Setiap akan menonton suatu film, pertanyaan yang saya ajukan pada diri sendiri adalah, apa yang menarik dari film tersebut. Dengan begitu, saat menikmati film, saya akan mencari dan menelisik, baik adegan, dialog, ekspresi keaktoran maupun hal-hal lain yang bertaburan sepanjang durasi. Pertanyaan itu juga yang saya ajukan sejak akan menonton Thappad (2020), gugling hingga menontonnya. Menikmati film bukan sekadar ia film baru atau lama, tapi apa pesan yang disampaikan untuk diambil hikmahnya.

Mengejutkan, di menit ke dua, detik ke empatpuluh enam, dialog pembuka film sudah langsung memaksa mata saya untuk terus menatap layar. Menit ke duapuluh delapan detik ke empatpuluh lima, emosi saya tersentak. Saya langsung mengerti mengapa judulnya adalah Thappad (artinya adalah tamparan). Selanjutnya, menit demi menit serasa menaiki wahana ulang-alik bagi emosi saya. Naik turun, meluncur menanjak, tidak berhenti hingga akhir film. Bukan karena ini adalah film horor yang menakutkan atau film misteri yang mengajak berteka-teki. Ini ‘hanyalah’ film drama rumah tangga, yang rasanya, dekat saja dengan keseharian kita.

Thappad adalah kisah tentang Amrita (Amu) dan Vikram. Gambaran mereka ideal sekali. Couple goal, istilah kerennya. Rupawan, karier suami bagus, ekonomi stabil, lingkungan kondusif. Lalu semua berubah mendadak. Tak disangka, saat Vikram di posisi kritis kariernya, dia melampiaskan kemarahan pada Amu. Dia menampar istrinya begitu saja. Amu terdiam. Membeku. Memegang pipinya. Sebagian orang di pesta itu memandanginya. Mungkin tak tahu harus berbuat apa. Mungkin juga syok. Pasangan ideal, suami yang tidak bergejala abusif, tanpa pertengkaran, kekerasan itu meledak seperti petasan. Sesaat tapi letusannya cukup membuat orang syok. Sejak itu Amu tidak lagi tersenyum. Wajahnya kuyu. Malas bicara. Tak ada yang menanyakan bagaimana perasaannya. Vikram, minta maaf pun tidak.

Amu menyelesaikan sendiri masalahnya. Ia sadar tak ada yang akan membelanya. Tidak juga ayah dan ibunya, apalagi mertuanya. Amu diam. Sebab ia tak tahu caranya berkonflik. Tak diajari cara melawan kekerasan yang dialaminya. Ia bersikap toleran, sebagaimana ibunya mengajarkan dan ibu mertuanya mengharapkan. Lalu Amu memilih mengajukan perceraian. “I don't love you anymore”, katanya pada Vikram. “Andai aku tahu dulu kau akan begini, aku mungkin tak kan menikah denganmu”. Yeah, orang akan berubah, siapa tahu. Pernikahan memang pertaruhan besar. Mengejutkan bahwa cinta pun bisa habis.

Vikram, adalah gambaran tentang lelaki jamak di mata umum. Dilayani, mengambil keputusan, kompetitif, ada yang perlu ditambahkan? Sayang, ia tak tahu caranya minta maaf. Tak punya tepa salira ketika melakukan kesalahan. Lalu hanya menyesal ketika sudah terlambat. Ketika ia sudah hampir kehilangan segalanya. Baru sadar bahwa pernikahan itu sama berharga dengan profesinya. Pahit. Dan Vikram dikelilingi lelaki dalam dunia sarat kental maskulinitasnya. Memukul itu bahasa lelaki. Memukul istri, harusnya dimaafkan. Kan tidak sengaja. Kan sedang marah jadi itu hanya refleks sesaat. Kan baru sekali. Harusnya istri memahami. Harusnya itu masalah kecil. Harusnya tidak perlu dianggap kekerasan.

Bolehkah mengumpat? Ups!

