Sekitar tahun 2010, sewaktu saya jalan-jalan di kompleks perkampungan Joyo Suko, sebuah kampung yang berada di sebelah barat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya pernah singgah pada salah satu distributor buku. 

Kebetulan, waktu itu saya memang berniat untuk mengunjunginya, sebab saya baru saja mendapat rejeki uang beasiswa dari kampus, sehingga saya bisa menggunakan uang itu untuk berbelanja buku di sana. 

Lazimnya anak kuliahan yang sok idealis dan rajin berkutat dengan dunia perbukuan, mungkin hal itu juga lah yang terjadi pada diri saya. Begitu dana beasiswa itu cair, saya tidak menganggarkanya untuk meng-upgrade hape polyphonic saya yang lekas jadul itu, namun saya mengalokasikannya untuk membeli dan mengoleksi buku. Dan jika masih ada sisa, itulah jatah untuk keperluan saya sehari-hari. 

Motivasi saya untuk mengoleksi buku ini lekas membuncah sejak saya tergoda oleh sebuah pandangan yang berasal dari buku yang pernah saya baca. Dalam buku itu, saya menemukan sebuah ungkapan, bahwa pengetahuan adalah bagian dari investasi leher ke atas. Dimana nilainya akan cenderung berkembang dari waktu ke waktu dan akan memberikan manfaat pada kehidupan mereka yang memilikinya, di masa depan. 

Waktu itu, saya menganggap membeli buku adalah bagian dari investasi di bidang pengetahuan yang hasilnya akan saya petik di kemudian hari. Saya mengasumsikan bahwa siapa saja akan memperoleh pelbagai manfaat dalam kehidupannya manakala sebelumnya mereka telah memiliki bekal berupa ilmu pengetahuan. 

Dan dengan berbekal ilmu itulah, seseorang akan berpeluang untuk dapat memahami, memanfaatkan, dan mengolah apa saja yang ia temukan di dunia ini. Untuk dapat menemukan ilmu itu, diantaranya dapat diperoleh melalui buku-buku yang telah ia baca. 

Hal berikutnya yang membuat saya bertambah yakin terhadap pendapat itu adalah sebab di dalam ajaran agama yang saya anut pun (agama Islam) juga telah diterangkan demikian. Yakni siapa saja yang menginginkan kebahagiaan baik di kehidupan dunia maupun di akhiratnya, maka bekalnya adalah ilmu pengetahuan. 

Sebab alasan itulah, saya menjadi tidak segan-segan dan ragu lagi untuk menginvestasikan sebagian uang beasiswa saya untuk membeli buku. 

Salah satu buku yang telah saya beli dari distributor itu adalah buku berjudul "Santai Tapi Tetap Produktif". Dan dalam tulisan ini saya tidak hendak mengulas isi dari buku karyanya David Allen tersebut. 

Namun, saya hendak menulis perihal tips yang rada berkaitan dengan tema buku yang diusung oleh Allen. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba memaparkan beberapa kiat supaya tetap produktif di tengah situasi yang kontraproduktif, menurut versi saya sendiri, tentunya. 

Kita mungkin saja pernah dan bahkan sering mengalami situasi yang serba dilematis akibat harus berurusan dengan sesuatu yang tidak terlalu kita harapkan. Misalnya saja hal itu adalah menunggu. Menunggu antrean, menunggu datangnya kendaraan, menunggu lampu hijau, menunggu hadirnya seseorang, dan lain sebagainya. 

Dan seberapa lama aktivitas menunggu itu, tentunya akan berpotensi untuk dapat membuang waktu kita, jika kita tak pandai-pandai dalam mengelolanya. 

Sebenarnya, boleh-boleh saja kita menunggu datangnya hal yang kita nanti-nantikan, akan tetapi, menurut saya amatlah merugi manakala kita tidak menggunakan waktu yang kita anggap sebagai saat-saat yang kontraproduktif itu untuk aktivitas produktif lainnya yang masih berkemungkinan untuk dapat kita upayakan. 

Kira-kira, aktivitas produktif apa sajakah yang dapat kita lakukan untuk mengisi waktu-waktu pelik itu? Yuk mari! 

Pertama, Berdzikir

Alasan saya menempatkan berdzikir pada peringkat pertama ini adalah, sebab, sedekat keyakinan yang saya alami, ia masih saya anggap sebagai solusi akurat nan jitu untuk mengatur kondisi kejiwaan seseorang yang rawan labil akibat perubahan situasi itu.

