1 tahun lalu · 631 view · 7 min baca menit baca · Hukum 94614.jpg
Ekspedisi Indonesia Biru

The Mahuzes : Mereka yang Berjuang Dalam Senyap

Ponsel saya bergetar. Sebuah notifikasi masuk.

“Kak, jangan lupa donasi bukunya. Donasi tersebut akan disumbangkan untuk Papua. Terima kasih.”

Syarat untuk mengikuti kegiatan ini adalah donasi minimal 1 buah buku.

Saya sudah berada di selasar Fisipol UGM, seorang panitia mengarahkan saya menuju salah satu gedung di lantai 2. Dua buku seri microsoft office sudah saya genggam. Saya berharap buku ini berguna nanti di sana. Saya buka twitter dan melihat timeline di poster. Saya belum terlambat.

Hari ini saya menghadiri talkshow inspiratif yang menghadirkan 2 pejabat tinggi Papua, Stepanus Malak (Bupati Sorong) dan Willem Wandik (Bupati Puncak). Papua di Mata Jogja, demikian nama talkshow yang menjadi bagian dari rangkaian program “Corak Tanah Papua.” Talkshow tersebut mengulas bagaimana kondisi pendidikan nun jauh di Indonesia timur, bagaimana sekolah berbasis agama yang didirikan gereja menolong anak-anak Papua dari buta huruf, konflik dan kesenjangan, serta upaya menyelesaikan hal tersebut. 

“Kak, sesi kedua nanti ada pemutaran film. Hadir ya Kak.” Seorang panitia menyapa saya. Hangat.

“Tentu saja,” saya melemparkan senyum.

Sesi kedua ini dimulai selepas maghrib. Tadinya film yang akan ditayangkan berjudul  “Raja Ampat,” namun karena sesuatu hal, panitia memilih memutar film dokumenter “The Mahuzes.” Sebuah film berdurasi 1 jam 25 menit yang diproduksi oleh Watchdoc dan Ekspedisi Indonesia Biru. Sebuah film yang berangkat dari kisah nyata perjuangan Marga Mahuze di Merauke mempertahankan hak tanah ulayat. Sebuah film yang menyorot gerakan sosial kaum akar rumput menentang proyek 1,2 juta hektare lahan untuk kelapa sawit dan tanaman industri. 

Perlahan tapi pasti, proyek itu berhasil menggerus kehidupan Marga Mahuze yang sangat bergantung pada alam dan hasil hutan. Film tersebut menyisakan keping-keping pertanyaan di kepala saya. Jika proyek terus berlanjut, seberapa lama mereka sanggup bertahan? 

Ekspedisi Indonesia Biru & Pergulatan Kaum Akar Rumput

Dua pria itu telah bertekad. Bertekad menempuh perjalanan 365 hari mengelilingi Indonesia. Apapun risiko dalam perjalanan akan dihadapi. Perbekalan pun telah disiapkan jauh-jauh hari. Perbekalan meliputi aneka jenis kamera seperti Go Pro, underwater camera, drone, DSLR, juga laptop, dan masih banyak lagi. Tidak ada sponsor  yang membiayai. Semua murni dana pribadi ditambah donasi beberapa sahabat.

Kedua pria itu bernama Dandhy Laksono dan Ucok Suparta. Selama setahun, mereka berkendara menggunakan motor bebek 125 cc modifikasi keluaran tahun 2003 dan 2005, merekam dan mendokumentasikan tiap sudut yang mereka singgahi dengan perspektif yang tidak biasa. Perjalanan dimulai dari tanggal 1 Januari dan berakhir 31 Desember 2015. Perjalanan menempuh jarak 19.800 km ini diberi nama “Ekspedisi Indonesia Biru.” 

Indonesia ini kaya! Sumber daya alamnya melimpah! Namun, ketimpangan masih saja menggurat, menampilkan wajah-wajah kemiskinan dan konflik sosial yang kelam. Akar muasal konflik bermula dari perebutan akses terhadap SDA. Tak heran, pelosok negeri yang menjadi target Dandhy dan Ucok merupakan lokasi-lokasi yang rawan konflik terkait sumber daya alam. Mereka berdua menjadi saksi bagaimana pergulatan kaum akar rumput menjaga ekologi adat dan mempertahankan hak tanah ulayat melawan cakar-cakar kapitalisme atas nama pembangunan dan investasi. 

