Kita pernah digemborkan tentang fenomena seorang sutradara yang membawa embel-embel "internasional" dalam karyanya, yakni sosok Livi zheng yang saat ini menjadi perbincangan publik tentang karyanya yang dapat menembus Hollywood dengan masuk seleksi nominasi Oscar. 

Beberapa minggu yang lalu, ia kemudian diundang oleh salah satu stasiun televisi untuk mengklarifikasi atau menjelaskan lebih detail mengenai hal tersebut. Dari semua kepedean dan jawaban yang ngelantur, Live Zheng kemudian dikenal dengan sutradara yang tidak beres.

Baru saja, Livi Zheng kemudian menyutradarai sebuah film baru lagi yaitu, The Santri, yang didukung oleh Nahdlatul Ulama. Pada trailernya, ketua umum Nahdlatul Ulama KH. Said Aqil Siradj menjelaskan bahwa film The Santri mengandung nilai-nilai Islam yang santun, toleran, ramah, plural, dan membawa budaya akhlakul karimah, peradaban, serta jauh dari islam liberal, radikal, apalagi terorisme. 

Ada banyak sekali kemudian yang menjadi bahan kritikan dari trailer film The Santri

1. Adegan seorang santriwati yang diperankan oleh Wirda Mansyur masuk ke dalam gereja dengan membawa tumpeng. Entah dalam acara apa itu, adegan ini dikaitkan dengan pembahayaan akidah atau dapat merusak akidah.

Hanya dengan adegan inikah akidah seseorang akan luntur? Keimanan seseorang akan sirna hanya dengan melihat adegan seperti ini?

Ada banyak juga yang mengatakan bahwa adegan ini memperlihatkan tentang toleransi yang kebablasan.

2. Dalam film The Santri, terdapat adegan berdua-duaan antara laki-laki dengan perempuan yang katanya dapat merusak moral dan merusak citra santri. Ada banyak sekali orang-orang yang mengkritik hal ini tidak mengerti dan tidak melihat fenomena yang terjadi hari ini.

Kita terlalu terkungkung dalam aturan yang belum tentu penafsirannya benar, mudah men-judge sesuatu, padahal dalam film juga kita tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi.

Ini baru trailernya, menggambarkan sedikit isi yang ada dalam film, untuk keseluruhan kita belum tahu. Ada juga banyak yang terlihat oleh mata kepala kita sehari-hari, yang nyata di lapangan, tapi mengapa kita diam saja?

3. Kemudian ada juga yang mengomentari tentang bagian akhir film, yaitu KH. Said Aqil Siradj yang terlihat berdekatan dengan Livi Zheng. Pada bagian ini, ketua umum NU katanya memperlihatkan adegan yang tidak baik untuk ditiru.

Mengapa kita tidak berpikir postif? Andai saja Ketua Umum NU dan Livi Zheng berpelukan, maka hal itu harus menjadi kecaman. Namun yang terlihat, Said Aqil Siradj dan Livi Zheng tidak melakukan adegan apa-apa, melainkan hanya berdiri bersama. Ada-ada saja yang dikomentari orang-orang.

4. Amerika menjadi tujuan utama dalam film ini. Di mana letak kesalahannya? Tidak ada dalam Islam yang melarang untuk pergi ke negara yang mayoritas non-muslim.

Justru, ada banyak sekali orang muslim yang sukses di sana. Ada juga imam yang besar di sana dan bekerja di sana, yang gencar menyuarakan Islam di sana. Itulah yang disebut dengan Islam peradaban yang dapat mengikuti perkembangan tanpa menyalahi aturan Islam. Yang salah adalah ketika ke Amerika tapi merusak Islam di sana.

Katanya, film The Santri tidak layak untuk ditonton, bahkan harus diboikot karena sudah memberikan citra yang buruk bagi santri, berbungkus image santri, pesantren dan islam.

Dalam film ini, katanya juga, kita mendukung Amerika yang mempropogandakan terorisme dan radikalisme. Hal ini sudah keluar dari trailer The Santri. Tidak ada adegan yang memperlihatkan bagaimana Amerika menjadi negara yang membahayakan bagi umat Islam. Walaupun di kehidupan nyata bisa benar adanya,

Selain itu, pengkritik dari trailer ini adalah mereka yang tidak tahu tentang bagaimana Nahdlatul Ulama dan santri Nahdlatul Ulama itu sendiri. Harusnya kita melihat aspek-aspek yang ada pada film ini, tentang siapa yang membuat, didasari dengan apa pembuatan ini, siapa yang terlibat dalam film ini, terutama yang mendukung atau bekerja sama dengan pembuatan film ini. Mereka hanya mampu mengkritik tanpa menelaah terlebih dahulu. 

Pengkritik kebanyakan adalah mereka yang tidak pernah mondok di lingkungan santri Nahdlatul Ulama. Mereka hanya melihat di luarnya saja, tapi tidak tahu keseharian santri bagaimana; yang merasa diri paling benar, suci, dan jauh dari dosa, yang melangit, yang tidak sadar bahwa ia adalah seorang manusia yang jauh dari kata sempurna.

Kita juga lupa bahwa film ini merupakan karya sastra yang dibuat manusia, yang tentunya ada sisi positif dan negatif di dalamnya. Mengapa kita tidak mencoba untuk mengambil sisi baiknya?

Oh iya, saya yakin bahwa pengkritikan terhadap film ini juga pasti didasari oleh siapa yang menyutradarai film ini, yaitu Livi Zheng, yang terkenal dengan Hollywood-nya. Kemudian ditambah pula dengan pemeran-pemerannya yang sebagian orang menganggap mereka tidak layak untuk dicontoh.

Bisalah mungkin, untuk mengesampingkan hal tersebut, semua orang berhak untuk berkarya, semua orang berhak untuk berkembang. Ada baiknya kita mengapresiasi terhadap karya anak bangsa, kan? Dibanding kita yang tidak mampu melakukan apa-apa, yang hanya mampu men-judge tapi tidak mampu untuk menciptakan sesuatu yang baru. 

Mari kita tunggu filmnya dan mengambil nilai-nilai yang baik yang terkandung di dalamnya. Salam damai.