Tetanggaku Pemalas dan Kotor


Mimpi  kadang tidak semua sesuai harapan. Semua yang terlihat sempurnapun kadang ada saja cacatnya, Bunga yang indah akan layu bila dipetik. Kehidupan yang indah ada didiri kita sendiri, sudah bahagiakah kita akan diri kita.

Hari ini seperti biasa aku dan istri berangkat kerja pukul 7.00 dari rumah kekantor memakan waktu sekitar satu jam.Ayo pak berangkat, kata istriku. Mobil Calya merah kukeluarkan dari garasi, bergegas istriku masuk mobil dan kami berangkat.

Perumahan kami relatif luas untuk kondisi saat ini. Jumlah Keluarga di sini sekitar 200 kepala keluarga, cukup ramai bila semua keluar rumah. Degan jumlah penduduk yang ada perumahan kami bisa membuat satu rukun warga sendiri, karena terdiri dari 4 rukun tetangga.

Mobil Pelan menuju gerbang komplek perumahan kami. Perjalanan keluar gerbang perumahan terasa lama sekali selain karena banyaknya polisi tidur, suasana ramai pagi hari menjadi rutinitas diperumahan. Ada yang bersiap-siap berangkat kerja, menjemur pakaian atau bahkan sambil senda gurau membeli sayuran digerobak tukang sayur. Tanaman yang hijau sepanjang jalan dan indahnya bunga-bunga yang mekar membuatku menerawang jauh, “wah alangkah enaknya bila setiap pagi bisa bersantai sambil minum kopi menikmati suasana perumahan ini gumamku dalam hati yang paling dalam.


Lamunanku pagi ini dikagetkan mendengar suara istriku. pa katanya sambil terus bicara, heran dech.  Sambil melihat keluar jendela dan sesekali jari telunjuknya mengarah keluar dia, coba lihat itu pa. Lihat apa? jawabku.Itu pagar tembok tetangga kita lusuh-lusuh. apa tidak punya uang ya buat bikin cat baru?. hmmm, jawabku dengan menyiapkan sabar yang lebih banyak.

Ya ampun pa, itu jemuran tetangga kita ih amit-amit  masih kotor begitu sudah dijemur apa ngak punya sabun atau pembersih. ucapan istriku semakin tidak terkontrol, namun aku berfikir mungkin dia sedang dalam keadaan mood yang tidak baik.Kok pada keluar rumah beli sayur pada pake baju kotor-kotor dan lusuh ya pa??

Sepanjang Jalan keluar perumahan dia selalu mengolok-olok tetangga kami. Yang kotor lah, lusuh-lusuh dan lain-lain. Hampir setiap hari seminggu ini dia komentar terus dan membandingkan dengan cuciannya yang dirumah yg lebih bersih wangi.

Kehidupan kami berjalan seperti biasa,rutinitas berangkat pagi kekantor dan pulang sore bahkan sampai malam. Dimalam haripun istriku selalu mengeluh dan mengejek tetangga dengan berapi-api dia utarakan semua yang dilihatnya dipagi hari

Setelah seminggu berlalu, semua seperti biasa dia selalu komentar angkuh dan sombong. Tapi pagi ini, dia kaget dan terheran - heran  ketika melihat jendela, tembok- tembok tetangga terlihat cerah dan warnanya masih bagus. Jemuran tetanggapun seperti itu. Lalu dia berkata, pa kurasa tetangga kita sudah melihat rumah kita dan jemuran mama, itu tembok mereka hari ini sudah cerah - cerah dan jemuranya juga sudah bersih

Gitu dong contoh rumah saya dan lihat jemuran saya yg bersih jadi kan enak dilihat kalau begini. Maa, boleh papa bicara". "Kenapa pa, jawabnya. Tadi pagi-pagi sekali papa bangun, buat cuci mobil papa, kaca- kaca mobil papa bersihkan jadi sudah tidak ada kotoran yang nempel dikacanya. Maksud papa apa sih ngak ngerti aku, ucapnya.

Selama seminggu ini mama menjelekan tembok tetangga dan jemuran Mereka dan membadingkan dengan punya kita. Padahal dari seminggu yang lalu tembok mereka ya seperti itu cerah, jemuran Meraka ya seperti itu bersih, yang kotor itu mobil kita ma, kaca mobilnya kotor belum sempat papa bersihkan. Seperti kehilangan kata-kata  dia meneteskan air mata, ya  Allah ternyata seminggu ini aku yang salah melihat tetanggaku begitu kotor ternyata padanganku yang kotor, kaca mobilku yang kotor

Kita sering menilai sesuatu dari kaca mata kita, tapi kita kadang lupa sudah bersih atau belum kacamata yang kita pakai..

Dunia ini luas, rasa-rasanya sangat egois jika kita hanya melihat suatu persoalan dengan satu sudut pandang kita saja. Seolah mata kita yang paling jeli melihat, seolah hati kita yang paling kuat merasakan, seolah apa yang kita pikirkan itu paling benar. Padahal, kita hanya melihat apa yang nampak, bukan  apa yang sebenarnya terjadi, apa yang benar mereka rasakan.

Di sinilah pentingnya untuk meluaskan sudut pandang bahwa tidak semua yang menjadi jalan pikiran kita sesuai dengan orang lain, begitu juga sebaliknya. Di sinilah pentingnya untuk berkaca lebih lama agar benar melihat cela dari diri kita. Di sinilah pentingnya untuk menilik diri lebih dalam lagi apakah mulut ini sering menyakiti atau tidak. Dan di sinilah pentingnya untuk menjaga ucap dan sikap saat kita hanya melihat apa yang kita lihat. Maka, kurangi asumsi, perbanyak instrokpeksi.