Saya juga sempat berpikir seperti Vikram. Mengapa tidak dimaafkan? Baru setelah nonton kali kedua atau ketiga, saya mengerti. Sikap Amu menjadi 'magnet' bagi perempuan-perempuan di sekitarnya. Sunita, pembantu di rumahnya, yang setiap hari dipukul suaminya, akhirnya tahu jika punya hak untuk melawan. Netra, pengacara perceraiannya, yang setiap hari berpura-pura bahagia dan berselingkuh, akhirnya berani memutus toksik di pernikahannya. Shivani, tetangga yang janda, berhenti mencari suami baru karena sebenarnya nyaman sendiri. Sadar bahwa hubungan dengan mendiang suaminya masih belum ia lupakan.

Sikap Amu memberi pelajaran. 'Respect and happiness' itu melampaui what so called cinta. Bahwa pernikahan itu ditegakkan dengan dua komponen itu. Pahit. Bahkan saya sebagai penonton saja merasakan penyesalan. Thappad menyentil kenyamanan saya dalam memahami pernikahan dan kekerasan yang berpotensi hadir di dalamnya. “Yang tidak adil adalah tamparannya”, demikian kata Amrita ketika bergeming dengan keputusannya untuk bercerai. Seorang istri memiliki hak untuk tidak ingin dipukul, itu yang ia perjuangkan. Pemukulan, bukanlah hal kecil. Bukan hal biasa yang bisa ditoleransi dengan memaafkan.

Apakah kita membaca di koran tentang istri yang terbunuh di tangan suaminya? Apakah kita melihat di rumah sakit saat seorang istri dibakar suaminya? Pernahkah kita, mulai berpikir, kapan itu dimulai?  Berapa banyak istri yang mengeluh bahwa suaminya saat pacaran, bahkan membentak saja tidak pernah? Andai saja, seandainya kejadian itu bisa diulang di saat pertama kali kekerasan terjadi, tidakkah kita ingin menghentikannya?

Amrita menyentil ‘kenyamanan’ kita tentang kebahagiaan pernikahan yang seharusnya adalah hak sama bagi istri dan suami. Kekerasan, sering samar gejalanya. Bisa dipicu oleh hal sepele. Baru pertama, khilaf, seharusnya dimaafkan. Begitu kan? Film ini secara terang hendak menunjukkan hak seorang istri yang bisa diabaikan, dan dengannya, harus diperjuangkan sendiri oleh si istri. Sebab nyatanya, orang-orang di sekitar istri yang disebut keluarga, bisa tak selalu berpihak. Ya jelas tidak semua perempuan akan sanggup menjadi sekuat dan seberani Amrita.

Alih-alih sutradaranya, Anubhav Sinha, saya lebih tertarik pada Taapse Pannu, pemeran Amrita. Lazimnya, film India didominasi dengan kecantikan aktrisnya dan kemahirannya menari. Taapse, tidak selalu begitu. Setelah Thappad, saya justru mundur ke beberapa tahun sebelumnya dan menonton film Pink yang juga diperankan oleh Taapse. Karakternya berbeda, tapi jenis filmya mirip antara Thappad dan Pink. Sama-sama menyoal isu perempuan. Sama-sama membahas tema kekerasan yang dialami perempuan dan ketidakadilan yang bisa menimpanya.

Kabarnya, di film yang lain, Taapse agak banyak memerankan tokoh perempuan di film dengan tema tentang perempuan. Tema yang tidak biasa. Tidak selalu mengikuti kesepakatan umum, kelaziman, bahkan sedikit menginspirasi mengenai ‘memperjuangkan keadilan’. Buat saya, ya menginspirasi. Menikmati film semacam Thappad, seperti belajar kembali soal kemanusiaan. Soal keadilan. Soal hubungan laki-laki dan perempuan. Soal pernikahan. Soal keluarga. Dengan cara yang tidak menggurui, tidak semata menyalahkan, bukannya urusan pernikahan memang kebahagiaan bagi suami dan istri kan, ya?