Pekerja akan mendapatkan THR (Tunjangan Hari Raya) di tahun 2021, begitu kira-kira judul berita yang berseliweran di media massa baik online maupun offline sejak awal bulan maret lalu. Bukan hanya sekali dua kali, bahkan hampir setiap hari sampai sekarang berita itu masih bertahan. Sehingga ketika kita menggeser layar android untuk melihat berita hari ini, yang dipastikan muncul adalah berita tentang THR dan menjadi top news diberbagai media.

Bagi pemerintah, pemberian THR bagi pekerja baik di pemerintahan, swasta ataupun dunia usaha merupakan stimulus untuk meningkatkan konsumsi. Terlebih di masa pandemi, pertumbuhan ekonomi menurun drastis sehingga diharapkan dengan adanya THR, masyarakat akan membelanjakan uangnya dan mengurangi saving. Dan ketika uang tersebut beredar di pasaran, banyak sektor usaha yang akan bergerak sehingga roda perekonomian Indonesia yang selama ini “macet” bisa berjalan sedikit lebih cepat. Selain mewajibkan pemberian THR, Pemerintah melarang para pelaku usaha agar membayarkan THR pekerjanya dengan cara dicicil.

Namun bagi pelaku usaha, pemberian THR bagaikan buah simalakama. Jika tidak dibayarkan mereka akan mendapat sangsi, mau dibayarkan keadaan usaha sedang tidak sehat. Berbagai pembatasan yang menjadi kebijakan pemerintah memaksa mereka untuk memangkas jam operasional yang berimbas pada menurunnya omset harian. Ditambah lagi penurunan daya beli masyarakat karena banyaknya pemutusan hubungan kerja dan pekerja yang di rumahkan sementara tanpa gaji dan tanpa kejelasan kapan akan bekerja kembali.

Ternyata bagi ASN, euforia akan mendapatkan THR tak bertahan lama. Beberapa hari yang lalu, Mentri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa THR yang akan diterima ASN di tahun ini hanyalah berupa gaji dan tunjangan yang melekat, tanpa tunjangan kinerja. Ini disampaikan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) RepublikIndonesia Nomor 42/PMK.05/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan PemberianTunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas kepada Aparatur Negara, Pensiunan,Penerima Pensiun, dan Penerima Tunjangan tahun 2021 yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tertanggal 28 April 2021(Nasional.kontan.co.id, 3/05/2021). 

Mendengar hal itu, bagi ASN yang mengikuti berita mengenai pencairan THR tahun ini dari awal diberitakan merasa “dikhianati” karena keputusan ini berbeda dengan apa yang pernah disampaikan di akhir tahun 2020 bahwa THR yang harus diterima adalah Gaji utuh beserta tunjangan kinerja. Bahkan ada yang merasa THR yang mereka terima berada dibawah UMR (Upah Minimum Regional). 

Sehingga beberapa ASN yang merasa kecewa berat menuangkan rasa kecewanya dalam petisi yang bertema Tolak THR online di website change.org. Hingga Senin (3/5/2021) pukul 11.48 WIB petisi tersebuttelah ditandatangani oleh 17.830 akun. Dipastikan Jumlah pengisian petisi akan terus bertambah (detk.finance.com, 3/05/2021). 

Jika kita membaca ulang berita yang muncul di akhir tahun lalu, bahwa THR beserta tunjangan kinerja akan diberikan secara utuh seperti saat sebelum masa pandemi jika keuangan negara memungkinkan. Dan ternyata, kebutuhan akan anggaran untuk penanggulangan Covid-19 masih sangat dibutuhkan, maka diputuskan bahwa THR yang dibayarkan hanyalah sebesar gaji beserta tunjangan yang melekat di dalamnya.

Ntah kenapa saya merasa Petisi ini tidak masuk akal. Mengapa mempersoalkan besaran bonus yang diberikan? Toh selama ini kita sebagai ASN hidup dengan gaji yang diberikan juga bisa. Memang tidak dipungkiri jika kebutuhan setiap orang akan mencukupi hidupnya berbeda-beda, tergantung bagaimana kita menyesuaikan pengeluaran berdasarkan pendapatan rutin yang diterima. Berbagai kemudahan untuk mendapatkan kredit perbankan membuat kebanyakan ASN hidup seperti “gali lubang tutup lubang”. Sehingga istilah “kalo gak minjam di bank, gimana bisa terbeli?” seperti melekat dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup dan lingkungan sangat berpengaruh, sehingga siapa yang tidak bisa menahan nafsu konsumtifnya akan terjebak dalam pinjaman yang hampir tak berujung.

Padahal sudah seharusnya mereka bersyukur bahwa mereka masih bisa mendapat penghasilan lebih sehingga dapat sedikit berlega hati menghadapi kebutuhan menjelang lebaran. Coba pikirkan masih ada kelompok orang yang hidupnya masih bingung mau makan apa besok? Keluarga “mantan” pekerja yang hanya bisa membaca dan melihat betapa nikmat hidupnya jika ia masih menjadi subjek yang ikut menikmati senangnya menerima bonus. 

Belum terpikir oleh mereka kue apa yang akan terhidang di meja lebaran besok, apakah opor ayam atau rendang yang akan menjadi lauk ketupatnya? Di masa pandemi ini, menurut data dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia mencatat hingga awal bulan Oktober 2020, sudah lebih dari 6,4 juta pekerja yang di berhentikan (PHK) (news.detik.com,2/12/2020). 

Ada satu lagi yang membuat saya kurang nyaman adalah headline berita mengenai Pencairan THR yang terkesan berlebihan hingga menjelaskan besaran jumlah yang akan diterima oleh para pekerja dan disampaikan berulang-ulang. Ingatlah pembaca media massa bukan hanya ASN atau pekerja. Sama seperti berita mengenai naiknya gaji ASN atau THR semakin membentuk stigma bahwa “ASN adalah anak emasnya pemerintah”.

Ramadhan sebentar lagi berakhir. THR dipastikan akan diterima bagi para pekerja dalam minggu ini. Buat yang telah menandatangani petisi, apakah kalian siap untuk mengembalikan THR yang sudah mampir ke rekening? Janganlah jadikan petisi hanya untuk meluapkan emosi sesaat tanpa memikirkan dampak sosial yang akan didapat sesudahnya.