Hampir setiap orang tua sangat mendambakan anaknya ingin sukses, melampaui suksesnya orang tuanya. Ada yang ingin memasukkannya ke akademi militer, baik darat, laut, maupun udara biar jadi tentara. Ada juga yang ingin ke akademi kepolisian biar jadi polisi. Belum lagi yang dimasukkan ke sekolah ikatan dinas. Dan yang paling ditunggu-tunggu dan dinanti: PNS.

Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah pekerjaan yang paling diidam-idamkan oleh orang tua. Kok bisa? Hampir setiap anak yang mendaftar rata-rata akan menjawab “ingin membanggakan orang tua”. Secara tidak langsung, peran orang tua di sini jelas terlibat. Terlebih sudah seperti standar khusus bagaimana caranya berbakti kepada orang tuanya.

Saya adalah salah satu dari sekian anak yang menjadi “korban” dari sebuah indoktrinasi orang tua agar bisa menjadi seorang PNS. Saya sudah dua kali mencoba ujian CPNS, dan hasilnya: belum rezeki. Tentu saja hati ini luluh lantah atas kegagalan, eh belum rezekinya ini. Terutama melihat mata orang tua yang seakan kehilangan penerusnya sebagai “abdi negara”.

Bapak saya seorang pensiunan pegawai kereta. Ibu seorang PNS sebagai sekretaris lurah. Jelas harapan dan kebanggaan penerus takhta keluarga dibebankan ke saya. Melihat orang tua saya sebagai “abdi negara”, rasanya sangat kurang kalau saya bekerja hanya sebagai karyawan di instansi swasta.

Namun, apakah hanya dengan menyandang gelar PNS, lalu semuanya dianggap keren? Dianggap masa depan sangat cerah kalau sudah sah dan layak memakai baju keki dan batik biru KORPRI? Beda dengan kerja di instansi luar PNS yang punya ancaman PHK, potong gaji, atau selesai kontrak. Saya rasa itu cukup berlebihan untuk sebuah identitas pribadi dengan status PNS.

Oh iya, arti “keren” di sini adalah dalam arti punya penghasilan yang mumpuni. Kebanyakan orang akan mencap status “keren” ini kepada orang yang punya kekuatan ekonomi. Biasa, kan, kebanyakan orang cuma melihat dari segi materi? Penghasilan tinggi. Bau minyak wangi. Rapi-Rapi. Dapat tunjangan lagi. Ah, parlente sekali.

Pada dasarnya ya sama saja. PNS, TNI/Polri, swasta, sampai ke tukang bangunan maupun asisten rumah tangga (ART), itu ya sama-sama berstatus “buruh”. Iya, buruh.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), buruh memiliki pengertian orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Mudahnya, siapa yang menerima gaji atau upah, disebut buruh.

PNS bekerja untuk melayani masyarakat. Begitu pula dengan polisi yang lebih mengarah ke keamanan masyarakat. Tentara bekerja untuk melayani rakyat dengan perlindungan dan pertahanan negara.

Lalu apa bedanya dengan tukang bangunan yang bekerja untuk mandornya atau tuan rumahnya dengan menata bata demi bata menjadi bangunan jadi? Apa bedanya pula dengan ART yang bertugas menjaga kebersihan rumah? Kan, sama-sama diberi upah?

Baca Juga: PNS Nongkrong

Berbekal nama “pegawai” yang tidak atau kurang berkenan disebut buruh, berakibat munculnya kasta seperti demikian. Siapa yang memulai pembuatan kasta ini? Hampir tak ada orang yang mengakuinya. Bahkan setiap orang tak memedulikannya, bahwa dengan pembentukan kasta tersebut menimbulkan ketimpangan sosial.

Pernah salah seorang membuat “thread” di Twitter yang isinya curhat gagal mempersunting pujaan hatinya hanya gara-gara masalah pekerjaan.

+ “Kamu kerjanya di mana?

- “Saya kerja di ..... (nama instansi swasta)

+ “Oh bukan PNS ya?

Dalam hati, “terus kenapa kalau ga PNS? Ga bisa kasih makan ke anak istri maksudnya?”. Seakan-akan hidup ini akan tenang dan damai kalau bisa kerja sebagai PNS. Apakah dengan menjadi PNS mesti cerah sekali hidupnya? Belum tentu.

