Tidak ada yang dapat meragu akan luasnya imaji yang dapat lahir dari balik tabir sunyi. Tentang proses dan konsekuensinya. Sunyi, hanya ada kamu dan dirimu, berdialog satu sama lain tiada henti. Kontemplasi.

Setiap dari kita kerapkali mengalami fase ini, suatu keadaan puncak yang membuat diri tak henti-hentinya untuk menyelam ke dalam keheningan yang paling dalam.

Tujuannya sederhana, tidak lain sebagai bentuk upaya memenuhi tuntutan hasrat yang haus akan makna dibalik ada, demi menyingkap apa-apa saja yang mengganggu pikiran di kepala.

Aku tahu jika orang lain (other self) adalah bagian dari diriku. Identitas tidak akan lengkap tanpa kehadiran manusia lain. Hegel menyebutnya dengan ‘Aku’, sekaligus bukan ‘Aku’. Aku yang beresensi sebagai anak, pacar, teman, murid, dst., itu semua adalah pemberian dari ruang sosial dan tidak ada yang tidak berharga.

Kecuali, terdapat anomali yang membuat aku semakin percaya, bahwa atensi seharusnya melahirkan pretensi baru, tidak memotong hubungan begitu saja, diam, dan membiarkan sesuatu mengelupas diri begitu saja. Itu tidak bisa dibiarkan berlalu secara natural, kita harus berani berkata ‘tidak’, untuk berkata ‘iya’, ungkap Albert Camus.

Namun, ada kebahagiaan lain yang harus kucari. Tidak jauh, aku hanya perlu mengintip sedikit ke dalam diri. Mendengarkan suara hati, sesuatu yang tidak akan aku temukan ketika berbicara dalam jejaring komunikasi dengan siapa pun. Hanya aku, yang mampu dipahami oleh diriku.

Memasuki Alam Diri

Mengapa berharga, what does it means to a person? Pertanyaan yang kerap dan bisa datang dari benak siapa saja, menghantui para subyek yang berpikir dalam heningnya malam. Menyiksa diri dengan pertanyaan remeh-temeh hingga serius. Pertanyaan yang mengacaukan isi hati.

Pertama, kita perlu mengurai apa itu kesepian dan solitude. Kesepian itu berbeda dengan solitude. Kesepian terjadi ketika manusia terperosot dari upaya menangkap manisnya harapan. Tidak hanya terperosot, ia bahkan terluka berat hingga merasa tidak ingin memulai lagi.

Hal itu terjadi, ketika ekspektasi tidak sampai pada harapan akan cinta pada seseorang, mimpi, dan cita-cita lain dalam hidup.

Alih-alih menertawai, diri lebih memilih mengurung diri, menjauh dari dunia. Alasannya tidak jauh dari klise-nya adegan-adegan dalam sinetron dan talk show yang penuh adegan dramatisasi. 

Setahuku, ide-ide luar biasa para filosof selalu lahir dari balik sunyi. Bukan menjauh dari dunia. Itu adalah bagian dari kesenangan menyelami diri untuk menghasrati kesejatian yang bernilai. Tidak ada pengaruh apa pun dari dunia luar. Hanya ada dan rasio, intuisi, perasaan, indera yang tertuju pada ‘ke-ada-an’, apapun, dan merefleksi atasnya.

Tidak ada yang salah dari langkah yang berasas pada kehendak diri. Tidak ada yang dapat menghakimi. Kecuali jika ada alasan-alasan lain dibalik itu yang secara hakikat berseberangan dengan tanggung jawab moral.

Tentu aku tidak setuju dengan keserakahan seperti itu. Apalagi sampai meninggikan diri dan menyepelekan kehendak lain. Makna ke-aku-an, kurasa, tidak sedangkal itu. Itu tidak bisa dibenarkan.

Jika boleh mengutip Nietzsche, ia sendiri juga menganggap jika solitude itu begitu berharga untuk pemurnian diri. Namun, hal itu tentu tidak serta merta membuat diri harus mencabut diri dari dunia. Karena, kebijaksanaan setinggi apapun tidak akan lebih bernilai dari apapun jika diri masih mengandaikan pembatas –tembok besar antara "aku" dan "dunia".

