Globalization era affect the trust in Traditional Myth.

Era globalisasi adalah sebuah era dimana adanya perubahan dan perkembangan secara besar yang melanda di seluruh dunia, perkembangan ini bisa dari ekonomi, sosial, politik, teknologi, lingkungan, budaya, dan kepercayaan. Hal tersebut memberikan berbagai dampak baik itu dampak positive dan negative, kita tidak bisa memungkiri hal tersebut.

Di era globalisasi sekarang ini (terlebih lagi di Indonesia), banyak anak muda yang mengalami perkembangan-perkembangan mulai dari yang dapat dikenali oleh panca indera seperti cara berpakaian, cara bicara, cara memperlakukan sesama. Hingga kepada perkembangan yang tidak dapat dikenali oleh panca indera seperti cara berpikir, logika seseorang, dan juga kepercayaan mereka terhadap sesuatu.

Dampak negatif dari era globalisasi ini terasa nyata pada kehidupan sehari-hari, terlebih lagi di kalangan anak remaja. Anak remaja mengalami perkembangan cara berpikir dan berlogika yang sangat cepat, karena hal tersebut dikarenakan cepatnya informasi dapat diterima oleh setiap orang. Hal ini dikarenakan anak remaja akan dapat lebih mudah untuk terpengaruh sesuatu yang disebabkan karena masa remaja merupakan masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa, sehingga masih labil dan membutuhkan role model yang bisa berupa siapa saja dan dari mana saja.

Contoh nyata dari dampak negatif globalisasi adalah Industrialisasi yang menyebabkan banyak pencemaran lingkungan, meningkatnya gerakan separatis di dunia maya, meningkatkan gaya hidup yang merusak budaya-budaya dan kepercayaan tradisional, dan juga menyebabkan lunturnya kepercayaan akan nilai-nilai luhur yang melekat pada kehidupan bermasyarakat rakyat Indonesia.

Pada pembahasan kali ini kita akan berfokus pada menghilangnya kepercayaan anak remaja kepada budaya-budaya dan kepercayaan tradisional. Tradisi dan kepercayaan tradisional adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dengan cara yang sama, dan dapat dimaknai sebagai sesuatu yang memiliki nilai manfaat oleh banyak orang.

Baca Juga: Mitos Kupu-kupu

Di era globalisasi saat ini remaja sudah mulai meninggalkan tradisi dan kepercayaan tradisional seperti jika ada kupu-kupu masuk rumah maka akan ada tamu yang akan datang, bersiul di sore hari dapat mengundang makhluk halus ke rumah, duduk diatas bantal akan menyebabkan bisulan, bangun siang dipercaya dapat membuat rezeki kita dipatok ayam.

Hal-hal di atas merupakan beberapa mitos atau tradisi kuno yang dianggap non-sense dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya bagi para remaja. Para remaja mengambil kesimpulan seperti itu karena mereka menganggap tidak ada korelasi antara hal-hal tersebut, seperti apa hubungan antara bersiul dengan mengundang makhluk halus ke rumah. Hal tersebut dianggap tidak berkorelasi karena merupakan 2 variabel bebas yang tidak saling terikat satu sama lain.

Mengesampingkan pandangan para remaja, mari kita telisik lebih dalam mengapa mitos dan tradisi tersebut muncul di sekitar kita. Menurut Darmodjo (1985;5) mitos muncul karena adanya keterbatasan pemikiran manusia pada zamannya untuk menalarkan sesuatu secara empiris, dan juga masyarakat ingin kehidupan mereka lebih teratur dan terstruktur dengan cara membuat sebuah kungkungan bernama kepercayaan tradisional.