Dzikir tak ubahnya stabilisator bagi diri seseorang sehingga ia akan tetap mampu berpikir jernih dan bertindak tepat di tengah perubahan situasi yang sifatnya ekstrem sekali pun. 

Selain itu, dzikir dapat berperan sebagai tabungan amal bagi seseorang yang menderaskannya untuk kebutuhan di akhiratnya kelak. Semakin tinggi intensitas dzikir yang ia lakukan, maka peluang "deposito" untuk memenuhi kebutuhan akhiratnya pun akan semakin besar. 

Hal ini berpeluang akan ia terima, sebab, ia telah melaksanaan perintah Tuhan untuk senantiasa mengingat-Nya setiap saat. Baik dalam keadaan senggang maupun dalam keadaan genting yang rentan menganggu kejiwaan. 

Jadi, berdzikir ini berpotensi akan memberikan ketenangan jiwa bagi para pelakunya semasa hidup di dunia, dan berpeluang akan mengantarkan kehidupan yang layak ketika di akhirat kelak.

Kedua, Mengobrol 

Mungkin saja, kita sama sekali tidak menyangka bahwa akitivitas yang terkesan remeh ini nyatanya bisa berbuah menjadi hal yang produktif bagi kita. Dan selain itu, pastinya kita sendiri pun sangat akrab dengan aktivitas ini, mengingat kita adalah makhluk sosial yang cenderung berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. 

Lantas, bagaimana cara menjadikan aktivitas mengobrol ini supaya bisa produktif? 

Trik untuk melakukannya yaitu: jadikanlah aktivitas mengobrol ini sebagai ajang untuk menjalin kedekatan dengan siapa saja melalui pembicaraan yang sifatnya dari hati ke hati. 

Langkah berikutnya, setelah kita dapat menjalin kedekatan dengan siapa pun, maka kita dapat menggunakan keadaan ini sebagai kesempatan untuk mendapatkan informasi dari pihak lainnya, seperti dengan melakukan wawancara kecil-kecilan yang sifatnya tidak terstruktur untuk menjaga suasana ngobrol yang tetap mengalir asyik dan jauh dari kesan interogatif. 

Dengan mengobrol ini setidaknya kita akan berpeluang untuk meningkatkan kedekatan emosional dengan siapa saja sekaligus berpotensi akan mendapatkan informasi-informasi baru yang sifatnya berharga dari mereka. 

Ketiga, Membaca 

Aktivitas inilah yang mungkin sangat bisa kita lakukan kapan saja dan dimana saja, mengingat saat ini kita hampir pasti akan selalu membawa gawai dalam genggaman kita, dimana pun kita berada. 

Sambil menunggu hadirnya sesuatu atau seseorang yang kita nanti-nantikan, yang rawan menjenuhkan itu, maka kita dapat mengisinya dengan kegiatan membaca. Entah itu membaca artikel, berita, buku, atau apa saja, yang semuanya sudah tersedia dalam genggaman. 

Keempat, Menghafal 

Bagi mereka yang pandangannya sudah mulai terasa letih akibat terlalu banyak membaca, maka mereka dapat mengurangi intensitas membaca dengan aktivitas menghafal. Mereka boleh menghafal apa saja. Nomor telepon, informasi berita, atau bahkan bisa juga menghafal ayat-ayat dalam kitab suci.

Dimana dengan menghafal ini, setidaknya fokus mata terhadap tulisan akan berkurang, ketimbang mereka yang hanya melulu membaca ini. Lumayan lah, jika kita bisa melakukannya. Ini berarti, semakin lama kita menunggu, maka akan semakin banyak hal yang masuk dalam memori pikiran kita. 

Akan tetapi, satu hal yang perlu diingat pada saat menjalani aktivitas mengahafal ini, yakni sekiranya aktivitas ini janganlah sampai mengganggu orang lain yang berada di sekitar kita. Misalnya, menghafal dengan suara yang lantang sehingga memicu kegaduhan. 

Sebaiknya, aktivitas menghafal (jika dilakukan di tempat umum) itu dibunyikan dengan suara yang sangat perlahan saja, sekiranya kita sendiri saja yang akan mendengarnya, sehingga aktivitas menghafal kita ini tidak akan sampai mengganggu orang lain di sekeliling kita. 