"My solitude doesnt depend on the presence or absence of the people: on the contrary. I hate who steals my solitude, without in exchange offering me true company", Friedriech Nietzsche (1844-1900).

Setiap orang bisa mengikuti jalan hidup ini.  Bagiku, itu begitu penting untuk sejenak membiasakan diri dengan absurditas dunia, demi kebahagiaan diri. Membiasakan diri untuk kembali menggunakan akal budi, yang sudah lama berada dibalik kenyamanan serba-serbi modernitas.

Daripada berada berlama lama dalam lingkungan yang cendrung memberi distraksi diri, aku lebih baik memilih menjauh. Lalu, mencari lingkungan yang mendukung kehendak bebas, yang lebih eksistensial.

Ya, aku tahu aku harus berbuat untuk kebaikan struktur apa saja yang ada di depanku, aku tidak bisa mengelak begitu saja. Namun, jika terus hanyut dalam dominasi simbolik itu dengan sedikit saja apa yang kumengerti, lantas apa yang bisa kuubah? Bagaimana caraku mengubah? Biarkan aku mencari jalanku sejenak saja.

Lalu ada juga pernyataan seperti ini, "bagaimana denganku, aku lebih suka berada bersama teman-temanku? Aku tidak bisa hidup sendiri selamanya". Hey, aku tidak berkata jika kita harus hidup sendiri selamanya. Aku mengerti jika kita adalah zoon politicon, sapiens yang yang sejak lebih dari 10.000 tahun lalu telah terbiasa untuk saling melengkapi dalam sistem sosial dan kesadaran intersubyektifitas.

Tidak bisa saling menuding, aku yang terbiasa sendiri, aku yang tidak bisa sendiri, dsb., tidak bisa seperti itu. Maksudku adalah sebuah ajakan sederhana akan penerimaan atas apa-apa yang bersifat pluralitas. Aku dan kamu, dengan kebebasan kita yang menolak premordialitas dan keseragaman yang otoriter. Sebagai bangsa yang baik, kita tentu memahami maksud dari adagium 'berbeda-beda namun tetap satu asa, bukan?'

Semua Nampak Sepi

Ada sebuah artikel menarik yang sempat kubaca berjudul 'The Pursuit of loneliness: how I chose a life of solitude', dari Cayley Campel. "Loneliness is a darker thing than just being alone. It's a stillness that gives you a preview of death."

Jadi, dunia juga mengalami apa yang Campel sebut dalam artikel sebagai 'loneliness epidemic'. Di mana, diri merasa sepi di tengah keterbukaan akses yang demikiaan luas di masa modern. Kita seolah terkurung dalam tembok tak kasat mata meski di tengah hingar-bingar keramaian.

Suara musik yang seharusnya terdengar syahdu terdengar seperti kebisingan, tertawa hingga terbahak dalam keadaan terpaksa bersama orang lain, menyiyakan segala ajakan hingga lupa cara berucap kata "tidak". Intinya, kesepian itu perasaan yang berada di dalam diri, dan secara fundamental sangat lah eksistensial.

Berfikir yang benar-benar berfikir memerlukan ruang solitude (kesunyian). Kontemplasi. Aku bukan mengajak kita untuk menyiksa diri, dengan pikiran yang memaksa diri harus terjerembab dalam kedinginan dan keputus asaan. Tidak sama sekali. Sekali lagi, loneliness tidak bisa dimaknai sama dengan solitude.

Terakhir, meminjam bahasa psikologi, kesendirian terjadi karena suatu keadaan, rendahnya self-esteem. Kekurangan atas kepercayaan diri. Hal itu bisa terjadi karena banyak faktor, satu diantaranya disebabkan karena mengkomparasikan diri dengan orang lain secara berlebihan. 

"Ah dia kaya, ah dia cantik/tampan, ah dia ini dan itu". Aku juga beberapa kali merasa bagaimana inferioritas ini begitu menyiksa. Tapi cukup sudah, jeratan itu terasa begitu sakit. Aku harus terlepas darinya.