71745_56180.jpg
Politik · 4 menit baca

The Seven Kingdoms: Peta Muslihat 2018
Game of Thrones

Bulir-bulir cinta yang tumbuh dalam diri Daenerys Targaryen dan Jon Snow telah menjerumuskan mereka dalam perseranjangan tabu. Mereka terikat dalam pertalian darah: bibi dan ponakan.

Jon Snow adalah Aegon Targaryen. Anak biologis Rhaegar Targaryen dan Lyanna Stark. Rhaegar adalah kakak Daenerys. Lyanna adalah adik Ned Stark.

Dalam diri Jon Snow, mengalir darah Targaryen dan Stark sekaligus. Dua klan utama di Utara. Karena itu, dia berhak atas tahta Utara yang kemudian memiliki legitimasi untuk memimpin the Seven Kingdoms.

Lalu, bagaimana dengan Mother of Dragons? Rasanya akan sulit baginya untuk berlutut di hadapan si bastard Jon Snow. Akankah cinta menjadi awal keretakan koalisi yang baru terbentuk? Bagaimana pula mereka menghadapi lawan dari dua sisi yang sedemikian kuat?

Pasukan Mother of Dragons memiliki cacat bawaan. Para Dothraki jelas bukan pasukan ideal. Mereka adalah kerumunan. Mereka memang kuat dan beringas, tapi tidak terstruktur. Mereka bergerak sporadis mengikuti naluri membunuh. Tidak ada formasi. Tidak ada strategi. Liar semata.

Sementara pasukan Unsullied justru lemah karena terlalu kaku. Mereka dididik sejak belia di Astapor dalam perbudakan. Mereka tidak memiliki rasa takut. Mereka tidak memiliki rasa khawatir. Mereka tidak memiliki perasaan.

Kedisiplinan ekstrem itu bisa membawa celaka. Di palagan peperangan, para serdadu tidak hanya membutuhkan kedisiplinan, tapi juga inisiatif.

Akan halnya dua naga tersisa, mereka ternyata juga bukan tanpa kelemahan. Terbukti, panah raksasa pasukan Lannister berhasil menjatuhkan the Drogon, sang Naga terbesar. Sementara Viserion, naga putih dengan garis-garis keemasan, telah terbunuh oleh tombak runcing the Night King dalam pertempuran singkat di luar the Wall.

Kelemahan lain dari tiga kekuatan utama the Unburnt Daenerys Targaryen adalah penguasaan bahasa Inggris yang amat terbatas. Language barrier akan menyulitkan mereka melakukan penyusupan ke dalam King’s Landing. Tentu saja, gerak-gerik dan postur tubuh mereka juga sangat mudah diidentifikasi sebagai orang asing.

Lebih jauh, yang juga mengkhawatirkan adalah loyalitas pasukan Unsullied dan Dothraki. Bagaimanapun, Daenerys adalah orang luar. Tak ada kontrak khusus yang mengikat loyalitas itu selain bahwa mereka ‘dibebaskan’ dari perbudakan.

Dalam pidato-pidatonya, Daenerys selalu berbicara tentang kebebasan, bahwa pasukannya tunduk padanya secara sukarela. Mereka bebas memilih untuk ikut atau berpaling. Tapi sampai kapan slogan ini bisa bertahan? Belum ada bukti Daenerys akan membiarkan sebagian tentaranya membelot. Yang mungkin terjadi, anak-anaknya akan menyemburkan api pada mereka yang memilih meninggalkannya.

***

Sementera itu, di Winterfell, benih-benih keretakan juga mulai muncul. Para petinggi klan yang mendukung kepemimpinan Jon Snow belum sepenuhnya bisa menerima kehadiran Lady Sansa sebagai pejabat sementara pemimpin Utara. Loyalitas mereka hanya kepada Jon Snow.

