Kurun waktu seminggu ini , Tuan Guru Bajang kembali menjadi bahan perbincangan hangat publik, lantaran dirinya tiba-tiba saja dilantik menjadi Ketua Harian Nasional partai Persatuan Indonesia (Perindo). Hal ini memberikan pemahaman yang lebih lugas, betapa tak ada habis-habis sang Tuan Gurun berdaya-gunanya.

Ketua Umum Perindo, Hary Tanoesoedibjo, Sabtu (6/8/2022) menyematkan jaket partai Perindo dan selanjutnya menyerahkan SK (Surat Keputusan) DPP Ketua Harian Nasional partai Perindo kepadanya layak seorang negarawan tulen. 

Saya termasuk yang tidak kaget dengan peristiwa tersebut, apalagi bertanya mengapa Tuan Guru Bajang, atau sering disapa TGB ini tidak steril saja dari dunia politik praktis kepartaian. Justru yang saya sukai, TGB tak pernah memilih jalan mematikan mesin ‘berhenti’ dari hingar-bingar dunia politik. Sebab martabat manusia, individu maupun kelompok mana mungkin atau tentu tak dapat dihindarkan dari pergulatan politik.

Kendati intensitasnya tak seproduktif penulis-penulis lainnya, pernah beberapa kali saya ngulik (pendokumentasian) pemikiran yang merangkum ‘pilihan jalan politik’ seorang Tuan Guru, baik sebelum – setelah ‘enyah’ dari partai Demokrat.

“Saya memulai ikhtiar, memilih untuk berpolitik kepartain melalui partai Persatuan Indonesia. Persis satu tahun peluncuran logo baru Perindo, alhamdulillah saya mulai berkhidmah. Salam persatuan Indonesia,” Pekiknya TGB. Zainul Majdi pada sambutan perdananya yang disambut luar biasa internal partai Perindo.

Disampaikan, bahwa dirinya tertarik dengan keunikan nama partai besutan Hary Tanoesoedibjo ini. Yakni partai Persatuan Indonesia yang merupakan penyebab utama TGB mau berkiprah dan berkhidmah melalui Perindo. Di tengah kesamaan partai-partai politik yang ada, TGB melihat Perindo memiliki perbedaan yang fundamental.

Baginya, Perindo bukan sekedar nama, tetapi menunjukkan jati diri dari partai. Bahwa TGB meyakini kerja-kerja politik Perindo memang ditujukan untuk menjaga Indonesia, menjaga persatuan Indonesia agar tidak hilang marwahnya sebagai suatu bangsa. Yakni keberagaman yang berujung pada perpecahan. Alasan TGB tersebut masuk di akal, sebab hanya dengan etos persatuan, maka kita bisa berharap Indonesia bisa panjang umurnya.

Hal yang mendasar pula, TGB Perindo merupakan ruang muamalah yang istimewa karena memperjumpakan seluruh elemen bangsa dengan beragam latarnya. Agama, Budaya, profesi yang semuanya disatukan oleh cita-cita menghadirkan politik kesejahteraan rakyat. Meski segala keragaman yang ada, namun dapat menemukan titik temu mempersatukan Indonesia.

“Bahwa pada akhirnya semua yang kita kerjakan di atas bumi ini adalah untuk kebaikan bersama,” pungkas.

Pada dimensi ini saja, mutakhir menegasikan Tuan Guru Bajang memang selain memiliki watak ulama besar sekaligus umaro pembawa pesan (profetik) kenabian. Tindakannya yang selalu bersumber pada pijakan nilai-nilai yang bertujuan berpihak kepada kepentingan kemasyarakatan dan keumatan. Semangat itu pula yang memandu manifesto gerakan intelektualnya sehingga ia tepat memilih jalan, menentukan labuhan warna politiknya.

Perindo diyakini TGB menjadi ruang yang mulia mengembalikan politik pada prinsipnya. Yakni politik yang dimaknakan sebagai ikhtiar perjuangan untuk menghadirkan kebijakan-kebijakan publik yang bernas, serta peraturan perundang-undangan yang mensejahterakan rakyat. Artinya dari semua itu, pada intinya TGB punya kesamaan dengan Perindo.

Sementara itu, HT (Hary Tanoesoedibjo) memilih TGB sudah tepat, sangat relevan berhubung peningkatan fungsi kepartaian menjadi tuntutan utama dalam menghadapi kontestasi Pemilu mendatang. Maksudnya, HT paham bahwa masa depan akan berpihak pada hal-hal yang berbau pembaharuan, meletakkan posisi TGB secara pragmatik. Tetapi tentu bukan untuk mengubah atau mereformasi kelamin partai Perindo secara ideologis. 

