KAMPUNG yang kini ditinggali Pak Rahim sejak pindah dari Ibukota adalah kampung kecil yang sederhana. Itu sebabnya, ia senang tinggal di situ, mendiami sebuah rumah kecil sederhana, berkebun-kebun dengan isterinya di belakang rumah. Semua warga kampung memang menerima kehadiran mereka dengan lapang hati sejak awal kepindahan mereka beberapa tahun yang lalu, menganggap sebagai orang yang senasib, masyarakat yang sederhana. Tak ada yang hirau masa lalu Pak Rahim. Barangkali juga karena sosoknya yang biasa saja, tak mengandung misteri yang mendatangkan penasaran.

Sejak menjadi warga, Pak Rahim rajin berpartisipasi dalam berbagai kegiatan masyarakat kampung. Mulai dari kegiatan gotong-royong, bersih-bersih masjid, sampai penyelenggaraan jenazah apabila ada yang meninggal.

Di kampung itu, bulan Ramadan biasanya disambut gembira, apalagi saat lebaran semakin dekat. Namun sejak pagebluk Covid-19 melanda, semua jadi lain. Banyak yang kelihatan hilang semangat. Tentu karena sangat menurunnya pendapatan masyarakat sebagai imbas pandemi yang tak jelas kapan berakhirnya.

Hasil-hasil tani kurang laku, karena menurunnya daya beli. Sedangkan yang buruh banyak pula yang kehilangan pekerjaan atau dirumahkan sementara. Boro-boro soal mudik yang memang sudah dilarang Pemerintah, untuk menyenang-nyenangkan anak isteri di rumah saja sudah kesulitan.

Jadi, tak heran kalau banyak warga yang bermimpi berharap-harap ada keajaiban yang terjadi, misalnya, mendapat santunan THR, terserah dari mana, agar suasana lebaran dapat disambut keluarga dengan hati gembira.

Tentu, harapan demikian hanyalah mimpi kosong. Siapa pula yang akan mau ujug-ujug memberikan THR tanpa alasan jelas seperti itu. Perusahaan besar saja banyak yang mencoba mangkir. Kalaupun tetap membayarkan THR, besarannya menurun drastis dari tahun-tahun normal dulu. Lalu, bagaimana pula bisa berharap mendapat THR kalau bukan pegawai. Sumbernya dari mana?

Itulah sebabnya, warga tercengang tak habis percaya ketika begitu Tarawih selesai, Ustaz Hamid, imam mereka, langsung mengambil mikropon mengucap salam, lalu menyampaikan sebuah pengumuman penting.

“Bapak Ibu jamaah yang dimuliakan Allah, alhamdulillah wa syukurillah, saya ingin menyampaikan sebuah kabar gembira bahwa di tahun ini kampung kita mendapat berkah, karena ada dermawan yang berniat membagi-bagikan THR bagi warga kita yang membutuhkan. Takbir....!”  

Demikian berita besar itu, lugas diucapkan, menyasar tepat kepada inti mimpi masyarakat. Banyak yang sempat ternganga, seakan hampir lepas rahang bawahnya. Sementara yang lain spontan bertakbir, bersyukur atas datangnya rezeki dari pintu yang tak terduga-duga itu.

Pembagiannya sendiri, seperti dijelaskan Ustaz, akan dilaksanakan pada akhir pekan, seusai Tarawih. Jamaah diminta mencantumkan nama-nama kepala keluarga yang membutuhkan di lembaran kertas yang diedarkan.

Saking penasaran, satu dua jamaah mengacungkan tangan  bertanya kepada Ustaz perihal sumber asal-muasal THR ajaib itu, takjub akan kedermawanannya.

“Maaf, soal sumber THR, saya tidak bisa memberitahukan kepada Bapak Ibu sekalian,” jawab Ustaz. “Sebab, saya sudah terikat janji kepada dermawan hamba Allah itu untuk tidak menyebutkan jati dirinya. Yang jelas, beliau adalah warga kita sendiri, yang ingin mencari berkah berbagi sedekah THR kepada warga kita yang membutuhkan, per kepala keluarga.”

“Amanah lainnya yang saya terima adalah bahwa pembagian THR ini akan langsung saya tangani sendiri, sesuai janji, demi menjaga kerahasiaan dermawan hamba Allah itu,” tambahnya lagi.

Lagi-lagi, jamaah hanya bisa bertakbir bertasbih, komat-kamit mendoakan balasan pahala dan kebaikan yang berlimpah-limpah kepada warga mulia itu.

