"Mereka selalu gembira bukan karena berlebihan untaian kromosom dalam sel genetiknya, melainkan karena dicintakan."

Pada kisaran pertengahan abad ke 19, istilah Chromosome (Kromosom) yang diambil dari suku kata bahasa Yunani yaitu; Choma (warna), Soma (badan), mulai didengar oleh banyak orang.

Kromosom adalah untaian protein hasil proses sintesa yang diarsiteki oleh Asam Deoksiribo Nukleat (DNA) sebagai konseptor dan dikerjakan oleh Asam Ribo Nukleat (RNA) sebagai pelaksana. 

Sekaligus, kromosom adalah kode genetika yang melekat dalam setiap individu makhluk hidup apakah hewan, tumbuhan juga manusia.

Kromosom nantinya dapat diturunkan kepada keturunannya baik secara seksual ataukah aseksual, termasuk keturunan hasil persilangannya dengan spesies yang sama.

Adapun makhluk ghaib belum pernah diteliti apakah berkromosom ataukah tidak, karena sampai sekarang susah melakukan penelitiannya.

Dalam kondisi normal, terdapat dua untaian protein kode genetika yang masing-masing untaian terdapat 23 pasang kromosom di dalamnya.

Kedua untaian itu, membentuk seperti huruf X dan Y, dimana dalam pasangan kedua untaiannya dapat menentukan individu berjenis kelamin apakah pemiliknya.

Jika untaian kromosom X berpasangan dengan X, menjadi XX maka jantanlah pemiliknya yang disebut jenis kelamin homogenik.

Sedangkan jika untaian kromosom X berpasangan dengan pasangan untaian berbentuk Y, menjadi XY, maka betinalah pemiliknya, atau disebut jenis kelamin heterogenik.

Kepastian bahwa kromosom adalah kode genetika yang unik dalam setiap individu makhluk hidup, telah ditetapkan pada 1865 oleh seorang ilmuwan sekaligus biarawan, Gregor Mendel namanya. 

Namun demikian, dunia baru mengakui teori genetika klasiknya sekira 50-an tahun setelah kematiannya.

Genotip Dan Fenotip.

Kaidah genetika klasik sebagai dasar ilmu genetik yang diajarkan hingga kini, telah memilah 2 hal yang mengaitkan faktor genetis.

Pertama, berupa faktor tak kasatmata karena berukuran molekuler dalam setiap individu, yang disebut Genotip.

Kedua, faktor kasatmata karena bisa dirasakan oleh panca indera sebagai hasil perpaduan antara unsur genetis individu dengan lingkungan tempat hidup, termasuk perilakunya, yang disebut Fenotip.

Kedua faktor tersebut sangat memengaruhi pewarisan sifat makhluk hidup, berkaitan dengan gen kromosom unik yang dimiliki, beserta hasil-hasil yang dapat diprediksi atas persilangan kromosom antar individu.

Dari sini, pertemuan antar dua individu yang berbeda jenis kelamin, melalui persilangan antar kromosom, maka lambat laun turun-temurun menghasilkan suatu populasi beragam karakter beragam Genotip dan Fenotip.

Hasil besarnya, perbedaan banyak individu yang unik turun-temurun pun tak dapat dihindari. Satu misteri mulai terkuak atas keragaman makhluk hidup di bumi.

Sampai disini saja? Oh, belum. Karena ilmu pengetahuan dianugerahkan guna mengasah akal manusia demi memecahkan misteri lainnya, dalam cakupan untuk kebaikan manusia itu sendiri.

3 Untaian, Urutan 21.

Syahdan, setelah Mendel menyampaikan kaidah genetika klasik yang waktu itu masih belum diakui dunia, pada tahun 1866 adalah John Langdon Down seorang dokter asal Inggris menemukan gejala umum keterbelakangan metal dan fisik pada manusia.

Butuh waktu lama untuk menelaah faktor-faktor penyebab kelainan pada manusia tersebut. 

Hingga tahun 1959 disimpulkan dan berlaku hingga saat ini adalah bahwa kelainan tersebut disebabkan adanya pertumbuhan untaian kromosom pada urutan yang ke 21.

Dalam kondisi normal, setiap untaian kromosom berjumlah sepasang. Namun dalam kondisi abnormal, terdapat 3 untaian pada urutan ke 21 kromosom tersebut.

Ketidaknormalan ini disebut trisomi-21 atau 3 pasang untaian kromosom pada urutan protein genetik ke 21. Angka 21 dan 3 pun menginspirasi dunia agar umat manusia lebih peduli pada sindrom ini.

Temuan ilmiah dalam lingkup Biokimia tersebut lalu dihargai. Bahkan PBB melalui organisasi kesehatan dunia (WHO) pun pada tahun 2007 menyatakan setiap tanggal 21-Maret adalah hari Sindrom Down.

Kata ‘Down’ bukan berarti ‘turun’ atau ‘surut’ atau ‘tenggelam’. Melainkan ‘Down’ karena sosok yang memberikan gambaran lengkap sindrom tersebut adalah dokter John Langdon Down.

Ilmu Pengetahuan Tersendiri.