Penurunan tingkat kepercayaan anak remaja terhadap mitos dan tradisi lokal ini karena perkembangan pola pemikiran dan logika remaja, sehingga para remaja cenderung untuk mengabaikan hal tersebut dikarenakan hal tersebut dianggap tidak memiliki dampak apapun bagi kehidupan sehari-harinya. Akhirnya para remaja akan lebih berfokus kepada hal-hal yang bersifat empirical atau bersumber pada data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Para remaja di era globalisasi ini cenderung akan merasionalisasikan segala hal yang mereka ketahui. Merasionalisasikan adalah sebuah progress otak, dimana otak akan melakukan rasionalisasi terhadap segala bentuk pengalaman, pengetahuan dan juga kepercayaan mereka itu sendiri.

Materialisme dan Positivisme 

Materialisme menurut Richins and Dawson (1992) adalah bahwa sebuah materi harus berasal dari sebuah materi, dan tidak mungkin berasal dari sebuah ketiadaan. Sedangkan Materialisme menurut Demokritos adalah Jiwa manusia merupakan material yang tersusun dari atom-atom yang sangat kecil, dan Demokritos mengakui secara gamblang bahwa dia tidak mengakui entitas non-material seperti roh, hantu, dan malaikat.

Secara etimologi Materialisme berasal dari kata 2 kata, yaitu  matter yang dalam bahasa Latin disebut material yang diartikan sebagai bahan untuk menyusun sesuatu ataupun segala sesuatu yang tampak dan isme adalah pemahaman atau sudut pandang yang berdasarkan ideologi. Dan jika dilihat secara utuh maka bisa diartikan bahwa Materialisme adalah sebuah pemahaman mengenai bahwa segala sesuatu memiliki bahan penyusunnya.

Positivisme adalah sebuah pemikiran yang diciptakan oleh August Comte, pemikiran ini menyatakan bahwa segala sesuatu harus bisa publicly observe untuk bisa dinyatakan kebenarannya, dan berdasarkan pada bukti-bukti yang bisa dirasakan oleh panca indera seperti bisa dibuktikan wujud dan bentuknya.

Positivisme memiliki 3 sifat mendasar yaitu, Nyata dan jelas karena kejadian tersebut harus bersumber langsung dari orang yang mengalaminya, Pasti dan dapat dipertanggungjawabkan karena suatu hal tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, Praktis dan Bermanfaat karena hal tersebut harus memiliki manfaat dan harus bersifat praktis dan jelas.

Pengaruh Materialisme dan Positivisme terhadap Traditional Myth

Di masa globalisasi ini, anak remaja akan menjadi lebih skeptis tentang mitos dan tradisi yang ada seperti bersiul di sore hari akan mengundang makhluk halus, mereka menganggap hal tersebut hanya khayalan belaka dan tidak memerdulikan mitos dan tradisi seperti itu.

Hal tersebut selaras dengan Materialisme dan Positivisme, dimana remaja tersebut akan tidak mempercayai mitos dan tradisi tersebut dikarenakan mereka tidak dapat menemukan kebenaran dari hal tersebut, dan menganggap hal tersebut non-sense sehingga mereka akan termasuk kepada orang-orang materialisme dan positivisme.

Mitos dan Tradisi tersebut tidak dapat dibuktikan dan tidak dapat publicly observe sehingga, para remaja akan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak benar dan cenderung akan mengabaikan tradisi-tradisi tersebut (Meski juga hal tersebut sudah diturunkan dari nenek moyangnya).

Dan juga mitos seperti bersiul bisa mengundang makhluk halus tersebut dianggap non-sense karena tidak nyata dan jelas, tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, dan dianggap tidak memiliki manfaat selain hanya menakut-nakuti anak.

Kesimpulan 

Bahwa fenomena anak remaja yang sudah mulai tidak mempercayai mitos dan tradisi tersebut bisa dijelaskan melalui teori filsafat oleh Demokritos dan August Comte dimana dengan teori Materialisme dan Positivisme, dapat menjelaskan mengenai dasar anak remaja bersikap seperti itu.

Anak remaja di era globalisasi akan cenderung untuk menjadi skeptis dalam segala hal, dikarenakan mereka mendapat insight bahwa segala sesuatu harus dapat dibuktikan secara nyata, publicly observe, dapat dipertanggungjawabkan dan harus bersifat nyata dan jelas.