interpersonal menghilang  dari dunia ini,  dengan kata lain manusia hidup  sendiri dialam semesta ini maka segala persoalan akan menghilang. 

Tentu hal itu tidak mungkin, bukan? 

Perhatikan, ini adalah intisari dari teori Psikologi Adler, yang dididalamnya terdapat komplek inferior dan kompleks superior. 

Perasaan inferior adalah ketika seseorang merasa tidak berharga dan nilai dirinya hanya sebatas itu. 

Semisal kita adalah orang yang tinggi 155 cm, yang mana hal itu merupakan angka yang rendah dari tinggi badan rata-rata. Itu adalah angka dan rata-rata yang objektif. Bisa saja kita merasa inferior karna hal itu, bukan? 

Tetapi persoalannya adalah bagaimana kita memaknai tinggi badan  itu dan nilai apa yang kita berikan. 

Pada akhirnya perasaan minder yang timbul bukanlah dari aspek objektif nya, akan tetapi subjektif kita. 

Sang filsuf yang ukurannya setinggi itu, mengatakan bahwa dalam sudut pandang teman nya, mereka mengaggap sang filsuf membuat orang-orang rileks dan tidak mengintimidasi. 

Hal itu tentunya ukuran subjektif, dan ada sesuatu yang baik tentang subjektivitas yang dapat kita pilih sendiri, apakah itu yang menguntungkan kita atau sebaliknya. Itu adalah kuasa kita untuk menentukan. 

Dalam hal kompleks inferior, itu terjadi ketika kita merasa inferior lalu menjadikan alasan itu sebagai sebab kita tidak berubah atau merasa rendah. 

Semisal, "saya orang yang tidak berpendidikan tinggi, jadi aku tidak bisa sukses, jadi aku tidak bisa mapan, jadi aku tidak bisa menikah". 

Ketika kompleks inferior ini semakin mendalam, maka akan menghasilkan masalah baru yakni, kompleks superior. 

Terdengar saling kontradiksi, tetapi sebetulnya saling berkaitan. 

Kompleks superior adalah ketika seseorang menderita kompleks inferior yang kuat, ditambah lagi dia tidak punya keberanian untuk menebusnya melalui model kerja keras dan pertumbuhan yang sehat. 

Dititik itu, dia menebusnya melalui jalan keluar yang instan dengan bersikap seolah-olah dirinya superior dan menikmati perasaan superior yang semu itu. 

Semisal orang yang tidak berpendidikan tinggi tadi, merasa dirinya tidak memiliki peluang untuk mapan apalagi menikah. Dari kompleks inferior tersebut dia menutupi kesengsaraan nya dengan seolah-olah bahagia hidup seperti itu dengan mengatasnamakan kesederhanaan. 

Padahal dirinya lah yang memutuskan untuk menyerah dan tidak melakukan apa-apa hanya karena dirinya membandingkan dengan orang sekitarnya yang berpendidikan tinggi dan menganggap hal itu mempengaruhi peluangnya untuk maju. 

Bentuk-bentuk kekhawatiran tersebut bukanlah murni berasal dari diri sendiri, tetapi selalu ada bayang-bayang hubungan interpersonal. 

Inilah yang disebut bahwa segala persoalan itu bersumber dari hubungan interpersonal. Kekhawatiran yang kita rasakan itu akibat keinginan kita untuk diakui lingkungan sosial dengan mengikutimenganggap orang disekitar kita sebagai lawan dari sebuah persaingan. 

Dalam hal ini, Adler menawarkan konsep yang terasa seperti metode untuk berdamai dengan diri sendiri. Misalnya, hidup bukanlah persaingan dan semua dalam hubungan interpersonal adalah teman kita, manusia tidak harus terbelenggu dengan perasaan untuk diakui, Jangan hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain, dan mengakui kesalahan bukan berarti kalah. 

Teman-teman, mungkin hal itu terasa hambar ketika kita melihat realitas. Misalnya dalam dunia kerja, kerap terjadi sikut-sikutan antar karyawan yang jika kita tidak ikut bersaing maka akan tersingkir dan tersungkur. 

Atau dalam kondisi ketika kita baik dengan orang lain, tetapi justru kita dimanfaatkan mereka. 

Adler menjawab hal ini dengan konsep "Pembagian tugas".

Ketika kita berbuat baik kepada orang lain, maka itu adalah tugas kita untuk bersikap seperti itu. Jika kemudian orang tersebut tidak memiliki sikap yang sama seperti yang kita lakukan, maka itu tugas mereka. 

Ketika kita melakukan suatu perubahan yang tidak disukai oleh orang lain, maka sikap yang orang lain berikan kepada kita merupakan tugasnya. 

Sedangkan tugas kita hanyalah tetap melakukan perubahan sesuai dengan pilihan kita. 

itulah sedikit pemahaman saya tentang Psikologi Adler dan saya cukup berbangga bisa sampai pada akhir tulisan ini. Pada dasarnya setiap poin yang saya sampaikan hanyalah sebagian kecil dari diskusi yang sangat mendalam yang dilakukan kedua tokoh tersebut. 

Psikologi Adler sangat menarik untuk diperdalam walaupun tentunya sangat rumit juga. Konon, seseorang butuh setengah dari usianya untuk bisa benar-benar memahami Teori Psikologi Adler ini. 

Umur saya saat ini 20 tahun, maka setidaknya butuh  10 tahun untuk bisa benar-benar memahami dan menerapkan teori ini dengan sepenuhnya.

Saya ucapkan Terima kasih kepada birokratmenulis.org yang dengan review nya saya bisa melihat gambaran singkat untuk menjadi pengingat pokok bahasan didalam buku setebal 344 Halaman tersebut. 

Saya akan sangat senang jika tulisan ini menghasilkan perdiskusian di kolom komentar, atau mungkin bermunculan tulisan-tulisan dalam Qureta yang turut merespons pemahaman saya ini. 

Sekian, Terima Kasih