Penulis
1 tahun lalu · 87 view · 4 menit baca · Pendidikan 61454_88557.jpg
intofilm

The Miracle Worker

Sebuah Tinjauan Psikoanalisis

Kita tidak bisa mengingkari kesan bahwa manusia umumnya menggunakan standar yang keliru. Mereka mencari kekuasaan, sukses, dan kekayaan untuk diri mereka sendiri, memuji diri mereka sendiri di hadapan orang lain, dan mereka memandang rendah pada apa yang sebenarnya berharga dalam hidup.” ~ Sigmund Frued.

Film ini menceritakan tentang seorang perempuan berusia sepuluh tahun yang bernama Hellen Keller. Ia dilahirkan dari pasangan Arthur Keller dan Catie Keller. Ia juga memiliki kakak tiri bernama James dan adik yang masih bayi.

Hellen adalah anak yang menderita tuna netra, tuna rungu, dan tuna wicara. Ketiga indra ini nyaris tidak berfungsi sama sekali. Ia hanya mengandalkan indra penciuman, meski kondisi intelektualnya masih berfungsi dengan baik. Namun demikian, keterbatasan indra yang dimiliki Hellen membuatnya sangat emosional, ditambah pikirannya tidak berpengaruh apa-apa dalam hidupnya.

Hellen dibesarkan dalam lingkungan keluarga nigrat. Ia terbiasa dengan hidup mewah dan dimanja oleh ibunya. Hal ini terjadi karena memang kedua orang tuanya belum memiliki cara yang tepat untuk mengasuh anaknya.

Akhirnya, Hellen menjadi anak yang emosional, liar, dan tidak bisa berperilaku baik, meski kenyataannya Hellen adalah seorang anak yang cerdas. Keterbatasan fisiklah yang sebenarnya sangat mempengaruhi kondisi Hellen, bukan secara khusus dari kedua orang tuanya.

Sehingga Hellen tidak bisa menyerap apa pun yang ada di lingkungannya. Namun, di usianya yang kesepuluh tahun, Hellen sudah dapat menunjukkan kecerdasannya, meski dalam porsi yang terbatas. Sehingga cara-cara yang lebih intensif, diharapkan akan bisa mengajari Hellen tentang segala sesuatu.

Pada mulanya, sang ayah ingin mengirim Hellen ke rumah sakit jiwa guna mengobati keterbatasan fisiknya. Namun ide itu tidak disetujui. Akhirnya, sang ayah mengirim surat kepada Dr. Chisolm di Baltimore guna dikirimkan seorang pengasuh sekaligus pengajar untuk Hellen.

Setelah surat itu disetujui, Dr. Chisolm menugaskan Annie Sullivan untuk menjadi pengasuh sekaligus pengajar Hellen. Setibanya di rumah Hellen, Sullivan meminta izin kepada kedua orangtua Hellen untuk tinggal berdua di rumah gudang tak terpakai yang terletak tak jauh dari rumah Hellen. Hal ini dilakukan agar proses mengasuh dan mengajari Hellen bisa terlaksana secara intens.

Secara bertahap, Sullivan mulai mengajari Hellen tentang nama benda-benda di sekelilingnya, mengajari cara bagaimana makan dengan benar, tentunya jenis pengajaran ini terbatas menggunakan bahasa simbol. Hellen tampaknya mulai memiliki perkembangan yang cukup baik, dengan sedikit tidak menunjukkan sikap emosinal dan liarnya. Namun demikian, Sullivan menyadari bahwa Hellen belum sepenuhnya memahami hal-hal yang telah ia ajarkan kepada Hellen.

Secara behavioris, barangkali Hellen telah mengalami sedikit perkembangan. Namun, metode ini agaknya bertentangan dengan model kognitif di mana Hellen tidak diberi kesempatan untuk melakukan sesuai kehendaknya dalam hal belajar.

Sullivan menggunakan cara-cara yang agak memaksa yang pada intinya Hellen harus paham tentang apa yang ingin Sullivan ajarkan, sehingga proses menjadi tidak penting. Akan tetapi, cara-cara ini wajar dilakukan dan mungkin mengingat kondisi keterbatasan fisik yang Hellen alami cukuplah parah.

Jika ditinjau dari sudut pandang teori psikoanalisis Frued, struktur kepribadian Hellen sangatlah kompleks, namun tidak lengkap atau sempurna. Struktur itu terdiri dari Id, Ego, dan Superego.

Id adalah kepribadian seseorang ketika dilahirkan. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id diatur oleh asas kesenangan, bersifat tidak logis, amoral, dan didorong oleh satu kepentingan. Struktur ini tentunya telah ada dalam diri Hellen. Ini adalah naluri hewani yang selalu melekat dalam diri setiap orang.

Sementara itu, Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Tugas utama Ego menjadi pengantar naluri-naluri dengan lingkungan sekitar. Ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor.

Ego berlaku realistis dan berpikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi memuaskan kebutuhan-kebutuhan. Pada tahap ini, tampaknya Hellen masih memiliki kelengkapan dalam fungsi Ego, karena akal Hellen masih berfungsi dengan baik, meski tertutupi kecacatan indra.

Selanjutnya, Superego. Ini adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian, kode moral dari individu yang urusan utamanya adalah apakah sesuatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego merepresentasikan hal yang ideal yang real dan mendorong bukan pada kesenangan tetapi pada kesempurnaan. Superego berfungsi menghambat impuls-impuls dari Id.

Sampai batas ini, tampaknya jenis kepribadian Hellen pada tahap Superego ini nyaris tidak lengkap. Hellen belum bisa dikatakan telah melakukan proses internalisasi nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, atau jenis kebudayaan yang ada di lingkungan sekelilingnya, sehingga secara psikis, kondisi Hellen dapat dikatakan abnormal atau aneh. Seharusnya, pada usia sepuluh tahun, Hellen telah menjadi perempuan sempurna dengan segala tingkah normal yang ia miliki sebagaimana anak pada umumnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kecacatan fisik yang Hellen amali telah mencederai aspek spiritual dan intelektual yang sebenarnya normal. Sehingga, metode yang harus ditempuh untuk mengajari Hellen tentang banyak hal adalah dengan mulai melakukan pembiasaan-pembiasaan, menyerap benda-benda di sekelilingnya, dan melakukan internalisasi nilai-nilai yang telah tumbuh di lingkungannya.

Hal inilah yang secara tepat telah dilakukan oleh Sullivan. Dengan penuh kesabaran, ia secara kontinyu melakukan transformasi pengetahuan kepada Hellen, tepat ketika Hellen sadar dan paham tentang benda yang disebut “Air”. Pada saat itulah struktur Superego dalam diri Hellen mulai terbuka.

Hingga akhirnya Hellen dapat menyerap semua yang diajarkan kepadanya. Hellen kemudian hidup dengan cara-cara yang normal. Ia pun tumbuh menjadi dewasa, menempuh pendidikan dengan baik, dan menjadi seorang pengacara terkenal di zamannya meskipun ia mempunyai banyak keterbatasan.

Film ini memberikan arti penting tentang betapa cacat fisik itu hanyalah ilusi imajiner yang mencederai potensi dan aktualisasi diri manusia. Potensi diri bukan terletak pada seberapa lengkap fungsi biologis dan psikologis diri kita, tetapi lebih pada usaha keras dalam menginternalisasi nilai dalam hidup. Kita bahkan tidak layak merasa lebih baik di hadapan orang-orang yang secara “fisik” cacat.

Artikel Terkait