Film, dengan segala potensinya sebagai medium narasi, memang memiliki gravitasi tersendiri dibandingkan medium lainnya. Dengan durasi yang relatif pendek, film harus diracik dengan penuh pertimbangan agar mampu menyampaikan pesan, meninggalkan kesan, dan tentunya memenuhi standar kualitas tertentu.

Sering kali kita tak bisa menjabarkan secara tepat mengapa sebuah film disebut berkualitas. Satu yang pasti, sebuah film bisa dibilang “bagus” karena ia bisa dinikmati dan berhasil mengikat perhatian kita selama sekian puluh menit, sedari awal semenjak judul digelar, hingga saat daftar kredit diputar.

The Princess Bride (TPB), menurut saya, adalah salah satu contoh film macam ini. Ia mampu membuat penonton larut dalam pesonanya. Padahal, jika mengacu pada standar umum, TPB dikemas secara sederhana tanpa bintang terkenal dan efek-efek komputer yang dramatis.

Dari judulnya yang kurang seksi saja, kita bakal curiga jika TPB hanya akan menjanjikan kisah dongeng zaman kerajaan yang membosankan. Tapi coba tanya pada mereka yang pernah menontonnya, saya yakin Anda akan dihujani dengan berbagai alasan mengapa film yang diangkat dari novel berjudul sama ini wajib ditonton.

Diproduksi pada tahun 1987, film besutan Rob Reiner ini memang tak bertaburan bintang hebat dan tak pernah memenangkan penghargaan bergengsi apa pun.

Dilakoni Robin Wright dan Cary Elwes sebagai duo bintang utama, kekuatan “The Princess Bride” agaknya memang terletak pada kepiawaian William Goldman sebagai penulis skenario (yang juga merupakan penulis novel TPB) dalam mengolah plot dan merancang cerita.

Premis utama film ini sebenarnya cukup sederhana, yakni kisah keteguhan hati dua tokoh utamanya—Buttercup (Wright) dan Westley (Elwes)—untuk bersatu dalam ikatan cinta sejati. Perjalanan kisah cinta mereka yang berjalinan dengan kisah-kisah dari tokoh lainnya terutuhkan menjadi cerita yang apik, yang selain diramu sebagai drama juga dihiasi oleh komedi dalam kadar kuantitas dan kualitas yang demikian pas.

Perlu diketahui, The Princess Bride memang film yang diperuntukkan oleh segala usia. Namun saya kira penonton tak perlu khawatir dengan risiko akan munculnya pesan-pesan moral yang terlalu menggurui seperti lazimnya sebuah film keluarga.

The Princess Bride boleh jadi mampat oleh pesan akan nilai-nilai luhur kesetiaan, sikap kesatria, dan cinta sejati, namun alur ceritanya yang sungguh mengasyikkan, ditambah dengan karakter-karakter tokohnya yang unik sekaligus absurd, dan tak lupa bumbu humor yang segar di sana-sini; sanggup mengalihkan perhatian kita dari aspek menggurui khas film kanak-kanak.

Disampaikan secara meta-naratif, film ini dibuka dengan adegan seorang kakek yang membacakan buku pada cucunya yang sedang sakit (dimainkan dengan sangat cemerlang oleh bintang cilik Fred Savage). Penonton kemudian digiring pada kisah awal buku yang menggambarkan kisah cinta Buttercup dan Westley yang sedari mula memang telah amat saling mencintai.

Terpaksa berpisah karena Westley harus menyeberangi lautan untuk mencari peruntungan demi meminang Buttercup. Kisah cinta muda-mudi ini lekas diputus takdir, saat Westley diberitakan telah meninggal di tangan Robert si Bajak Laut Kejam.

Patah hati dan memutuskan untuk tak pernah jatuh cinta lagi. Lima tahun kemudian, Buttercup dikisahkan akan menikahi pangeran Humperdinck tanpa dilandasi cinta. Terpaksa menikahi yang sang putra mahkota kerajaan Florin di luar kemauannya.

Buttercup sering mencari ketenangan dengan berkuda sendirian. Hingga suatu hari ia disergap oleh tiga orang bandit di sebuah hutan sepi.

Tiga bandit ini terdiri dari Vizzini si kurcaci super cerdas dan penipu ulung, Inigo Montoya si master anggar yang berasal dari Spanyol dan Fezzik yang bertubuh bak raksasa dan gemar sekali berpantun.

Jangan salah ketiga bandit ini bukan penculik biasa. Mereka tak hanya berencana menculik, namun juga berencana membunuh Buttercup di kawasan kerajaan Guilder untuk memicu peperangan antara kerajaan Guilder dan Florin.

Di tengah perjalanan menggiring Buttercup menuju Guilder, mereka diikuti oleh seorang misterius berpakaian serbahitam. Satu demi satu, ketiga bandit penculik dipaksa berduel dengan si hitam misterius, yang ternyata mampu mengimbangi tiga bakat berbeda yang dimiliki Fizzini, Inigo, dan Fezzik.

Di sini TPB mulai menunjukkan potensinya sebagai kisah yang one of the kinds. Interaksi antara si tokoh hitam misterius dengan ketiga bandit, selain memancing tawa, juga akan memancing simpati penonton terhadap tokoh Inigo dan Fezzik.

TPB memang tak menghadirkan karakternya tokoh-tokohnya dalam satu dimensi saja. Atribut “jahat” sebagaimana sering kita gunakan untuk melabeli suatu tokoh dalam sebuah cerita kanak-kanak, digantikan dengan atribut lain yang lebih multi-dimensional, seperti pengecut, pongah, ataupun pendendam.

Narasi TPB memang terasa kompak dan pas diikuti, namun lompatan alur di beberapa bagian—dengan maksud memangkas plot agar lebih ringkas—sungguh amat disayangkan, karena jika mengacu pada bukunya, banyak detail cerita yang menarik untuk disimak.

Misalnya pernikahan antara Pangeran Humperdinck dan Buttercup dilatarbelakangi oleh berbagai peristiwa konyol yang sangat lucu, yang menunjukkan betapa Buttercup, sebagai heroine TPB, memiliki karakter yang unik dalam menghadapi konflik moral antara kesetiaan dan keterdesakan untuk bertahan hidup.

All in all, TPB adalah film drama-komedi fantasi, yang meskipun skalanya belum mencapai standar epik, namun magnitude pesan yang dibawa film ini setara, atau bahkan bisa dibilang melampaui, epik-epik fantasi macam Lord of the Ring ataupun Harry Potter.

Dianggap underdog selama puluhan tahun, sukses TPB bisa dilihat dari ribuan penggemar beratnya yang hingga kini masih setia mengutip dialog-dialognya yang sangat quotable. 

Buktikan saja dengan mengucap "as you wish" di depan mantan Presiden Amerika, Bill Clinton dan anaknya Chelsea, dijamin mereka akan membalas Anda dengan rentetan kutipan dialog lainnya dari TPB.