“Ini oleh-oleh terpenting, 12 terabyte dokumentasi, 6 harddisk, saksi perjalanan kami,” Sela Dandhy sekembalinya ke Markas Watchdoc di Bilangan Jakarta Timur. Selama perjalanan di tahun 2015 mereka berhasil mengunggah puluhan video pendek dan beberapa film dokumenter melalui kanal youtube Watchdoc Image. Beberapa film dokumenter diantaranya berjudul Samin versus Semen, Kala Benoa, Kasepuhan Ciptagelar, Lewa di Lembata, dan The Mahuzes. Hingga 2017, proses pengunggahan video dan film masih terus berlanjut.

The Mahuzes merupakan film dokumenter terpanjang yang diunggah di tahun 2015. Konflik-konflik yang mengemuka, intimidasi-intimidasi, gambaran hutan yang tergerus dan rusak dari video udara, kelangsungan hidup Suku Malind bermarga Mahuze yang terancam, serta bagaimana gereja dan masyarakat adat berupaya menyelesaikan konflik tanpa kekerasan disajikan secara apik dan menyentuh sisi kemanusiaan.

The Mahuzes, Ini adalah kisah mereka yang berjuang dalam senyap.

The Mahuzes : MIFEE mengancam hidup kami!

Tuan dan puan, pernah dengar istilah MIFEE sebelumnya? MIFEE merupakan akronim dari Merauke Integrated Food and Energy Estate, sebuah proyek skala besar berbasis korporasi yang menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan dan energi indonesia dan dunia. Proyek MIFEE mengubah 1,2 juta hektare (setara seperempat luas Merauke) lahan dan hutan yang ada menjadi areal perkebunan kelapa sawit, sawah, dan aneka tanaman industri. Padahal area tersebut merupakan kawasan hutan lindung dan hutan adat. 

Proyek MIFFE menyajikan potret kelam dan cerita getir bagi orang Malind. Seperti di Kampung Zanegi misalnya, perusahaan menjanjikan kehidupan yang lebih baik kepada orang Malind. Dalam kampanyenya, perusahaan yang terikat MIFEE menawarkan solusi atas krisis pangan Indonesia dan dunia. Pada kenyataannya, masyarakat lokal yang sangat bergantung dengan alam dan hasil hutanlah yang mengalami krisis pangan. 

Ini masalah serius. Hak masyarakat adat atas tanah ulayat justru terabaikan. Orang Malind kesulitan mencari hewan buruan, ikan, dan air bersih. Angka gizi buruk dan kerawanan pangan meningkat. 

Sebelum MIFFE masuk, orang Malind sangatlah tergantung pada hasil hutan dan lahan sagu. Kini, dusun sagu tergerus dan rusak. Padahal sagu adalah makanan pokok tak tergantikan. Eksploitasi dan deforestasi hutan ini dampaknya jauh lebih fatal jika dibandingkan janji-janji manis perusahaan.

Belum ditambah faktor migrasi. Ya, perusahaan membawa pekerja-pekerja dari luar Papua. Migrasi ini menambah beban tersendiri bagi masyarakat setempat. Masyarakat yang buta huruf dan berpendidikan rendah tentu akan kalah bersaing dengan tenaga kerja asing. Situasi seperti ini sewaktu-waktu bisa memicu konflik sosial. Bayangkan tuan dan puan sekalian, sudah dengan kondisi seperti itu mereka masih mendapat intimidasi dan penangkapan dari aparat. Dilansir dari situs Mongabai, sepanjang April hingga Juli 2015, ada 531 kasus penangkapan oleh aparat. Sungguh memilukan.

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) telah mengajukan draft undang-undang Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat (PPHMA) guna menyelamatkan mereka ketika berhadapan dengan berbagai masalah hukum, konflik hingga intimidasi. Namun sampai saat ini belum ada keputusan dan tindak lanjut dari pemerintah terkait hal tersebut.

Tak ada yang mau mendengar suara-suara jerit hati Orang Malind yang kehilangan tanah dan hak-hak asasinya. Pun media mainstream Ibukota. Media lebih tertarik pada isu politik berbalut SARA dibandingkan isu kemanusiaan. Karena itu lebih menjual.  Ulasan seperti ini di beberapa media online tidak seviral dan seheboh kasus first travel dan isu kekinian lainnya. Pada akhirnya Orang Malind berjuang dalam senyap. Gema suara mereka terbungkam nyaris tak terdengar.

Keadaan Orang Malind menyentuh hati Dandhy Laksono. Setibanya tim Ekspedisi Indonesia Biru di Merauke, Dandhy mengumpulkan data, mengobservasi lapangan, hingga mewawancarai Orang Malind bermarga Mahuze. Bagaimana Marga Mahuze tidak murka? Patok-patok perbatasan di kawasan hukum adat dirusak oleh perusahaan. Alat-alat berat didatangkan. Hutan dan lahan sagu dihancurkan. Tanah-tanah digusur.

