Tahun 1347-1351, Eropa mengalami pagebluk yang dikenal dengan Black Death (Wabah Hitam) yang menghabisi 30% sampai 60% penduduk Eropa. Secara umum, wabah tersebut telah mengurangi sekitar 475 juta penduduk menjadi 350-375 juta penduduk pada Abad ke-14 Ms.

Black Death adalah epidemi wabah pes, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang beredar di antara hewan pengerat liar tempat mereka hidup dalam jumlah besar dan kepadatan. Area seperti itu disebut “fokus wabah” atau “penampungan wabah”

Saking tingginya angka mortalitas sehingga sejumlah pemakaman umum tidak mampu lagi menampung mayat-mayat sehingga ada yang dibiarkan di tepian jalan atau dihanyutkan di sungai-sungai.

Rohaniawan sibuk melakukan upacara kematian sekaligus yang paling berisiko tertular karena mereka adalah yang lebih sering berinteraksi dengan orang-orang yang mengalami sakit dan membutuhkan doa-doa mereka.

Albert Camus,  filsuf Prancis kelahiran Aljazair terlilhami oleh pandemi yang memporak-porandakan Eropa membuat novelnya berjudul, La Peste. Albert Camus lebih memperlihatkan sebuah absurditas dibalik merebaknya wabah yang menimpa kota Oran. Semua orang tidak berdaya dan dokter tidak lagi bertindak sebagai penolong melainkan pendiagnosa penyakit.

Tahun 1929 Amerika mengalami resesi ekonomi yang luar biasa yang dinamai, Great Depression atau, Black Tuesday (Selasa Hitam). Di Hindia Belanda masa ini dikenal dengan nama, Zaman Meleset.

"Pada tanggal 29 Oktober 1929, satu hari dikenang sebagai ‘Selasa Hitam’ pasar ambruk. Hari itu 16 juta saham diperdagangkan, dan indeks saham industri turun 43 poin, menghancurkan hampir semua keuntungan yang dibuat oleh pasar selama 12 bulan sebelumnya. Beberapa saham kehilangan hampir semua nilainya. Selama tiga minggu setelah "Black Tuesday," pasar terus jatuh bebas”, demikian tulis Tim McNesse, The Great Depression 1929-1930, 2010:26).

Pengangguran, penundaan pembayaran, kebangkrutan, kemiskinan hingga frustasi berujung bunuh diri menjadi pemandangan mengerikan di tahun 1929-1930. Sampai muncul sebuah anekdot di Amerika ketika seseorang hendak menginap di hotel bertingkat, "for sleeping or for jumping?" (mau tidur atau mau melompat). Semua negara yang terkonekasi dan terintegrasi secara ekonomi mengalami efek domino yang sama.

Demikian pula hari ini dunia kembali diguncang oleh penyebarluasan Covid-19 yang merenggut ribuan nyawa. Bukan hanya di satu negara namun melintasi banyak negara dengan cepat.

Era digital bukan hanya memangkas jarak dan mempercepat komunikasi dan interaksi antar individu dan institusi publik melainkan mempercepat penyebarluasan virus melalui perjalanan antar negara yang mempertemukan individu satu dengan individu lainnya dalam sebuah interaksi dan persentuhan fisik.

Covid-19 bukan lagi wabah nun jauh di sana tapi di sini, di negara dan kota-kota kita. Di jalanan yang mungkin tidak jauh dari rumah kita. Menjadi bayang-bayang maut yang menghantui dan mengintimidasi setiap orang karena virus ini bukan hanya menyebabkan rasa sakit melainkan kematian.

Dari 677.938 kasus pandemi Covid-19 saat ini telah menghilangkan nyawa orang di seluruh dunia sebanyak 31.744. Kabar baiknya, mereka yang mengalami kesembuhan mencapai 146.319 orang (https://www.worldometers.info/coronavirus/). Jika diperbandingkan angka kemtian dengan angka kesembuhan sebenarnya lebih besar angka kesembuhan.

Dari 677.938 kasus sebanyak 178.063 kasus telah selesai dengan angka kesembuhan mencapai 82% (146.319) dan angka kematian sebesar 18% (31.744). Namun tidak urung berita kematian yang terus menerus memenuhi ruang publik melucuti keberanian dan menyandera akal sehat.

Pandemi Corona saat ini mengingatkan kita betapa rentannya kehidupan yang dijalani. Negara-negara adi daya dengan peralatan modern di bidang kesehatan pun dibuat tidak berdaya sebagaimana terjadi di Italia ataupun China.

Namun menyerah begitu saja, bukanlah jawaban dan jalan keluar dalam mengatasi persoalan. Negara-negara yang terdampak hebat telah berusaha mengerahkan semua sumber daya yang ada untuk keluar dari serangan pandemi yang mematikan ini dan mereka telah berhasil.

Bagaimana dunia yang kita jalani pasca Corona? Pasti akan ada banyak perubahan terjadi di segala bidang sebagai respon terhadap pandemi yang telah memporak-porandakan banyak negara. Sejumlah kemungkinan positif dan sejumlah kemungkinan negatif akan tarik-menarik.

Mungkin kita akan memahami Tuhan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Mungkin kita akan lebih peduli pada kebersihan lingkungan. Mungkin kita akan menghargai pentingnya hidup berdampingan dengan alam. Mungkin kita semakin antisipatif terhadap pandemi yang datang di masa depan.

Namun kemungkinan lain kita menjadi lebih paranoia terhadap sesama sehingga memandang curiga orang-orang yang mengalami penyakit tertentu. Mungkin saja sikap empati dan mencari keselamatan diri sendiri semakin menjadi gaya hidup.

Apa pun itu, Covid-19 telah menghadapmukan setiap individu untuk mengambil pilihan dan bersikap terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain serta terhadap masa depan kehidupan. 

Dengan demikian, “the day after Corona” sangat ditentukan oleh sikap, pilihan dan keputusan kita hari ini. Seperti kata Yuval Noah Harari, “Humanity needs to make a choice. Will we travel down the route of disunity, or will we adopt the path of global solidarity? (The World After Coronavirus- https://www.ft.com)