Di zaman modern saat ini, gaya hidup bagi remaja bagaikan sebuah tuntutan kewajiban. Apalagi untuk kalangan mahasiswa yang ingin tampil keren, lantas bagaimana cara untuk memenuhi gaya hidup mereka?

Gaya hidup biasa disebut lifestyle. Gaya hidup adalah refleksi atau cerminan diri dari seseorang yang ingin memunculkan identitasnya. Salah satu tuntutan gaya hidup adalah cara berpakaian. Gaya berpakaian bisa mencerminkan kualitas diri, apalagi pakaian dengan merek ternama. 

Bagi remaja zaman sekarang, pakaian menjadi bagian dari fashion untuk kehidupan sehari-hari. Fashion di kalangan remaja sangat merebak. Mulai tampil trendi hingga ingin terlihat seperti idolanya. 

Banyaknya brand luar negeri yang bermunculan, pastinya membuat para kalangan remaja kalap mata. Mereka akan terus-menerus mengikuti perkembangan fashion hingga mereka tidak sadar bahwa mereka memiliki perilaku konsumtif. 

Dari perilaku konsumtif banyak menimbulkan kerugian selain pada diri sendiri, juga membawa dampak pada lingkungan. Selain membuang uang, perilaku ini juga akan membuat tumpukan limbah pakaian yang tidak terpakai.

Menurut kalangan remaja, tingkat sosial dari mereka dapat dilihat dari gaya berpakaian. Remaja yang mampu membeli barang-barang mewah atau bermerk termasuk masyarakat golongan atas. Sedangkan untuk masyarakat golongan bawah adalah remaja yang membeli pakaian murah dan bukan dari merk ternama.

Pakaian bermerek memiliki daya jual yang tinggi sehingga remaja golongan bawah tidak mampu untuk membelinya. Lantas, bagaimana “masyarakat rendah” membeli pakaian bermerek untuk memenuhi life stylenya?

Nah, untuk memenuhi tuntutan gaya hidupnya, mereka suka membeli pakaian bekas bermerek di pasar yang menjual pakaian bekas. Pakaian bekas yang dijual biasanya impor dari luar negeri.  

Jual beli barang bekas biasa disebut dengan thrift. Lalu, apakah dengan thrift membantu memperbaiki fashion remaja?

Thrift biasanya berisi pakaian-pakaian dengan kualitas terbaik meskipun barang bekas. Membeli barang bekas sebenarnya sudah tidak asing bagi kalangan remaja, karena fenomena ini sudah lama di Indonesia. 

Thrift zaman sekarang sudah menjadi solusi untuk bergaya hidup. Terutama untuk para kalangan remaja yang ingin tampil keren tetapi, dengan catatan pengeluaran yang rendah.

Barang yang dijual di pasar ini berupa baju, celana, rok, jaket, dress, kemeja, separu, bahkan tas. Didukung dengan kemajuan teknologi yang berkembang pesat, thrift sudah memasuki media sosial bahkan sampai e-commerce.

Meskipun demikian, thrift shop yang memasuki media sosial maupun e-commerce memiliki harga jual yang lebih tinggi daripada toko offline. Karena barang yang diperdagangkan sudah dicuci, dipilih kualitas terbaik, dan ada ongkos kirim yang bisa dibilang mahal.

Barang bekas ini biasanya diimpor dari Amerika, China, Jepang, Korea dan negara-negara lainya. Karena dari negara-negara tersebut, harga barang asli lebih terjangkau dan banyak yang bermerek.

Menurut Gulfira (2016), jenis-jenis toko barang bekas yaitu:

Pertama, Thrift Shop. Toko ini  khusus menjual pakaian yang kebanyakan sudah pernah dipakai dan merek dari luar negeri.

Kedua, Garage Sale. Toko pakaian ini menjual barang sisa produksi, barang yang terkena reject atau tidak laku.  Barang-barang tersebut dijual dengan harga miring.

Ketiga, Vintage Shop. Barang yang dijual di toko jenis ini adalah barang jadul atau barang lama yang memiliki keunikan dan tentu saja berbeda dengan barang pada umumnya.

Keempat, Second-hand Stuff Shop. Toko jenis ini menjual barang bekas milik pribadi.

Kelima, Car Boot Sale. Sama seperti thrift shop namun yang membedakan hanya tempat penjualannya. Sesuai namanya, toko ini menjual barang bekas menggunakan mobil pribadi.

Keenam, Charity Shop. Charity  adalah gerakan dari para komunitas untuk menjual barang dari donatur. Uang yang dihasilkan dari penjualan barang digunakan untuk kegiatan sosial.

Ketujuh, Flea Market. Toko jenis ini memiliki konsepnya penjualan yang sama dengan car boot sale, namun lebih besar skalanya.

Ada tips dan trik untuk pemula yang ingin melakukan thrift shopping:

Yang pertama kalian harus tahu tempat toko atau pasar yang menjual barang bekas yang murah. Hindari dari toko yang sudah popular karena biasanya harga akan lebih mahal.

kedua, saat membeli gunakan pakaian yang sederhana. Mengapa? Jika kita menggunakan pakaian yang mewah saat membeli pakaian bekas, maka pedagang bisa menaikan harga pakaian tersebut. Yang harganya semula ramah dikantong, berubah menguras kantong. 

Ketiga, kalian juga harus berhati-hati dalam memilih barang yang ingin dipakai, dengan begitu kita tidak merasa tertipu karena kekurangan barang yang sudah diketahui.

Dan hal yang paling penting, jangan lupa menawar sesuai dengan kualitas barangnya dan jangan mudah dipengaruhi oleh penjual.

Pakaian sangat berpengaruh bagi remaja untuk tingkat kepercayaan diri seseorang. Ketika memakai pakaian yang nyaman akan membuat orang lebih percaya diri.

Thrift shopping menjadi solusi untuk remaja yang berpenampilan mengikuti trend. Thrift shopping adalah sebuah metode dalam berbelanja yang bertujuan untuk penghematan dan biaya yang dikeluarkan untuk belanja pun keluar seminimal mungkin. 

Dengan adanya thrift, para remaja akan menghemat dan menyesuaikan budget pengeluaran untuk memenuhi gaya hidupnya. Selain itu dapat mengurangi tumpukan sampah yang ada dan mengurangi limbah proses produksi pakaian.