Menjelang “ritual tahunan” baru ala generasi milenial yakni harbolnas (hari belanja online nasional) yang mulai masif dipropagandakan semenjak menjamurnya e-commerce, Bukalapak sebagai salah satu pemain di sektor ini merilis sebuah film berjudul After 11

Film pendek yang diviralkan lewat media online seperti youtube dan juga menghiasi layar kaca cukup antusias menyedot perhatian netizen (dan juga pemikmat media konvensional televisi). Apalagi yang menarik perhatian mereka jika bukan bintang iklan film pendek tersebut Dian Sastrowardoyo. Salah satu aktris kenamaan Indonesia yang dikenal publik lewat film monumentalnya AADC (Ada Apa Dengan Cinta).

Kehadiran Dian Sastro dalam film pendek tersebut menjadi menarik untuk dianalisis secara lebih jauh, baik menyangkut aksinya dalam film pendek tersebut maupun sebagai artis yang dipilih oleh Bukalapak untuk membintangi film pendek buatan mereka tersebut. Jika mencermati peran Dian satro dalam film misalnya kita akan menyaksikan sosok Dian sebagai ibu muda yang luar biasa. Bagaimana tidak layaknya film-film Holywood yang bertemakan intelejen, Dian Sastro digambarkan sebagai sosok agen rahasia yang berupaya menyembunyikan pekerjaaanya dari orang terdekatnya (dalam konteks film ini pada putrinya dengan mengaku sebagai artis).  

Film dimulai ketika Dian menerima telepon dari putrinya yang menyanyakan seputar hadiah sepatu roda. Dian sendiri kemudian dengan cepat membuka handphonenya dan mengakses website Bukalapak dan gembira karena menemukan banyak penawaran tentang barang yang akan dia beli (karena film ini memang ingin mengiklankan Bukalapak dan “promo besarnya” saat harbolnas 2018). 

Menariknya Dian digambarkan melakukannya dengan santai ditengah pengejaran oleh agen rahasia musuh yang hendak menangkapnya. Entah mungkin Bukalapak ingin menggambarkan segenting apapun kondisimu anda tetap bisa berbelanja. Tapi jika menjadikan cerita Dian sebagai sentralnya maka tergambar sosok Dian sebagai sosok ibu muda yang super, dimana dia masih berupaya menyempatkan diri untuk mengurusi kebutuhan putrinya di tengah-tengah kondisi darurat.

Film berlanjut dengan adegan dimana transaksi berhasil sekaligus Dian mampu memenangkan pengejaran, ditandai dengan meledaknya mobil sang pengejar. Namun di saat Dian gembira karena transaksinya berhasil, ia tidak menyadari dari belakang para agen musuh mengendap diam-diam dan kemudian meringkusnya dengan cepat. Adegan berganti di markas musuh (tepatnya ruang interogasi). 

Sang agen musuh terlihat mengelilingi Dian sambil berkata padanya bahwa “dia” (bos mereka) sebentar lagi akan menghubungi Dian. Ternyata bukan bos mereka yang menghubungi tetapi muncul pesan di handpone Dian tentang tawaran lain dari Bukalapak yang “menggiurkan”. Segera saja Dian berupay melepaskan diri dari borgol yang dikenakan padanya dan melawan semua agen musuh di tempat tersebut. 

Setelah berhasil membaskan diri dan melumpuhkan semua lawan Dian segera mengambil kembali handphone miliknya dan melakukan order di Bukalapak. Menarik mencermati barang yang Dian order yakni kosmetik, gaun, dan sepatu. Barang tersebut ternyata ingin dibeli sebab ia ingin segera pulang menyambut anaknya. Tentunya Dian ingin tampil anggun di didepan putrinya, tidak lagi menjadi sosok agen rahasia yang terkesan “garang”.

Menariknya sebagaimana dalam kasus pengejaran, Dian juga melakukan order barang pada saat dirinya masih dalam kondisi yang tidak aman karena masih berada di dalam markas musuh. Tetapi sebagaimana dalam kasus pengejaran, Dian mampu melakukan transaksi dengan sukses dan juga berhasil menaklukkan musuh yang hendak menyergapnya di markas tersebut. Kembali jika dikaitkan dengan posisi Dian sebagai seorang ibu, nampak bagaimana film ini menggambarkan Dian sebagai sosok ibu yang super karena pada situasi yang genting ia tetap memikirkan puterinya.  