Dandhy tak tinggal diam, naluri jurnalistik dan kemanusiaannya terusik. Dandhy kemudian mendokumentasikan apa yang dia lihat dan dengar dalam bentuk film dokumenter. The Mahuzes, Ini adalah kisah perjuangan Marga Mahuze menentang proyek 1,2 juta hektare lahan untuk kelapa sawit.

“Makanya ya Pak, gusur lahan sagu (sembarangan) dilarang. Kita ini punya hukum adat! Ada sanksi bagi yang melanggar. Kita ini punya raja. Orang Papua harus makan sagu!” Kata seorang Mama berapi-api. Bagi Marga Mahuze sagu adalah raja.

Di lain kesempatan saat Dandhy dan Ucok menyusuri sungai,

“Dulu Kali Bian airnya bersih bisa langsung diminum. Tapi setelah ada perusahaan kami tidak bisa lagi minum. Kami harus beli air bersih atau masak dari sumur galian ,” kata seorang warga di tepi Sungai Bian.

“Sejak perusahaan gusur-gusur, kali berwarna seperti ini (keruh) sampai ke hulu,” ujar Darius Nenob, Kepala Suku Mandobo. 

Sebelum  perusahaan kelapa sawit masuk, Kehidupan marga Mahuze nyaris tenang tanpa konflik. Meski pernah ada konflik antarmarga terkait batas tanah adat, tapi diupayakan jalan damai melalui pertemuan yang melibatkan tokoh adat, tokoh agama (pastor), serta masyarakat setempat.

Ketegangan sempat memuncak kembali karena ada indikasi warga yang menerima uang suap. Selain itu, palang yang ditanam warga dirobohkan orang perusahaan.  Warga geram. Akhirnya warga kembali dikumpulkan dan diajak berdialog untuk kesekian kalinya. Setelah memuntahkan uneg-unegnya, warga membuat kesepakatan tertulis hitam di atas putih (bermaterai). Setiap warga menandatangani kesepakatan tersebut. Kesepakatan tersebut berisikan janji seluruh warga menjaga tanah ulayat dan hukum adat dari segala sesuatu yang mengancam, termasuk perusahaan.

“Karena itu Ya Bapa, pada kesempatan ini seluruh anggota Marga Mahuze Besar menunjukkan rasa kepedulian dan perjuangan untuk melindungi tanah, hutan, rawa, dan seluruh sumber kehidupan bagi kelangsungan hidup seluruh Marga Mahuze Besar,” Ucap Pastor Nico Rumbayan di depan gereja sembari memanjatkan syukur kepada Tuhan atas penandatanganan kesepakatan tersebut bersama para warga. 

The Mahuze mengingatkan saya pada kisah Chico Mendez, seorang martir dari Bumi Samba, Brazil yang memperjuangkan nasib para penyadap karet, tanah adat, serta hutan hujan Amazon dari upaya deforestasi yang dilakukan korporasi (Company Bordon).

Tak terima dengan deforestasi, Chiko menyatakan perlawanan. Namun tidak dengan senjata. Chiko berjuang bermodalkan retorika. Namun aksi tersebut diganjar dengan nyawa. Tanggal 22 Desember 1988, Chiko ditemukan tewas dengan luka tembak di tubuhnya. Penembakan Chiko merupakan bentuk pelanggaran HAM dan kejahatan korporasi. Kematian Chiko menimbulkan gelombang kemurkaan masif di Brazil hingga menjadi headline internasional. Keberanian Chiko menjadi inspirasi. Kisahnya diabadikan dalam film dokumenter berjudul “The Burning Season.”

“Pada awalnya saya mengira saya berjuang untuk menyelamatkan pohon karet. Kemudian saya berpikir sedang berjuang untuk menyelamatkan hutan hujan Amazon. Sekarang saya sadar, saya berjuang untuk kemanusiaan.” (Chico Mendes)

Masihkah ada empati untuk mereka yang terintimidasi konflik?

Saya sangat tersentuh, ketika tulisan saya menjadi inspirasi Ari Perwitasari (mahasiswi ilmu komunikasi UGM) dalam penulisan skripsi (2017) dengan judul "Generasi Muda Memandang Papua (Analisis Resepsi Konflik Adat dalam Film Dokumenter The Mahuzes)." Sekaligus saya dijadikan narasumbernya.

Tuan dan puan, Kiranya kisah di atas mampu menjadi sebuah refleksi, tentang seberapa dalam hati nurani dan kepedulian kita terhadap krisis kemanusiaan...

Referensi :

1. indonesiabiru.com
2. mongabai.co.id
3. aman.or.id
4. blog.cifor.org 

Artikel Terkait