Kelima, Menulis 

Opsi lain yang dapat kita gunakan untuk mengisi waktu yang kontraproduktif adalah dengan menulis. Kita dapat menuliskan apa saja yang kita temui di sekeliling kita selama proses menunggu itu. Bagaimana keadaan hati kita selama proses penantian? Bagaimana reaksi mereka yang kita tunggu? Atau kita juga bisa menulis gagasan-gagasan lainnya di luar hal itu. 

Semakin lama menunggu, setidaknya akan semakin banyak pula tulisan yang akan kita buat. Dengan demikian, waktu yang telah kita lalui itu tidak akan terbuang dengan percuma. 

Keenam, Berfoto dan Nge-Vlog 

Mereka yang tidak telaten untuk menjalani lima hal di atas, juga dapat menyalurkan hobinya untuk berfoto dan nge-vlog ria. Dengan mengolah kreativitas mereka untuk mendokumentasikan dan meliput apa saja yang ada di sekelilingnya, sekiranya hal itu akan bermanfaat bagi pirsawannya. 

Saya kira hal ini juga akan sangat berfaedah bagi pihak yang telah mengkreasinya, baik dalam bentuk portofolio karya maupun potensi penghasilan. 

Ketujuh, Tidur 

Kita mungkin saja tidak menyangka kalau aktivitas sepele yang satu ini juga bisa berkaitan dengan produktivitas. Pada umumnya, setelah kita mencoba mempraktikkan keenam pilihan hal di atas, bisa jadi, tenaga kita akan banyak yang terkuras. 

Dan sebagai upaya untuk memulihkan tenaga kita yang telah hilang itu salah satunya adalah dengan tidur. Melalui tidur, kita setidaknya akan me-restart kembali kondisi tubuh kita, sehingga setelah bangun, ia pun akan kembali segar dan siap untuk berkarya. 

Mungkin saja, inilah yang menjadi penyebab dalam tradisi orang-orang Jepang, dimana mereka akan sering dijumpai sedang duduk tertidur pada fasilitas-fasilitas umum, baik di kereta maupun di tempat kerja. 

Dan bahkan, pihak atasan yang mendapati para bawahan mereka sedang tertidur ini pun justru memaklumi keadaan ini. Sebab mereka menengarai bahwa mereka yang tidur di kantor ini berarti telah memberikan seluruh tenaga dan totalitasnya pada perusahaan. 

Hmmm. Kira-kira, apa jadinya ya, kalau hal yang seperti ini dipraktikkan di negeri kita ini? Ya, mungkin, siap-siap saja akan mendapat gunjingan dari sesama rekan kerja atau lebih parahnya lagi, akan mendapat teguran dari pimpinan. 

Sebab, hal ini bukanlah termasuk dari budaya masyarakat kita. Mungkin saja, jika ada pihak di negeri ini yang mencoba untuk memanfaatkan budaya tidur itu, mereka akan mendapat stigma dari pihak lain sebagai kelompok yang suka tidur di mana saja, yang prinsip hidupnya, tiada hari tanpa rebahan dan tidur yang panjang. 

Kembali lagi ke bahasan tentang tidur supaya lebih produktif. Mumpung seseorang masih berkesempatan untuk memulihkan tenaganya dan itu pun diperbolehkan, maka sebaiknya manfaatkanlah! Tidurlah, jika memang panggilan alam itu telah datang! 

Namun, hal lain yang perlu diwaspadai pada saat kita tidur ini adalah jangan sampai karena terlalu lelap, kemudian hal ini justru akan membuat kita kehilangan apa yang telah kita nantikan, seperti: ketinggalan kereta, diserobot nomor antrian kita, atau kehilangan jejak dari orang yang telah kita nantikan. 

Dan, manakala hal ini yang terjadi, maka bukanlah produktivitas yang akan diperoleh, tapi justru sebaliknya, kerugian. 

Saya kira, hal-hal inilah yang dapat kita lakukan untuk mengisi situasi yang kontraproduktif sehingga kita dapat menggunakannya untuk aktivitas yang bernilai positif lainnya. 

Jika ada hal-hal baik lainnya yang belum saya sebutkan dalam tulisan ini, maka Anda pun boleh menambahkannya sendiri menurut pendapat Anda. Anggap saja tulisan saya ini hanyalah sebagai pancingan, agar siapa saja tetap mampu beraktivitas secara produktif di tengah peliknya masa-masa yang kontraproduktif. Dan pada akhirnya, selamat berkarya!