Mungkin, di umur kita yang sekarang, atau bisa dibilang generasi muda yang masih mencari jati dirinya. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang kita sendiri pun masih belum mampu untuk menjawabnya.

Terkadang kita seperti sangat mengenal diri kita sendiri, tapi kadang kita tak mengenal siapa kita sebenarnya. Apa yang kita mau, kita cari, kita bisa kehilangan arah tanpa pernah tahu tujuan kita. Kita bisa tersesat tanpa pernah tahu kemana kita pergi, kadang kita merasa seperti pemenang tapi perlombaan apa yang sedang kita jalani, kadang juga kita berperang tanpa mengetahui siapa musuh kita sebenarnya.

Bicara mengenai tujuan untuk diri saya sendiri, saya pikir saya tidak pernah mengetahuinya. Saya berjalan, saya berlari ke arah mimpi. Banyak hal mengalami perubahan sepanjang waktu. Orang berubah, cinta sakit, teman pergi, bahkan impian saya pun entah kemana. Saya tak punya tempat untuk datang dan saya tak punya rumah untuk pulang. Yang saya tahu, saya tetap melakukan apa yang harus saya lakukan. Jika menurut saya itu yang terbaik, maka itu yang harus dilakukan.

“Sepertinya tidak masalah jika kita merasa bingung. Karena kebingungan adalah rute terbaik menuju kejelasan di dunia ini”.

Alhamdulillah ketika kita merasa bingung, cemas, khawatir, takut. Oleh karena itu, kita akan dihantarkan ke seberang jalan untuk memecahkan masalah yang kita hadapi sampai ke akar-akarnya. Bukankah merasa bingung itu hal yang “wajar”? Dan menurut saya tanpa mewakili perasaan dan pikiran siapapun bahwasanya wajar itu relatip. Contohnya seperti seorang seniman dengan rambut gondrong serta berpakaian compang-camping itu menurut saya hal yang wajar. Akan tetapi apakah kita melihat kewajaran itu pada anggota dewan? Sepertinya jika Ia berpenampilan seperti itu sudah tidak sewajarnya. Pada intinya tergantung pada apa, siapa, sebab-akibat dari sudut pandang setiap individu.

Saya tidak pernah menganggap bahwa diri saya sebagai pakar dalam seni berpikir ataupun orang yang berkesadaran jiwa paling tinggi. Namun, sejauh kacamata saya memandang peristiwa itu, perselisihan-perselisihan serta ketidaksepahaman dikarenakan individu-individu yang saya temui, tidak mengenal dirinya sendiri.

Bercermin dari diri saya sendiri, saya selalu menjadikan lawan bicara sebagai obyek, bukan subyek. Padahal hakikatnya manusia bertumbuh dan berkembang, bukan menja ataupun kursi, karena keinginan dan harapan saya selalu lebih besar dari kehendak-nya maka sebab itu saya tidak pernah memahami apa, siapa, bagaimana, kapan. Dan mau kemana saya sebenarnya.

Fajar peradaban telah dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan barangkali silamnya matahari peradaban akan mendengar manusia yang terakhir merintih, “Mengapa? Dari manakah saya berasal dan kemanakah saya menuju?“tentang hakikat kebahagiaan, tentang jiwa dan rasio, lebih dari cukup untuk mengambil sebuah hikmah untuk dijadikan pijakan dalam kehidupan era kekinian (Garvey, 2010)”.

Waktu kecil saya bercita-cita menjadi seorang ninja, seperti ninja Hattori yang ada di chanel TV anak-anak spacetoon waktu itu. Saya ingin seperti ninja Hattori karena hanya mendaki Gunung dan melewati Lembah. Asyik, bukan? Tentu, masa kanak-kanak selalu menyenangkan. Kita bebas melakukan apa saja yang dikehendaki.

Namun, setelah mengenal sosok Uzumaki Naruto, saya segera mengubah jalan ninja saya. Saya tidak lagi ingin seperti ninja Hattori yang hanya mendaki Gunung dan melewati Lembah. Akan tetapi saya bermimpi menjadi seorang pahlawan yang menyelamatkan tanah air saya. Seperti Uzumaki Naruto yang menjaga  kedaulatan “Negara Api” dari serbuan organisasi ekstrim yang bernama Akatsuki. Hmm, apa daya? Ninja hanya ada di Negeri Sakura. Jikalau ninja ada di Indonesia itu hanya tukang ronda yang menutupi kepalanya menggunakan sarung. Atau anak-anak yang berangkat shalat tarawih ketika bulan Ramadhan. Dan sialnya saya gagal menjadi squad Avangers. Karena seri terakhirnya sudah selesai, pupus sudah!

