Saya bersyukur telah menemukan film serial bagus dari Thailand, The Gifted. Serial ini punya cerita logis dan kaya akan plot tak terduga. Meski telat—film serial ini terbit di YouTube dua tahun lalu dan saya baru merampungkan semua episode sebulan lalu, tetap saja saya bersyukur karena ini adalah salah satu film serial terbaik yang pernah saya ikuti.

Film serial ini bercerita tentang sepuluh pelajar SMA yang berada di Kelas Berbakat di Ritdha High School, salah satu sekolah elite di Thailand. Seperti namanya, kelas ini diisi oleh anak-anak remaja yang memiliki kemampuan ‘lebih’ dibanding yang lain. Bukan, bukan soal kemampuan akademik, melainkan kemampuan supranatural di luar nalar yang bermacam-macam.

Di Kelas Berbakat, ada yang memiliki kemampuan menghilang dan menghilangkan sesuatu, meretas alat elektronik (hacking), jago bela diri sampai bisa mematahkan tulang belulang lawannya dalam sekali gerakan, sinkronisasi tubuh, membaca aura seseorang, memengaruhi orang dengan mudah, dan meniru kemampuan orang lain serta mengembangkan kepribadian berbeda. 

Bahkan ada satu siswa yang betah tidak tidur berhari-hari tanpa merasa mengantuk—kemampuan yang kita semua inginkan saat punya banyak pekerjaan.

Selain Kelas Berbakat, Ritdha High School juga memiliki sistem stratifikasi kelas. Sistem ini mengelompokkan siswa ke dalam delapan kelas yang sifatnya hierarkis; siswa cerdas berada di kelas kesatu dan siswa yang (dianggap) bodoh kudu duduk di kelas kedelapan.

Perlakuan sekolah terhadap masing-masing siswa berbeda tergantung kelas di mana mereka belajar. Siswa di kelas kesatu mendapat privilej untuk memeroleh berbagai fasilitas nomor wahid di sekolah tersebut. Sebaliknya, siswa yang berada di kelas kedelapan mendapat fasilitas yang jauh dari kata layak. Diskriminasi ini berjalan sejak lama dan dilanggengkan dalam bentuk peraturan sekolah yang mengikat dan tak bisa diganggu gugat.

Melalui evaluasi berkala, Ritdha High School memberlakukan sistem ‘degradasi’ dan ‘promosi’. Jika ingin mendapat fasilitas ‘wah’, siswa wajib mendapat nilai terbaik, apa pun caranya. Kalau masih mendapat nilai jeblok, ya siap-siap saja duduk di kelas paling buncit dan mendapat perlakuan alakadarnya.

Sekilas, sistem seperti ini memotivasi para siswa untuk lebih giat belajar agar bisa berada di kelas kesatu dan mendapat perlakuan yang baik. Para siswa berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik agar tidak berada di kelas paling buncit dengan perlakuan seadanya.

Namun, sistem stratifikasi ini menciptakan jurang pemisah antara ‘si pintar’ dan ‘si bodoh’ secara gamblang. Artinya, akses layanan pendidikan berkualitas tidak dapat diperoleh oleh semua orang. 

Dalam kasus yang lebih ekstrem, hal ini dapat menciptakan konflik sosial antarkelas, seperti yang dialami dua bersahabat, Pang dan Nac dalam serial The Gifted, yang berakhir bermusuhan karena harus terpisahkan kelas-kelas yang dibuat oleh sistem di Ritdha High School.

Adanya Kelas Berbakat dan sistem pengelompokan siswa di kelas-kelas yang berbeda berdasar nilai akademik di Ritdha High School mengingatkan saya dengan sistem yang berlaku di sekolah saya delapan tahun lalu.

Saat SMA, sekolah punya sistem penjurusan ketika naik ke kelas sebelas. Saat itu, sekolah saya punya tiga jurusan yang tersusun secara hierarkis, yaitu Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa—Kelas Agama menyusul satu tahun kemudian setelah saya lulus. Dalam benak siswa, IPA adalah jurusan paling bonafid. Disusul IPS di urutan kedua dan Bahasa sebagai jurusan yang dianggap paling buruk.

Penjurusan tersebut disandarkan pada nilai akademik yang diperoleh siswa. Mereka yang mendapat nilai bagus akan masuk ke Jurusan IPA. Siswa yang nilainya pas-pasan masuk ke Jurusan IPS. Siswa yang nilainya paling rendah harus legawa masuk ke Jurusan Bahasa. Meski ada beberapa siswa di Jurusan Bahasa yang memang ingin belajar di jurusan tersebut, tetap saja nilai menjadi indikator utama.

Di kalangan siswa, sistem tersebut memunculkan stigma bagi siswa-siswa Jurusan IPS dan Bahasa. Siswa di Jurusan IPS dianggap nakal dan tidak terlalu pintar. Ada anggapan bahwa anak IPS adalah ‘anak buangan’. Mereka adalah siswa yang tidak lolos masuk Jurusan IPA yang dianggap khusus untuk anak-anak pintar dan rajin.

Baca Juga: Sekolah Desa

Anak Bahasa punya nasib lebih apes. Selain dianggap buangan dari Jurusan IPA dan IPS, mereka juga mendapat stigma sebagai anak-anak yang suka tawuran. Bahkan, ada anekdot kalau para guru takut masuk ke kelas Bahasa karena banyak siswa yang ngobrol sendiri ketika guru menerangkan. Ada pula siswa yang pandai sekali membantah nasihat guru. Secara umum, anak Bahasa terkenal sebagai siswa paling barbar di sekolah.

Meski tak sama persis dengan Rithda High School, paradigma yang ingin dibangun oleh sistem yang berlaku di sekolah saya—dan kebanyakan sekolah di Indonesia—tidak jauh berbeda: membangun sistem kelas yang sifatnya hierarkis di sekolah. Pada tataran lebih lanjut, sistem tersebut bisa menimbulkan diskriminasi kepada para siswa, seperti stigma negatif dan pemberian fasilitas yang berbeda.

Memang, stigma negatif terhadap anak IPS dan Bahasa atau mereka yang duduk di kelas dengan hierarki paling bawah tidak diatur melalui peraturan hitam di atas putih. Hanya saja, stigma tersebut dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Imbasnya, stigma yang terjadi dianggap biasa karena dilakukan terus-menerus.

Dengan sistem yang mirip tersebut, saya jadi penasaran akan satu hal. Dalam serial The Gifted, sekolah punya rahasia yang sengaja dikubur dalam-dalam demi sebuah nama baik yang dapat mendatangkan gelontoran dana dari pemerintah. Apakah sekolah saya juga punya rahasia serupa?