Ada PNS yang sudah golongan III mau ke IV kesulitan keuangan, khususnya masalah kredit bank. Bahkan ada yang berstatus “diragukan”. Artinya, selangkah lagi beliau akan berstatus “Macet”. Kalau sudah “Macet”, siap-siap aja ditolak di semua lembaga keuangan kalau mau berurusan lagi dengan pinjam uang. Ini keren dari mana coba?

Belum lagi banyak PNS yang korupsi. Banyak yang tidak terdeteksi dan ke-blow up media. Data Badan Kepegawaian Negara (BKN) pada selama tahun 2018 tercatat sebanyak 2.357 PNS terjerat kasus korupsi. Dan jumlah ini belum termasuk yang belum ditindak dan dipecat. Tapi ya, memang kalau korupsi sudah jadi budaya. Jadi mau dihilangkan pun sulit untuk dihilangkan.

Stigma “PNS itu Keren” sepertinya harus segera dihapuskan, dimasukkan ke tong sampah, atau dibakar bersama tumpukan sampah. Stigmatisasi tersebut menjadi alat untuk mendiskriminasikan orang-orang yang di luar PNS, khususnya yang berpenghasilan rendah.

Apakah berpenghasilan tinggi cuma dari PNS saja? Sepertinya tidak. Coba lihat beberapa pengusaha dan pekerja lepas. Mereka bisa sukses tanpa harus memikirkan maupun menyandang status PNS.

Chairul Tanjung, si Anak Singkong. Ketenarannya sudah tidak bisa diragukan lagi. Lulusan kedokteran gigi UI 1987 ini tak pernah terpikirkan untuk menjadi PNS dokter gigi. Buktinya sekarang menjadi pemilik CT Corp yang menjadi induk perusahaan televisi nasional Trans, Supermarket Transmart dan Carefour, Bank Mega, dan berbagai gurita bisnis lainnya. Tak ayal menjadikan “Anak Singkong” ini menjadi salah satu konglomerat dengan urutan nomor 6 versi Majalah Forbes Indonesia Tahun 2020.

Selain itu, pada zaman Presiden SBY, Bang CT ini diberi amanah sebagai Menko Perekonomian. PNS dokter gigi saja belum pernah, apalagi PNS perekonomian yang mungkin cuma angin lewat pas Bang CT ini lagi tidur.

Kemudian Alm. Didi Kempot. Penyanyi legendaris sejak 1999 tak pernah mencicipi rasanya jadi PNS Dinas Kesenian dan Kebudayaan. Darah seni mengalir dari orang tuanya yang sama-sama pekerja seni. Berawal dari panggung jalanan, sampai ke dapur rekaman.

Pelantun “Solo Balapan” makin tenar kembali ketika naik pangkat dari “Penyanyi Campursari” menjadi “Godfather of Brokenheart”, setara dengan pangkat “Guru Besar”. Kenaikan pangkat ini bukan oleh sesama pegawai, tetapi oleh rakyat ambyar seluruh Indonesia. Kurang keren apa coba?

Kisah dua tokoh nasional adalah contoh dari sekian orang non-PNS yang keren. Mereka berangkat dari nol besar. Tumbuh berkembang menjadi apa yang kita lihat sekarang. Mereka membuktikan bahwa keren tak harus melalui seleksi ketat kertas ujian maupun Computer Assisted Test (CAT). Tapi, ketekunan, kelihaian, kecerdikan, kreatif, keuletan, dan kesabaran, dengan iringan doa, menjadikan mereka menjadi ikon orang keren di masa kini.

Bukan berarti ga usah jadi PNS. Ya salah besar kalau punya pemikiran seperti itu. Apa pun pekerjaannya semua baik. Semua keren. Semua bekerja pada tugas dan fungsinya masing-masing. Tak ada yang lebih unggul antara satu dengan lainnya. Tidak ada. 

Memang rasanya sulit untuk menghilangkan stigma “PNS itu Keren”. Sudah mendarah daging bagi setiap orang tua. Iming-iming dapat segala fasilitas, gaji, tunjangan, dan lain-lain, terkesan jadi PNS sangat aman dan tercukupi.

Padahal, semua itu tergantung pribadi masing bagaimana cara mengelola dan mengatur keuangan. Dan yang paling penting, menjaga nafsu serakahnya. Toh, bahagia, kan, bukan hanya persoalan materi, tapi lebih ke hati. Uhuk.

Syukurnya, dua tahun ke depan pemerintah menyetop penerimaan CPNS. Telinga ini sudah tidak panas lagi mendengar kalimat, “Si A udah jadi PNS lho. Kamu kapan nyusul?” Alhamdullillaaaah.