Baiklah sekarang saya sadar dan terbangun dari mimpi panjang setelah disiram air oleh ibu karena harus menunaikan perkuliahan kelas pagi. Sering kali kita sebagai mahasiswa mengeluh karena banyaknya tugas yang diberikan oleh sang dosen. Padahal, kehidupan mahasiswa pasti di selimuti tugas dan penelitian. Terkadang kita begitu egois hanya mengambil hal yang menyenangkan saja, seperti tidak menyetor tugas yang diberikan. Tetapi terkadang kita tidak tahu diri menginginkan nilai yang besar. Dasar saya haha..

Kini jalan ninja saya sebagai mahasiswa kesejahteraan sosial, yang nantinya akan menjadi pekerja sosial. Menurut kemensos, pekerja sosial adalah profesi pemberian bantuan untuk menyelesaikan masalah, pemberdayaan dan mendorong perubahan sosial dalam interaksi manusia dengan lingkungannya pada tingkat individu, keluarga, kelompok, organisasi, dan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya. Begitu kata kemensos, pertanyaan yang masih melayang-layang dalam benak adalah mengapa yang menjadi langganan korupsi adalah mentri sosial? Ups.

Namun bicara mengenai sejahtera, apakah saya sudah sejahtera sekarang? Menurut hemat saya, yang menjadi barometer kesejahteraan tidak terpaku hanya kepada materi, bahagia dalam kesederhanaan materi asal orang itu dapat memaknai hidupnya sendiri, merasa aman, dan terpenuhinya kebutuhan spiritual. Memang rasanya sulit menciptakan formula tunggal meraih kebahagiaan. Kebahagiaan adalah efek samping ketika seseorang memaknai hidupnya sendiri, dan meraih makna itu.

Pada intinya akan selalu ada nilai, selalu ada yang tidak biasa dalam keseharian kita yang terlihat biasa-biasa saja. Manakala yang membuat hidup menjadi berarti dan layak untuk dihidupi. Begitu kata Socrates.

Kembali lagi kepada jalan ninja sebagai mahasiswa kesejahteraan sosial, kini kita dihadapkan dengan masalah-masalah sosial di Indonesia yang seakan tak ada habisnya. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, terus berupaya mencarikan solusi terbaik. 

Sayangnya, sejauh ini usaha yang dikerahkan belum tampak berhasil menyelesaikan persoalan yang ada. Potret kesenjangan sosial, diskriminasi, kriminalitas, hingga sederet permasalahan sosial yang lainnya masih saja terus menggema. Tingginya eskalasi konflik primordial juga turut menambahkan daftar panjang persoalan selama ini. Harapan agar republik ini terbebas dari lilitan masalah terus digaungkan dari ujung Papua hingga Sumatra. Suara asa itu kini bahkan terasa kian redup lantaran kegagalan yang terus dipertontonkan oleh segenap aparatus pemerintah dalam membedah persoalan.

Hingga saat ini dan nanti saya masih akan terus belajar, karena filosofis belajar adalah proses yang memastikan kita dari tidak tahu menjadi tahu. Berpengetahuan adalah hasil dari sebuah belajar, dan perubahan tersebut kita dapat mengubah diri kita maupun orang-orang di sekitar kita. Seseorang yang miskin dan mendapat pendidikan layak berkesempatan untuk mendapat pekerjaan yang penting dan bisa berkompetisi dengan orang lain. Melalui proses belajar yang tekun dan rajin orang dapat mengangkat martabat dirinya dan orang lain. Esensi filosofis dari belajar adalah perubahan. (Baca : Logika Kritis Filsuf Klasik, hal. 212).

“Banyak orang yang ingin berbeda, apakah sebanyak itu orang yang siap dengan keterasingan? Sudah saatnya kita memegang kendali. Berani beda, siap diasingkan”. Tapi jujur, saya sendiri pun belum siap untuk diasingkan, monggo yang mau. Jujur kalian keren.