Keluarga inti Stark sendiri belum sepenuhnya bersatu. Masih ada kemungkinan perseteruan antara Arya Stark dan Sansa Stark untuk menjadi Lady of Winterfell.

Sansa, di mata Arya, belum sepenuhnya pantas menjadi pengendali Winterfell. Kakaknya dinilai lemah. Dia pernah menanda-tangani surat jebakan Cersei Lannister untuk mendiang Robb Stark. Bagi Arya, itu adalah penghianatan.

Arya Stark dibesarkan dalam dendam. Dia tidak pandai menganalisa fenomena yang rumit. Pikirannya lurus. Ia gemar menyelesaikan persoalan dengan belati. Kemampuan olah pedang dan dendam ini menjadi begitu berbahaya dengan ilmu bersalin rupa yang dimilikinya.

Bran Stark juga tidak bisa diabaikan. Dia adalah satu-satunya putra Ned Stark dan Catelyn Stark yang masih hidup. Jika muncul sosok seperti Littlefinger yang lihai menghasut, boleh jadi keluarga ini retak. Bukan karena ambisi kuasa semata, tapi karena alasan mempertahankan keutuhan Winterfell.

***

Ancaman yang paling berbahaya, tentu saja, datang dari King's Landing. Walaupun Cersei Lannister ternyata pura-pura setuju mengirim pasukan ke the Wall, tapi Jaime Lannister bersikukuh menepati janji pada aliansi Dragonstone - Winterfell.

Parade pasukan King’s Landing menuju the Wall akan melewati Winterfell. Siapa yang bisa menjamin pasukan itu tidak berbelok menggasak klan yang menjadi penghalang utama mereka untuk menjadi otoritas tunggal di the Seven Kingdoms?

Pasukan mayat hidup (White Walkers) dari luar the Wall memang sangat berbahaya. Namun begitu, sebaiknya Jon Snow dan Mother of Dragons juga tidak melupakan ancaman keluarga Lannister di King’s Landing.

Cersei nampak serius sekali mempersiapkan senjata pemusnah massal. Senjata itu terbukti berhasil meledakkan kapal-kapal musuh. Senjata yang sama juga meledakkan kastil para konservatif. Mereka juga mempersiapkan panah raksasa yang bisa menjatuhkan naga. Bayangkan jika panah raksasa itu dilengkapi dengan cairan ledak di hulunya. Naga yang tertusuk bisa meledak seketika.

Sementara itu, sampel tubuh mayat hidup yang dibawa oleh Jon Snow dan kawan-kawan juga sekarang sedang diteliti secara serius. Bukan mustahil, tim ilmuan Lannister akan menemukan semacam anti-virus yang bisa menjinakkan para mayat ganas itu.

Siapa bisa menduga? Segalanya bisa saja terjadi. Cersei melakukan investasi besar-besaran untuk research and development dalam bidang pertahanan mereka.

***

Yang juga perlu diwaspadai adalah Tyrion Lannister. Cukup disayangkan bahwa Daenerys begitu mudah menaruh kepercayaan pada the Halfman ini. Bagaimanapun, dia adalah seorang Lannister. Dua kali strategi perang yang ia tawarkan pada Daenerys ternyata gagal total.

Apa pula yang ia bicarakan dengan Cersei di perundingan besar itu, sehingga Cersei muncul dengan statement akan mengirim pasukan ke Utara? Mengapa statement Cersei di hadapan Daenerys dan Jon Snow ternyata hanya bualan? Terlalu berisiko menempatkan anggota keluarga inti Lannister sebagai Hand of The Queen bagi Daenerys.

Jika semua kekhawatiran ini terjadi, King’s Landing tidak hanya akan menghabisi pasukan mayat dari Utara, tapi juga musuh-musuh politiknya di the Seven Kingdoms. Dalam masa-masa genting menjelang musim dingin terpanjang itu, isi kepala Cersei Lannister bekerja lebih cepat.

Winter is coming.