88826_57420.jpg
Foto: celiac.org
Pendidikan · 5 menit baca

The Power of Choice for Parents
Menguatkan Pendidikan dan Memajukan Budaya Kita

"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya," kata sebuah pepatah yang sering kita dengar. Pepatah ini adalah sebuah aksioma yang tidak bisa kita pungkiri sebagai ciptaan Tuhan. Pohon mangga pasti berbuah mangga, dan pohon durian pasti berbuah durian. Tidak pernah sebuah pohon durian berbuah cabai, bukan? Hal yang sama juga berlaku dalam hubungan orangtua-anak.

Mengapa yang demikian berlaku? Mengapa seorang anak akan menyerupai orangtuanya?

Pertama, orangtua adalah agen sosialisasi primer. Sosok ayah dan ibu memiliki kewajiban untuk mendidik serta menanamkan kebudayaan kepada anak-anaknya.

Kedua, proses pendidikan primer tersebut dilakukan melalui interaksi yang sering antara orangtua dan anak. Sehingga anak pasti mengikuti apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh orangtuanya. Seperti buah yang tidak mungkin berkembang tanpa pohon, seorang anak tidak mampu berkembang tanpa didikan dari orangtua.

Maka dari itu, pendidikan dari orangtua sangat penting dalam menentukan kemajuan budaya suatu bangsa. Tanpa peran orangtua, maka budaya, bahkan masyarakat sebuah bangsa itu sendiri akan musnah.

Namun, pendidikan primer di rumah saja tidak cukup untuk menanamkan kebudayaan. Perlu sebuah agen sosialisasi sekunder, yaitu sekolah untuk ikut andil dalam proses tersebut.

Sebagai sebuah institusi, apa peran sekolah? Sebagai sebuah institusi pendidikan sekunder, sekolah harus berperan sebagai rumah kedua bagi anak muridnya, baik negeri maupun swasta.

Maka, setiap sekolah harus menjadi rumah kedua yang nyaman, kondusif, serta mampu menyokong kegiatan belajar mengajar yang efisien. Sehingga sekolah menguatkan pendidikan yang telah diberikan orangtua di rumah pertama, serta mengarahkan anak muridnya menjadi pribadi yang beradab dan berbudaya.

Namun, apakah kenyataan berkata demikian? Tidak. Itulah kenyataan yang selama ini kita lihat di negeri ini.

Memang ada sekolah-sekolah yang berhasil mendidik murid-muridnya, dibuktikan dengan berbagai torehan prestasi yang diraih. Murid-muridnya berhasil memenangi berbagai olimpiade dan perlombaan. Sekolah-sekolah tersebut memiliki berbagai fasilitas pengajaran yang lengkap, guru-guru dengan kemampuan mengajar sangat baik, serta nama beken sebagai sekolah favorit.

Namun, masih banyak sekolah-sekolah di negeri ini yang kekurangan fasilitas pengajaran, guru-gurunya sering membolos serta mengajar asal-asalan, dan murid-muridnya hanya menjadi biang pembuat onar. Ini menunjukkan adanya sebuah kesenjangan kualitas pendidikan di negeri kita yang tak kunjung selesai meski kurikulum berganti.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada 2 penyebab utama. Penyebab pertama adalah kebijakan pendidikan yang tidak konsisten. "Tiap ganti menteri, ganti kebijakan," ujar beberapa tenaga pendidik yang beberapa kali saya dengar.

Selama 70 tahun kita merdeka, kita sudah 10 kali ganti kurikulum pendidikan. Artinya, kita gonta-ganti kurikulum 7 tahun sekali dalam jangka waktu yang sangat pendek. Sehingga perubahan positif yang diharapkan pemerintah dari penggantian kurikulum tidak dapat dirasakan oleh sekolah. Justru sekolah tidak mampu melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan, karena kebijakan pendidikan yang terus berganti-ganti.

Penyebab kedua adalah ketiadaan insentif bagi sekolah-sekolah untuk memperbaiki kualitas sebagai sebuah institusi pendidikan. Banyak sekolah favorit yang mengalami masalah over kapasitas, namun tidak menghiraukannya karena popularitas nama sekolah adalah segalanya.

Sementara, banyak sekolah-sekolah lain yang cukup potensial, namun mengalami kekurangan murid karena nama yang kurang atau belum populer. Nama beken menjadi hal utama yang ditonjolkan, bukan kualitas institusi pendidikan.