Film dilanjutkan dengan adegan Dian mengendarai mobilnya dengan kencang untuk segera bergegas pulang ke rumahnya. Selain diburu waktu karena putrinya akan segera sampai ke rumah, nampaknya film ini ingin menggambarkan bahwa pengantaran Bukalapak sangat cepat sehingga jika tidak disusul dengan cepat bisa jadi pengantar akan lebih cepat sampai ke rumah Dian. 

Tentu Dian tidak mengharapkan hal tersebut karena sebagian barang yang dia order harus ia kenakan sebelum mencapai rumah. Singkat cerita Dian berhasil mengejar pengatar Bukalapak dan menemui putrinya dalam keadaan anggun. Dalam waktu singkat sepatu roda yang didambakan putrinya juga datang. Dengan kata lain misi Dian untuk membahagiakan putrinya berhasil di tengah potensi ancaman yang terus menghantui kesehariannya sebagai seorang agen rahasia.

Film ditutup dengan Dian yang berbicara dengan pengintai dirinya dan menyindirinya (karena akhirnya membeli kamera pengintai dari Bukapalak). Dian kemudian membuang mikropon yang menempel di telinganya dan kemudian bergegas masuk rumah. Dalam konteks ini kita bisa menginterpretasikan bahwa ia tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan pengintai terhadapnya. 

Saat itu dia hanya ingin fokus menemui putrinya yang baru saja pulang dari sekolah. Kembali kita disuguhkan gambaran Dian sebagai ibu yang super. Tidak ada rintangan yang dapat menghalanginya ketika Dian sudah bertekat untuk suatu hal (terlebih dalam konteks ini tekadnya adalah membahagiakan putrinya).

  Lepas dari akting Dian dalam film, kita juga bisa menemukan hal yang serupa di luar film. Bukalapak sebagai salah satu pemain besar di bidang e-commerce yang menjatuhkan pilihannya pada sosok Dian diantara deretan artis muda yang kini menghiasi jagad hiburan tanah air menunjukkan bahwa pesona Dian, yang walaupun sudah memiliki anak tetap tidak tergantikan. Dian mampu menghadirkan pesona tersendiri sehingga Bukalapak mesti “bertekuk lutut” untuk mengakui “pesona” dari sang Dian Sastro. Dengan kata lain sang ibu muda ini memiliki power tersendiri di dalam dunia hiburan tanah air.

Sosok Dian yang “super” tersebut –baik dalam film maupun sebagai sosok artis yang membintangi film tersebut- jika digambarkan dengan satu istilah, mungkin tepat kiranya untuk menggunakan iitilah yang berkembang saat ini di tengah publik yakni power of emak-emak. Istilah emak-emak memang menuai kontroversi karena sebagian pihak merasa bahwa kata tersebut cenderung peyoratif dan mungkin juga “ndeso”. Tetapi terlepas dari kontroversi kata, spirit yang dikandung dari istilah itu memiliki kebenaran tersendiri. Seorang wanita sejatinya memiliki power yang besar. Power ini salah satunya termanifestasi dengan sangat jelas ketika ia berposisi sebagai “emak-emak” (ibu).

Sosok Dian Sastro dapat dikatakan menjadi ilustrasi yang nyata tentang wujud power of emak-emak tersebut. Meskipun sudah memiliki anak Dian tetap bersinar (memiliki “aura” tersendiri). Bahkan jika merujuk pada komentar sebagian netizen yang berkomentar di youtube dikatakan bahwa Dian justru semakin semakin nampak “auranya” dibandingkan di masa lalu. Dian sebagai pemeran dalam film itu juga menunjukkan bahwa tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan langkah sang ibu dalam membahagiakan anaknya.

Sebuah pelajaran penting yang mungkin tidak disadari oleh Bukapalak sendiri karena misi mereka yang utama adalah promosi toko online mereka sendiri. Tetapi mungkin itulah kekuatan dari power of “emak” Dian yang mampu menghadirkan efek dekonstuktif. Iklan yang semestinya menguntungkan Bukalapak (menjadikan Bukalapak sebagai pusat perhatian) mampu “dirombak” sedemikian rupa sehingga Dian itulah yang berposisi sebagai pusat sementara Bukalapak berfungsi “mengitarinya”.