Apakah ada di antara kita yang sudah menonton The Privileged Planet? Kalau belum, silakan ditonton. Film ini memanfaatkan animasi komputer yang menakjubkan, wawancara dengan para ilmuwan terkemuka, dengan gambar-gambar spektakuler untuk mengeksplor fakta-fakta mengejutkan dalam alam semesta kita.

Film yang diadaptasi dari buku dengan judul yang sama oleh Jay Richards dan Guillermo Gonzalez ini diproduksi pada Oktober 2002 dan selesai pada Juni 2004.

Gagasan yang muncul dalam film ini menepis pendapat arus utama sains modern bahwa alam semesta (universe) hanya bersifat saintik (kalkulatif), predictable, dan oleh karena itu juga dapat dijelaskan dalam rumus-rumus fisika dan matematika sampai tuntas. Klaim terbesar sains abad 20 ialah bahwa alam semesta berproses secara mandiri seturut prinsip-prinsip fisika yang berlaku universal dan tidak melibatkan rencana atau kuasa ilahi apa pun di dalamnya.

Dalam konteks itu, para saintis yang terlibat dalam film The Privileged Planet membangun satu kontra-narasi bahwa sains secara metodis terbatas untuk sampai pada klaim-klaim besar bahwa proses mandiri pembentukan alam semesta tidak memperlihatkan indikasi adanya campur tangan ilahi di dalamnya. Menurut para saintis ini, klaim-klaim tersebut berlebihan dan ceroboh.

Sains memang bisa menjelaskan secara ilmiah proses-proses yang terjadi dalam alam semesta, tetapi sains tidak bisa membuktikan Tuhan ada atau tidak ada, terlibat atau tidak terlibat hanya dari kenyataan bahwa alam semesta berproses secara mandiri dan mekanis seturut hukum-hukum fisika.

Klaim tersebut merupakan lompatan logika yang jauh memasuki wilayah lain di luar kesanggupan metode sains. Maka itu pertanyaan tentang Tuhan, makna, dan tujuan selalu terbuka, tidak peduli secanggih apa pun penemuan sains.

Demikian, klaim bahwa alam semesta tidak mempunyai tujuan, bahwa tidak ada intelligent design, dll., ialah ceroboh. Refleksi tentang Tuhan, makna, tujuan dan maksud di balik keberadaan alam semesta kembali muncul atas kenyataan bahwa dalam banyak hal, planet Bumi menyimpan pertanyaan besar yang tidak ada habisnya.

Dibanding planet-planet lain di alam semesta mahaluas ini, planet Bumi adalah spesial. Demikian, The Privileged Planet (planet istimewa) yang dimaksud sebetulnya merujuk pada planet Bumi sebagai satu-satunya (setidaknya hingga hari ini) yang ditemukan mampu memelihara jutaan spesies hidup di dalamnya termasuk kita, manusia.

Fakta-fakta sains mengenai keberadaan planet kecil ini juga dalam film The Privileged Planet dianggap terlalu luar biasa untuk sekadar sebuah kebetulan buta dalam proses acak evolusi alam semesta. 

Demikian, apakah tidak perlu ada penjelasan tentang keistimewaan ini? Apakah cukup jika dikatakan semua itu kebetulan? Bukankah mengatakan itu semua sebagai kebetulan buta sama dengan mengatakan bahwa kita tidak tahu?

Mengerucut pada persoalan ketuhanan, kiranya pertanyaan besar yang hendak dijawab dalam refleksi singkat ini ialah apakah alam semesta menunjuk sesuatu tentang Tuhan? Pertanyaan ini sering kali muncul karena kenyataannya fakta sains dan Tuhan sering kali justru dipertentangkan. Para fisikawan seperti Hawking misalnya sering kali tidak bisa menerima logika bahwa bagaimana mungkin sang pencipta bisa dulu ada sedangkan ruang dan waktu baru ada sejak big-bang

Akan tetapi, Hawking bukan satu-satunya fisikawan. Fisikawan lain seperti Paul Davies, misalnya, justru lebih jujur mengungkapkan bahwa masih ada ruang pada alam semesta yang walau bagaimana pun akan tetap berada di luar pengamatan sains. Ia menulis demikian:

Saya selalu ingin percaya bahwa sains akan mampu menjelaskan semua, … Tetapi tinggal masalah kuno mengenai tujuan dari rantai penjelasan ilmiah kita. … Jadi, masalah-masalah terakhir (The ultimate questions) tetap tinggal di luar ilmu empiris.” [Louis Leahy: 2002].