Mungkin karena masih sangat penasaran, beberapa orang sempat melirik-lirik pula ke arah Pak Darman, orang kaya kampung, yang duduk tertunduk-tunduk, menduga-duga apakah darinyalah santunan itu berasal. Tak ada yang dapat memastikan. Apalagi kalau teringat betapa perhitungannya orang kaya itu, tiap kali dimintai sumbangan.

---

Akhir pekan selepas Tarawih, waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Jamaah Tarawih di penghujung Ramadan kali ini mendadak melimpah. Sampai ke luar-luar, sehingga harus berulang kali diingatkan untuk mematuhi protokol kesehatan. Ini jelas bukan peristiwa biasa.

Tanpa mengulur waktu, Ustaz Hamid segera ambil posisi di depan mimbar, mengapit sebuah kotak kardus berisi tumpukan amplop putih yang banyak sekali.

Dari data akhir, ada 98 nama kepala keluarga yang masuk daftar, hampir dua pertiga warga kampung. Memang tidak ada kriteria yang ditetapkan, kecuali siapa pun yang merasa membutuhkan. Tak harus yang terkategori mustahik penerima zakat. Untung saja Pak Darman, orang kaya itu, masih malu mendaftarkan diri.

Mengingat banyaknya warga yang terdaftar, satu dua orang berbisik-bisik agak kecewa, menduga besaran santunan THR akan jadi kecil sekali. Masuk akal, memang. Pembagian untuk 98 kepala keluarga, jika cukup besar, tentu akan sangat besar jumlahnya.

Bukan apa-apa. Sumber asalnya toh dari warga sendiri, bukan seorang konglomerat ternama atau sebuah perusahaan besar. Apalagi setelah mengamati tipisnya amplop-amplop putih itu, semakin benar rasanya persangkaan tersebut. Namun begitu, namanya orang butuh, walaupun sedikit tetap akan dinanti penuh sabar.

Satu per satu, nama-nama dalam daftar dipanggil dan amplop putih yang tak tebal itu diserahkan. Tampak sekali cerahnya wajah Ustaz Hamid membagi-bagikannya. Sebabnya, tak lain, karena ia sendiri pun hampir tak bisa percaya.

Setelah dua tiga orang yang menerima amplop itu membuka isinya, suasana dalam masjid bertambah riuh saja. Semakin ramai yang mendapat giliran, semakin riuh pula. Ada yang bertakbir keras-keras, banyak yang mengucap syukur, melantunkan doa-doa. Beberapa kepala keluarga yang betul-betul membutuhkan bahkan sampai menyungkur untuk sujud syukur. Banyak yang merinding.

Akibatnya, mereka yang belum dapat giliran dipanggil semakin tak sabar. Pak Ustaz sampai harus sesekali menghimbau, meminta kesabaran jamaah, menegaskan bahwa semua yang namanya terdaftar akan dapat bagian.

Setelah urutan ke-86, giliran nama Pak Rahim pun dipanggil. Warga kampung yang peramah dan sederhana itu pun bergegas datang, mengangguk-anggukkan kepala, tampak senang menerima amplop bagiannya, tak beda dengan hadirin lainnya. Hampir saja Ustaz Hamid tak mampu menahan diri, ingin memeluknya, sementara Pak Rahim cepat-cepat beranjak demi melancarkan giliran penerima berikutnya.

Tak beda dengan warga lain, Pak Rahim juga menampakkan wajah syukur atas rezeki THR bagiannya. Lima belas lembar uang merah seratus ribuan di tangannya, masih lengket, wangi, seperti baru diambil dari bank.

Tentu, hanya Sang Ustaz yang tahu identitas dermawan hamba Allah yang ingin dipeluknya itu. Yang empat tahun lalu pun, belum lagi lama pindah menjadi warga, juga diam-diam menginfakkan 50 juta rupiah untuk membiayai perbaikan madrasah tempat mengaji anak-anak yang doyong hampir rubuh. Seorang hamba Allah, yang dulunya seorang pengusaha besar, tetapi kini menjauhkan diri dari urusan kemegahan dunia.

Sesekali, ada memang hamba Allah yang berusaha keras menyembunyikan amalnya. Yang ketika tangan kanannya memberi, tangan kirinya tak tahu. Maka, tahun ini di kampung mereka yang sederhana, di tengah deraan pagebluk yang menyulitkan hidup warga, lebaran tampaknya masih akan bisa disambut penuh bahagia.

***