Saya adalah seorang Katolik. Akan tetapi saya juga jatuh cinta pada aliran 'mistik' Islam. Saya jatuh cinta pada Rumi, salah satu tokoh sufi Islam. Demikian saya akan membagi kesan baik saya membaca salah satu buku tentang Jalaluddin Rumi dengan menulis di sini, resensi buku berjudul The Way of Love. 

Informasi Buku

Buku The Way of Love tulisan Nigel Watts merupakan novel berisi kisah hidup Jalaluddin Rumi (seorang sufi muslim). Versi asli buku ini ditulis dalam Bahasa Inggris dan diterbitkan pertama kali pada 1999 oleh Penerbit Thorsons. Versi terjemahan Indonesia diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada 2003 dengan alih bahasa Hodri Ariev.

Cerita dalam novel ini dibagi dalam bab-bab kecil yang terdiri dari 14 bab. Bab-bab ini merupakan titik-titik penting yang dipilih sebagai penanda jejak-jejak perjalanan Rumi, tahap demi tahap pertumbuhannya, pertumbuhan badannya dan juga jiwanya. Novel ini melihat perjalanan hidup Rumi sebagai pertumbuhan spiritualnya, perjalanan meninggalkan masa kanak-kanak menuju masa dewasa, dari perbudakan raga menuju pembebasan spiritual.

Perjalanan meninggalkan masa kanak-kanak yang naif, rakus, yang terpesona pada bentuk, yang buta pada kehadiran sesuatu di balik yang tampak, menuju kedewasaan yang merupakan kematangan spiritual, yakni beranjak menuju ketakterbatasan, meninggalkan semua untuk menyatu dengan semua secara tak terbatas. 

Isi Buku: paradoks jalan Sufi

Baca Juga: Tentang Rumi

Perjalanan hidup Rumi sama saja dengan perjalanan imannya, perjalanan spiritual, perjalanannya mencari Allah. Penulis menggambarkannya demikian. Perjalanan Spritual ini sangat rumit, sebab bagaimana mungkin mencapai puncak dengan turun dari puncak? Nigel Watts menyimpan pertanyaan refleksif dalam setiap kisah yang dia uraikan.

Ia berusaha mencuri perhatian pembaca dengan gagasan dasar ‘aneh’ khas Sufi. Demikian pembaca akan bertanya, apa tidak keliru bahwa perjalanan hidup seorang profesor yang memilih meninggalkan seluruh kekakuan sistem, kehormatan, dan menjadi bukan siapa-siapa adalah justru perjalanan yang sesungguhnya mesti diambil semua orang? Bagaimana mungkin puncak kehormatan dunia adalah justru kekanak-kanakan spiritual?

Sebaliknya, menjadi dewasa berarti melepas semuanya, semua yang sementara sifatnya, yang takluk pada waktu, yang palsu, menuju yang sejati, yang tidak pernah tampak dan menjadi mudah ditangkap, yang terselubung, yang kudus.

Buku ini menekankan satu pokok penting jalan sufi, yakni bahwa perjalanan spiritual ialah ketertarikan tak terjelaskan akan keindahan Allah, sesuatu yang mistik, yang membuat seseorang ‘mabuk.’ Perjalanan tersebut milik orang dewasa, orang-orang yang beranjak dari cinta masa kecil pada kemolekan bentuk menuju suatu keindahan sejati di baliknya.

Dengan itu mau dikatakan bahwa perjalanan spiritual ialah perjalanan pembebasan, yakni melepas keterikatan pada keindahan fisik yang semu, beranjak dari riak-riak sungai menuju kedalaman samudra. Demikian, mencari Allah berarti menarik pandangan dari luar ke dalam, ke hati. Di sana Allah tinggal. Logika ini khas aliran mistik seperti sufisme, bahwa tubuh selalu sekunder terhadap yang spiritual.

Logika yang menempatkan tubuh dan jiwa dalam relasi konflik seperti itu tentu dilematis. Melepas ternyata tak semudah mengejar sesuatu. Nigel Watts meramu konflik itu dengan mengisahkan penderitaan Rumi akibat komitmen spiritualnya lalu menguraikan penyelesaian masalahnya.

Pendakian spiritual Rumi dimulai dari kisah-kisah pahit kehilangan orang-orang dekatnya, yang pertama ayahnya Baha Walad, lalu disusul oleh kepergian syeikh-nya Sayyid Burhan, lalu akhirnya kematian Syamsuddin Tabriz orang ‘gila’ yang mengubah dan menyempurnakan sentuhan-sentuhan akhir puncak perjalanan spiritual itu.

Rumi juga terpuruk karena harus mengabaikan orang-orang terdekatnya yang nyata ada, orang-orang yang ia cintai (istri dan anak-anaknya) yang meskipun orang-orang buta yang sulit melihat dengan jernih, orang-orang yang penuh cita-cita duniawi, untuk sebuah kegilaan spiritual.  

Watts menjawab persoalan tersebut demikian bahwa kehilangan dan jarak adalah milik daging, maka penderitaan akan kehilangan ialah juga milik daging. Sebaliknya dunia Roh itu menyatukan, bahwa dengan melepas mereka, Rumi justru menjadi satu dengan mereka dalam kedekatan yang belum pernah ada sebelumnya.

Akhirnya Rumi mengerti bahwa penderitaannya datang dari kelekatannya pada dunia fisik, sebaliknya kepergian orang-orang terdekatnya justru menghilangkan jarak antara mereka. Sebuah paradoks.

Relevansi

Novel ini merupakan kritik langsung ke jantung modernitas atas kegilaannya pada materi. Materialisme modernitas telah membentuk pemujaan terhadap tubuh, bisnis kecantikan, termasuk perhatian sempit orang beriman pada aspek fisik hidup keagamaan. Konflik agama lalu tak terhindarkan jika aspek fisik keagamaan (simbol, bahasa, dll) justru dikedepankan dari pada aspek spiritualnya.

Sedikitnya itulah yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Inilah poin penting aliran mistik Islam ‘sufisme’, yakni bahwa dunia materi adalah dunia konflik, sedangkan dunia spiritual adalah sumber kesatuan.

Demikian Sufisme mengajak manusia modern untuk menatap ke atas, mendongak ke kehadiran yang tinggi, menuju suatu realitas spiritual yang menyatukan itu. Silahkan membaca bukunya untuk sebuah petualangan yang lebih menarik Bersama Rumi.