Meski pertanyaan atas penyebab sindrom ini telah diketahui, yakni kelainan untaian kromosom ke 21, namun pemicu kelainan tersebut masih dalam penelitian.

Perkiraan penyebabnya beragam, yang berkisar pada proses pertumbuhan janin dalam rahim sang ibu, semenjak pembuahan pertama terjadi, dimana sebuah sel sperma berjumpa satu sel telur.

Namun, penyebab pasti mulai dari apakah karena faktor Genotip menurun dari kedua orang tua. Hingga apakah karena kondisi fisik, jiwa, asupan gizi, paparan elektromagnetik, radiasi nuklir dan lain sebagainya terhadap orang tua si pengidap Sindrom Down, masih dalam perdebatan dan penelitian ilmiah lanjutan.

Oleh karenanya, hingga kini hal yang dapat dilakukan guna menghadapi kenyataan bahwa Sindrom Down berada dalam kisaran 1 dalam setiap 1.000 kelahiran per tahun, maka kepedulian terhadap pengidap Sindrom Down menjadi ilmu pengetahuan tersendiri.

Hanya Suka Cita Dan Ketulusan.

Kepedulian orang-orang terdekat dan berarti bagi pengidap Sindrom Down pun menjadi penting. 

Juga fasilitas terapi dan sekolah berkebutuhan khusus berkurikulum tersendiri, termasuk pengajar terlatih khusus guna menjembatani kebutuhan pengidap Sindrom Down, agar kelak tumbuh perbaikan kualitas hidupnya.

Setiap pengidap Sindrom Down adalah manusia unik, yang karena jarang terlahirkan, justru menjadikannya khusus.

Dengan segala kekurangan fisik dan mental, maka pengidap Sindrom Down adalah anugerah, sebagai pemacu peningkatan kadar ilmu pengetahuan, agar akal dan budi pekerti manusia tetap terasah.

Dalam perilakunya, pengidap Sindrom Down adalah unik. Sorot matanya begitu tajam, namun polos. Sama sekali tak terbersit niatan untuk menyakiti lawan tatap matanya sekalipun.

Riang tawa lugu pengidap Sindrom Down, menularkan kebahagiaan orang-orang disampingnya. Mata batinnya begitu tepat menebak siapa saja orang yang butuh rangkulan bersahabat nan hangat.

Mereka selalu gembira bukan karena berlebihan untaian kromosom dalam sel genetiknya, melainkan karena dicintakan.

Dalam kalbu mereka, hanya suka cita dan ketulusan.

The Peanut Butter Falcon.

Berkisah tentang Zak, pria sebatang kara berusia 20-an tahun pengidap Sindrom Down.

Zak mempunyai mimpi menjadi pegulat, atas kekagumannya pada seorang pegulat profesional yang melegenda, berjuluk The Salt Water Redneck.

Jalan hidup mempertemukan Zak dengan Tyler seorang pria penjala ikan yang hampir putus asa atas semua kegagalan hidupnya. Tindakan merugikan sejawat, dilakukan Tyler sebagai pelampiasan gundah.

Sejalan dengan itu, ditengah keduanya, hadir sosok Eleanor, seorang wanita perawat sebuah rumah jompo yang harus bertanggungjawab atas raibnya Zak.

Ketiganya lalu bertemu. Seorang pria yang dikaruniakan pandangan hidup bersukacita dan tulus kepada sesama. Seorang pria yang mencari jawaban atas kegagalan hidup. Seorang wanita yang rela memikul tanggungjawab yang semestinya bukan menjadi bebannya.

Tyler dan Eleanor yang terlahir berkromosom genetik normal, namun berliku jalan hidupnya. 

Keduanya disangga oleh Zak yang terlahir berkromosom genetik tak normal, yang atas karunianya ini, Zak selalu memandang kehidupan hanyalah sekedar permainan belaka

The Peanut Butter Falcon dikemas dalam alur drama, dengan cara bertutur yang dibuat sedemikian rupa, sehingga pemirsa tak sadar tengah dibawa ke alam dalam pandangan pengidap Sindrom Down.

Selebihnya, dalam film ini, juaranya siapa lagi jika bukan Zack Gottsagen pemeran Zak, yang dalam kenyataannya adalah seorang pengidap Sindrom Down.

Sosok Zak mewakili bagaimana seorang pengidap Sindrom Down bertualang meraih mimpi-mimpinya dengan cara uniknya dalam memandang dunia.

The Peanut Butter Falcon buah karya seni sinema yang menanamkan pesan moral untuk mengajak pemirsa merenungkan, bahwa Sindrom Down sebenarnya adalah sebuah karunia.

The Peanut Butter Falcon menjadi alternatif pilihan yang menarik untuk menikmati karya sinema selain suguhan aksi laga, kemewahan dan horor mengerikan.

Bukankah setiap suguhan bagi mata penglihatan meski sekedar hiburan, bakal memengaruhi alam bawah sadar yang kelak menjadikannya kenyataan?

Kekerasan dan kengerian, dua kata yang tak bakal pernah hadir dalam kalbu pengidap Sindrom Down, kecuali suka cita dan ketulusan semata.