Arsiparis
4 bulan lalu · 30 view · 3 menit baca · Gaya Hidup 31721_98546.jpg
erudisi.com

Tetaplah Optimis di Tahun Politik

Tahun 2019 baru beberapa hari kita jalani, namun ada keinginan besar di hati saya yaitu melihat tumbuhnya rasa optimis di hati setiap warga negara Indonesia. Banyak peristiwa yang terjadi di akhir tahun 2018, misalnya bencana tsunami di Banten dan aneka keriuhan politik lainnya.

Tahun ini juga bisa dikategorikan sebagai tahun politik karena di dalamnya ada pemilu legislatif dan pemilu Presiden. Jangan mudah terpancing hoaks yang lebih sering membuat kita kecewa dengan isinya yang hampir selalu negatif. Bila itu semua tidak disertai rasa optimis, maka yang terjadi adalah keluhan dan cibiran saja. Yang lebih parah adalah keluh kesah semata yang keluar dari bibir kita.

Mengapa kita harus optimis? Karena optimisme adalah sikap yakin akan sesuatu yang kita belum pasti mengetahui hasilnya. Selain itu, rasa optimis kadang-kadang itu bisa menjadi doa.

Selalu giat berusaha dan meyakini bahwa keberhasilan ada pada orang yang bekerja keras dan tentunya dengan selalu mengingat Sang Pencipta untuk memohon petunjuknya. Bukankah pepatah Latin telah menunjukkan dalam sebuat frasa yang indah, Ora Et Labora (berdoa samba bekerja)? 


Karena optimis berwujud menjadi doa, kadang-kadang sesuatu yang musykil pun bisa terlaksana. Itu semua berkat sikap optimis yang kita miliki.

Di tengah kepungan hoaks yang selalu berusaha untuk memengaruhi orang lain untuk bersikap negatif, membuat kita harus jeli membaca kata-kata dan juga mengkritisinya. Suatu kabar yang negatif akan menghantam alam bawah sadar kita untuk secara tidak langsung ikut menjadi bersikap negatif. Bila ini berlarut-larut, kita akan menjadi orang yang apatis dan gampang putus asa.

Tak ada semangat dalam bekerja, selalu melihat keburukan orang, sedangkan introspeksi makin berkurang itu adalah ciri orang yang pesimis dengan keadaan. Kita bisa mengubah itu semua dengan jalan mengakrabkan diri pada hal-hal positif.

Kebalikan dari optimis adalah pesimis dan banyak sekali rasa pesimis. Perasaan tak semangat untuk menghadapi kemungkinan, selalu melihat sisi negatif orang lain dan mencelanya adalah sebuah pesimisme yang bersaudara tiri dengan sikap sinis.

Pesimis identik dengan meragukan sesuatu. Kalau kita meragukan sesuatu, maka kita sudah membentengi kita dengan perasaan tidak mampu.

Sering kali, di awal tahun 2019 ini, kita melihat dan mendengar pernyataan negatif, baik yang disampaikan di media sosial maupun di media massa, dari mulut para politisi yang membuat kita ragu dan bertanya-tanya: benarkah yang mereka sampaikan itu?

Jangan mudah termakan oleh omongan para politisi itu, baik itu kubu pemerintah maupun oposisi. Karena tahun ini adalah tahun politik, tahun di mana mereka merayu dan memengaruhi konstituennya dengan berbagai cara. Dari apa yang mereka lontarkan, kita melihat dan mendengar rasa ragu yang terlontar lewat pernyataan mereka. Biasanya ini sering kita nikmati dari kubu oposisi.

Bila ada sesuatu atau seseorang yang baru terbentuk atau terpilih untuk mengemban tugas negara banyak pendapat, mereka yang penuh sangsi. Sebegitu tidak yakinkah kita akan kemampuan saudara-saudara kita yang melaksanakan tugas negara tersebut?

Kenapa kita tidak memunculkan optimisme yang dengan itu akan membuat orang maupun lembaga yang akan melaksanakan tugas negara tersebut merasa didoakan dan diberi dukungan.

Kita punya nalar untuk memilah dan memilih apa yang baik dan buruk. Kita punya kemampuan untuk melakukan verifikasi kabar-kabar burung tak sedap dengan mengakses saluran resminya. Era internet telah memanjakan kita untuk itu.


Medsos harusnya membuat kita semakin optimis dengan banyaknya relasi yang kita punya. Tentunya kita harus bisa menggandeng orang-orang yang selalu menebarkan sikap optimisme. Daripada hanya berkomunikasi dengan penebar kabar negatif, akan lebih baik jika kita terhubung dengan mereka-mereka yang optimis.

Situs-situs website yang menawarkan kreativitas adalah pilihan untuk selalu menumbuhkan optimisme. Mulailah bergabung dengan grup-grup yang memancing kita untuk berkarya daripada sekadar membaca status-status seseorang yang pesimis.

Biasakanlah membaca, melihat, dan mendengar dari saluran media massa yang kredibel dan resmi. Setiap kita mengonsumsi meme tak jelas di akun kita, janganlah lantas kita langsung membaginya hanya agar tak dianggap ketinggalan zaman.

Jangan mudah jumawa dengan prestasi. Dan lebih baik lagi bila kita tidak mudah menjadi pencela setiap ada kegagalan di sekitar kita. Hargailah setiap usaha karena hasil akhir adalah hak paling asasi dari sang penentu nasib kita.

Ingatlah sekali lagi, ini tahun politik. Jangan mudah terhasut untuk mencela atau jumawa. Tetaplah menjadi pribadi yang seimbang dalam setiap keadaan.

Optimis, sekali lagi, adalah doa. Karena baik orang merasa optimis maupun yang melihat, sama-sama dirasuki semangat untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. 

Last but not least, tak ada keberhasilan tanpa usaha dan doa. Anda setuju? Ayo, kita singkirkan rasa pesimis di hati kita.


Artikel Terkait