Lalu, bagaimana menyelesaikan kedua masalah ini? Solusinya adalah memberikan orangtua kekuatan untuk memilih, give the power of choice back to parents. Sebagai pemilik dari rumah pertama anak, orangtua memiliki hak untuk memilih rumah kedua yang paling cocok dengan preferensi mereka. Sistem pendidikan yang menghalangi penerapan hak ini adalah sistem pendidikan yang menghancurkan dirinya sendiri.

Untungnya, ada berbagai alternatif yang dapat ditempuh untuk mendukung penerapan hak ini. Dan penerapan yang paling efisien adalah melalui voucher pendidikan atau school vouchers. Apa itu voucher pendidikan?

School vouchers adalah sebuah program yang memberikan kesempatan kepada orangtua menggunakan anggaran pendidikan publik untuk membiayai pendidikan anak di sekolah pilihan mereka.

Pada program ini, anggaran pendidikan tidak lagi disalurkan langsung kepada sekolah-sekolah, melainkan secara tidak langsung melalui voucher yang dipegang oleh orangtua. Sehingga pendanaan institusi pendidikan akan bergantung pada jumlah voucher yang diterima dari orangtua murid. Program ini sudah diterapkan oleh 19 negara di dunia.

Lalu, mengapa school voucher menjadi solusi yang paling efisien?

Voucher pendidikan menjadi solusi yang paling efisien karena program ini membawa mekanisme pasar ke dalam sistem pendidikan kita. "Loe jual, gue beli" adalah istilah sederhana yang menjelaskan keunggulan ini. Ketika interaksi permintaan dari konsumen (orangtua) dengan penawaran dari produsen (sekolah) berlaku, maka orangtua dan anak menjadi pihak yang paling diuntungkan.

Mengapa? Selain pilihan yang lebih luas bagi orangtua (increasing parental choice), institusi pendidikan sekolah sebagai produsen juga memperoleh berbagai insentif untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang dapat dirangkum menjadi dua insentif utama.

Pertama, ketika mekanisme pasar berlaku, pendanaan sekolah akan bergantung pada minat orangtua untuk mendaftarkan anaknya untuk mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Sebagaimana barang dan jasa lainnya di pasar, konsumen yang rasional akan melihat sekolah mana yang paling sesuai dengan preferensinya.

Meski setiap orangtua memiliki preferensi masing-masing dalam hal ini, namun setiap orangtua menginginkan sekolah yang berkualitas; berkualitas tenaga pengajarnya, berkualitas fasilitasnya, dan berkualitas lingkungan pergaulannya, tidak hanya nama beken semata.

Dalam sistem ini, sekolah yang hanya mengandalkan nama beken, enggan meningkatkan kualitasnya sebagai institusi pendidikan, dan tidak mengikuti keinginan orangtua, akan kalah oleh sekolah lain yang melakukan sebaliknya.

Kedua, akuntabilitas sekolah terhadap orangtua juga meningkat dengan adanya sistem voucher pendidikan. Mengapa? Sistem voucher pendidikan membuat orangtua memiliki hubungan yang benar-benar setara dengan institusi sekolah, antara konsumen dengan produsen.

Melalui voucher, orangtua memiliki alat tukar untuk menentukan pilihannya sebagai konsumen, dan sekolah menerima pendanaan dari voucher tersebut. Jika sekolah tersebut tidak segera membenahi akuntabilitas dan transparansinya, maka orangtua dapat langsung memilih sekolah lain yang lebih transparan dan akuntabel.

Peningkatan parental choice dalam sistem pendidikan akan membentuk sistem pendidikan yang kuat dan kohesif. Sistem pendidikan yang demikian akan membentuk manusia-manusia Indonesia yang cerdas, bermoral, dan memiliki skill untuk bersaing dalam kancah global. Niscaya manusia Indonesia demikian akan memajukan kebudayaan Indonesia dan menjadikan budaya kita pemenang dalam globalisasi, bukan yang terpinggirkan karena globalisasi.

Sistem voucher pendidikan bukanlah ramuan ajaib yang akan menyembuhkan semua yang salah dengan sistem pendidikan Indonesia. Namun, sistem ini adalah upaya awal kita untuk memupuk reformasi sistem pendidikan itu, bak tunas yang baru ditanam, membuatnya menjadi semakin kuat dan kokoh.

Dari upaya itu, tumbuh pohon yang kokoh, menghasilkan buah yang ranum dan segar, yang memajukan budaya Indonesia sebagai produk manusia Indonesia yang terbarukan.