Kolaborasi TGB dan HT dapat dilihat atau mencerminkan semangat idealitas politik demokrasi Pancasila yang ditempatkan pada konteks membuktikan perwujudan pelaksana nilai-nilainya, bukan sekedar slogan semata.

Gebrakan HT menghadirkan TGB, otomatis menguatkan pemahaman publik tentang partai Perindo adalah partai yang inklusif. Hal itu sangat tepat, mengingat kemajemukan dan keberagaman yang merupakan aset bangsa haruslah menjadi pijakan nilai, pemikiran atau sikap politik kepartaian.

Semua gambaran di atas, menunjukkan bahwa Perindo dengan segala perintinya yang ada dapat berhasil menjawab harapan-harapan istimewa, obsesi, atau asa politiknya. Untuk itu saya setuju dengan TGB, tidak perlu berpanjang-panjang lagi, rentang kontestasi politik 2024, bukan waktu yang lapang berleha-leha atau bertungkus lumus.

Setelah diamanahkan, menerima mandat Ketua Harian Nasional, TGB segera saja menuntun, mengelola secara maksimal dan seefektif mungkin kekuasaanya. Sebab akan diuji ke depan, energi segar TGB relative dapat memperkuat khususnya konsolidasi internal partai, serta umumnya pemikiran politiknya yang bernas dapat dikonkretkan.

Buktikan, partai Perindo berpolitik dengan Pancasila, yakni dengan peta jalan mengajak semua berkoalisi bicara Indonesia yang beradab, membuka ruang yang luas bagi siapa pun. Menggaet kalangan muda bangsa dari latar belakang basis sosial yang beragam untuk berkolaborasi, dan merekrut lebih banyak tokoh-tokoh nasional maupun lokal menyusulnya bergabung di Perindo.

Perindo akan mendapatkan kepercayaan masyarakat dalam percaturan politik nasional. Dengan catatan, TGB tidak perlu malu-malu (minder) bicara berebut kemenangan. Lagi pula saya setuju dengan TGB, bahwa Perindo tidak punya beban masa lalu, tidak tersandera oleh apapun. 

Dan yang tak kalah pentingnya, TGB sanggup menjaga kewibawaannya. Yakni semangat hadirkan politik yang bernas, berkeadilan menangkan demokrasi yang dicita-citakan Perindo di tengah realitas Parpol-parpol lain dengan mengusung konsep politik untuk semua dan berorientasi pada kemenangan bersama pula.

Pengaruh, kharisma TGB bawa Perindo sebagai Parpol alternatif, efekti mengambil suara di mana-mana. Mengangkat derajat partai yang tidak saja berharga mencapai target masuk parlemen. Namun juga partai yang disegani karena mengalami kenaikan suara yang spektakuler. Dan nampaknya optimisme patok target peroleh 60 kursi DPR RI bukanlah incaran yang sulit dapat diraup. 

TGB dapat menjadi meteor yang memukau massa, nilai strategisnya selain kedekatannya dengan tokoh-tokoh lintas agama dan wilayah, memiliki lapisan pengikut yang kuat secara kultural, dan TGB punya kemampuan keunggulan politik yang telah teruji. TGB dapat menghadirkan massa tradisional riil yang konsisten. Maka dengan manis menyejajarkan Perindo dengan partai-partai tau yang relative punya beban masa lalu seperti yang disebutkan TGB. 

Semua hal itu menjadi modal, hampir tak ada alasan untuk pesimistis, faktor lain karena ditopang dukungan media massa MNC Group. Mustahil Perindo tidak mampu tampil prima. Bagaimana terobosan TGB merumuskan secara konkret dalam membangun citra Perindo yang menggadang-gadang ‘untuk semua’ dengan Pemilu yang tinggal belasan bulan lagi? TGB harus benar-benar fungsional, bukan sekedar pajangan saja.

Kalau di cermati yang pokok pada fungsi TGB sebagai Ketua Harian Nasional, praktis lebih banyak agenda teknis yang dijalankan atau di tuntaskan. Di sini, tiada hari tanpa penggalangan, rajin mengadakan konsolidasi ke daerah-daerah dan sejengkal daerah pun yang terlewatkan. Pada akhirnya semesta politik menanti aktualisasi peran TGB. Karena peluang Perindo pada Pemilu tergantung bagaimana TGB memainkan perannya secara cepat dan akurat.

Terakhir, semua harapan-harapan baik, kerja-kerja ikhtiar maksimal Tuan Guru dan partai Perindo diterangi cahaya dari sang pencipta, semoga. Sebab kita mengamini kalimat TGB, bahwa semua pemimpin akan kembali pada sang khaliq dengan membawa pertanggungjawaban masing-masing individual maupun secara kolektif.