Kiranya pendapat kedua ini memberi sedikit gambaran mengenai pokok dalam tulisan ini. Dalam film The Privileged Planet, sejumlah fisikawan, ahli Astrobiologi, dan filosof mencoba menampilkan fakta-fakta mutakhir tentang alam semesta. Ada beberapa pertanyaan mendasar yang hendak dijawab, salah satunya ialah apakah Bumi kita satu-satunya tempat bagi kehidupan kompleks. Atas itu, para ahli Astrobiologi menentukan berbagai kriteria bagi mungkinnya kehidupan kompleks. 

Dalam hal ini, Bumi ditemukan sebagai spesial. Semua syarat bagi mungkinnya kehidupan kompleks seperti air, udara (nitrogen dan karbondioksida), medan magnet serta satelit yang proporsional untuk mengatur kestabilan, dll. hanya ada di Bumi. Posisi Bumi juga serba terukur (pas). Jika Bumi 5 persen saja lebih dekat dengan Matahari, nasibnya akan terbakar seperti Venus.

Efek rumah kaca menjadi 9000 Fahrenheit. Jika 20 persen lebih jauh dari Matahari, nasibnya akan beku seperti Mars. Di kedalaman Bumi, gerak lempeng tektonik, pergerakan besi cair yang membentuk perlindungan bidang magnet juga merupakan unsur esensial bagi kehidupan kompleks. 

Dengan kata lain, keseluruhan mengenai Bumi ialah satu-satunya syarat bagi kehidupan kompleks. Maka disimpulkan bahwa sangat kecil kemungkinan bagi adanya kehidupan kompleks di luar Bumi.

Pertanyaannya ialah bagaimana semua ini terjadi? Apakah kita hanya kebetulan beruntung? Bagaimana menjelaskan keberadaan seluruh unsur semesta yang serba terukur? Bahwa keberadaan semua unsur adalah syarat untuk kehidupan kompleks? Dari sini kelihatan adanya keterarahan, bahwa semua proses itu hanya dapat dimengerti jika mempunyai tujuan, yaitu kehidupan. 

Fakta mengenai keterarahan semesta memang sudah jelas, meskipun kita tidak bisa menolak bahwa Bumi kita bisa saja merupakan hasil proses kebetulan meskipun dengan probabilitas sangat kecil, yakni 105.313.660. mengingat kemahaluasan semesta, bahwa Galaksi Bimasakti (Milky Way) sendiri menampung lebih dari 100 miliar bintang termasuk Matahari kita dan alam semesta terdiri dari tak terhitung galaksi.

Akan tetapi, bahwa semua kebetulan itu tetap terarah pada satu bentuk alam semesta di mana ada Bumi dan kehidupan kompleks di dalamnya tetap tidak bisa disangkal.

Hanya saja problemnya sekarang ialah bagaimana keterarahan itu bisa dijelaskan? Ini merupakan persoalan para ilmuwan maupun agamawan, bahwa meskipun terdapat ruang bagi kemungkinan adanya sesuatu yang mengarahkan semua itu tidak berarti kita bisa segampang itu menempatkan Tuhan untuk mengisinya.

Di sini, kita perlu menghindari klaim-klaim spektakuler ceroboh seperti itu. Yang penting ialah setidaknya di sini ada jalan, ada ruang bagi refleksi tentang Tuhan.

Kenyataannya, makin kita memahami alam semesta, memeriksanya dengan teliti, makin kita menyadari ada rahasia besar di baliknya, kita akan sampai pada satu rasa takjub walau sekadar mengatakan how is it possible?

Di sanalah sesungguhnya terbuka ruang pada kenyataan lain, yang barangkali tidak pernah bisa kita sentuh, yang tidak pernah akan sangat jelas bagi kita. Di sana terbuka jalan menuju Tuhan.