Ketika saya hendak membersihkan rak buku, terutama pada bagian buku-buku lama, saya melihat langsung ke arah buku The World without Us karya Alan Weisman, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2007. Ini adalah salah satu buku non-fiksi yang sangat menarik, karena dalam buku ini Alan Weisman mencoba menjelaskan secara dramastis tentang apa yang akan terjadi pada Alam dan Pembangunan Lingkungan jika Manusia tiba-tiba menghilang. Dan Tentu saja, semua itu dia bahas secara Ilmiah, secara Matematis, dan secara Fisika.

Saya mengambil buku ini untuk dibaca ulang, Buku yang terdiri dari 4 Bagian dengan total 19 Bab ini menawarkan pendekatan yang sangat baru terhadap pertanyaan bagaimana pengaruh manusia atas planet ini, dan mencoba untuk membayangkan bagaimana jika Bumi tanpa Manusia. Tentunya, Alasan buku ini sangat layak dibaca pada situasi sekarang, karena kita sedang bertarung menghadapi Pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh belahan Bumi ini.

Ketika saya tidak sengaja membuka lembaran buku ini, saya langsung dibawa pada BAB 17 dengan judul “Akan ke Mana Kita dari Sini?”

Pada Bab ini Alan Weisman mengajak kita membayangkan Andai Ketika Manusia pergi, apakah spesies-spesies hewan yang kita anggap cerdas, seperti lumba-lumba, gajah, babi dan sepupu-sepupu kita simpanse dan bonobo akan merasakan kehilangan? Ataupun tidak ? Walaupun kita sering melakukan berbagai upaya yang serius untuk melindungi dan membantu mereka, Meskipun sebenarnya yang berbahaya bagi mereka biasanya justru kita. Apakah mereka akan merasa sedih dan merasa kehilangan ketika kita sebagai Manusia pergi ?

Ya mungkin setidaknya ada yang merasa sedih, contohnya sekitar 200 spesies bakteri yang menganggap kita sebagai rumah, terutama mereka yang tinggal di usus besar, serta lubang hidung kita, di dalam mulut kita, dan pada gigi kita. Selain itu Bakteri Staphylococcus hidup di setiap sentimeter persegi kulit kita, bersama ribuan lagi yang hidup di ketiak, di selangkangan, dan di antara jemari kaki kita. Hampir semua itu secara genetik terbiasa dengan kita sehingga ketika kita pergi, begitu pula mereka.

Pada Halaman 339, Bab 17 ini ada suatu perkataan-perkataan yang menarik, yang memang seperti menggambarkan situasi kita pada saat ini menghadapi Pandemi Covid-19 ini. Seperti yang tertulis di buku :

Kemungkinan Manusia Lenyap secara bersama-sama, terlebih dalam waktu dekat, kecil, tetapi masih dalam batas-batas yang masih mungkin. Peluang bahwa hanya manusia yang akan mati, meninggalkan segala sesuatu yang lain berjalan seperti biasa, jelas lebih kecil lagi, namun tetap lebih besar dari nol. Dr. Thomas Ksiazek, Kepala Spesial Pathogens Branch di U.S. Centers for Diseases Control, digaji untuk mencemaskan bahwa sesuatu dapat menghilangkan nyawa berjuta orang sekaligus. Ksiazek adalah seorang mantan perwira angkatan darat yang ahli dalam mikrobiologi veteriner dan virologi, dan keahlian konsultasinya sekarang berkisar dari ancaman serangan biologi hingga bahaya yang secara tidak terduga datang dari spesies-spesies lain, misalnya Coronavirus SARS yang ciri-cirinya telah ikut ia temukan.

Tetapi disini ia tidak melihat kemungkinan ada kemunculan suatu agen penginfeksi yang sanggup menyapu habis seluruh spesies. “Tidak ada yang sedahsyat itu. Kami telah mempelajari yang paling ganas diantara mereka, namun selalu ada yang bertahan.”

Virus-virus dengan tingkat perusakan dahsyat macam Ebola, bahkan Influenza yang paling mematikan telah gagal menyapu habis banyak orang, sebab banyak orang akhirnya mengembangkan kekebalan, dan pandemi padam dengan sendirinya.

Tidak ada virus yang mampu menghabisi 7,8 miliar manusia saat ini. Andai 99,9% tewas pun pasti akan masih tersisa dan tentu saja itu orang yang memiliki kekebalan alami terhadap virus tersebut. Epidemi, Pandemi sesungguhnya membuat spesies menjadi lebih kuat.

Peperangan pun tidak membuat kita punah, Jutaan orang tewas dalam perang, namun manusia terus bertambah. Bahkan pada hampir semua kasus, perang mendorong baik pemenang maupun pecundang memperbanyak jumlah penduduk. Akibatnya, Alih-alih berkurang, secara keseluruhan jumlah penduduk malah bertambah. Selain itu, “Pembunuhan itu tidak bermoral”. Kematian massal tidak pernah boleh dianggap sebagai salah satu cara untuk memperbaiki kehidupan di Bumi.

Untuk saat ini, yang lebih penting bagi kita yang masih berada di Bumi adalah Apakah kita manusia mampu lolos dari yang oleh banyak ilmuwan sebut sebagai Kepunahan Besar terakhir planet ini. Lolos dalam artian membawa serta Seluruh Kehidupan, bukan alih-alih Merusaknya. Pelajaran Sejarah alami yang kita baca baik dalam fosil maupun catatan-catatan menunjukan bahwa kita tidak bisa hidup sendiri untuk waktu yang sangat lama. Tetapi jangan khawatir, kita pasti tidak akan diam dan pasrah menghadapi itu, karena kita punya kecerdasan yang sudah teruji 200 ribu tahun lamanya, we always win the race, dan selalu keluar sebagai pemenang ?

Terima Kasih.


Referensi :

Weisman, Alan. 2009. Dunia Tanpa Manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.