Penulis Lepas
4 minggu lalu · 1033 view · 4 menit baca · Filsafat 30830_33954.jpg
Pexels

Teruntuk Mereka yang Memilih Sendiri

Siapa pun yang memilih untuk sendiri atau tidak sedang menjalin hubungan—di negara ini—hampir secara otomatis (walaupun kurang lebih secara diam-diam) akan dipandang sebagai orang yang menyedihkan atau orang yang sangat bermasalah. Bahkan lebih parah, akan dicap sebagai gay atau lesbian. 

Tidak ada yang salah dari menjadi penyuka sesama jenis, namun yang salah ialah tuduhan tak berdasar kepada mereka yang tidak. Itu.

Singkatnya, sama sekali mustahil untuk menjadi lajang dan normal, secara bersamaan. Dan paling tidak, seperti itulah yang ada di pikiran mereka para kaum ignorant.

Sebagai permulaan, kita harus sadari bahwa gagasan untuk jatuh cinta pada satu pasangan istimewa seumur hidup (cinta sehidup semati) adalah konsep yang masih sangat baru, ambisius, dan ganjil—yang kurang lebih baru berusia sekitar 250 tahun. 

Pada masa-masa sebelum itu, orang-orang memang hidup bersama, tentu saja, tetapi tanpa sensasi merasa bahagia karenanya. Itu semua tak lebih dari sekadar konsekuensi pragmatis belaka, yang dilakukan hanya untuk bertahan hidup, juga lantaran anak-anak yang sudah telanjur dilahirkan.

Kita harus tahu bahwa pernikahan yang romantis hingga akhir hayat, secara teori memang memungkinkan. Tetapi secara statistik, hal itu hampir mustahil, karena hanya sekitar kurang dari 5 persen dari seluruh sejarah populasi bumi, yang mana sebuah hubungan romantis bisa dibawa sampai mati.

Oleh sebab itu, kegagalan dalam sebuah hubungan, ada baiknya tak mesti dianggap sebagai sebuah kegagalan besar yang memalukan. Kita manusia cenderung menggantungkan harapan yang terlampau tinggi. Laksana seorang pemain sirkus akrobatik yang menggantung talinya terlalu tinggi dari atas permukaan tanah. 

Tak heran banyak dari kita yang akhirnya jatuh dari tali, lalu tak bisa, atau juga tak mau untuk bangkit kembali, lantas berkilah menggunakan alasan klasik, yaitu: trauma.

Mereka yang memilih untuk tetap melajang, sangatlah tidak adil jika dituduh sebagai pribadi yang tidak punya cinta. Sebaliknya, bisa jadi justru merekalah orang-orang yang penuh akan cinta. Mereka teramat mencintai manusia lain (pada khususnya), dan pada kemanusiaan (pada umumnya). 

Mereka tak akan memperlakukan manusia lain secara amoral. Karena mereka tentu akan sangat berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam hubungan yang medioker, pun kolot, yang sarat akan stigma-stigma berbau seksisme seperti: perempuan tak sepantasnya jauh-jauh dari dapur, atau laki-laki tak sepantasnya menangis. 

Hubungan medioker semacam itu, memang cocok bagi orang-orang yang nyaman hidup dalam lingkungan konservatif, yang tak tahu apa potensi terbaik dari diri mereka sendiri.

Kemudian kita akan berpikir, “Lantas apakah aku harus sendirian seumur hidup? Haruskah aku khawatir jika nantinya tak akan pernah dapati orang yang tepat?”

Well, sayangnya kekhawatiran itu memang betul adanya. Kita mungkin tak akan pernah temukan orang yang tepat. Ini mungkin terlalu jahat untuk mengatakannya, tapi orang yang tepat untuk kita, tak pernah benar-benar eksis/ada. Sekeras apa pun kita mencoba, pasti akan selalu ada aspek, sisi, atau sifat yang tidak kita sukai dari mereka—meski hanya sedikit.

Letak kesalahannya sudah pasti bukan pada kita, atau juga pada mereka. Siapa pun yang tampaknya menyenangkan di awal, suatu saat akan berubah jadi membosankan, kejam, rumit, dan mengecewakan—yang tentu saja menurut penilaian kita sendiri.

Kita memikul beban yang telanjur diwariskan oleh era Romantisisme (Shakespeare dengan kisah Romeo-Juilet, juga konco-konco seperjuangannya yang lain), dan telah membikin kita menderita karenanya. 

Kita telah dibuat sakit oleh fantasi bahwa suatu saat akan datangnya seorang pangeran/putri yang tercipta khusus untuk kita, yang akan setia hingga akhir, yang akan menjadi belahan jiwa, yang akan menjadi teman seks, menjadi sopir, menjadi imam, menjadi pembantu rumah tangga, menjadi perwujudan orang tua, menjadi rekan bisnis, ataupun yang bisa merangkap jadi teman baik. 

Kita sangat yakin bahwa kita bisa melihat sosok “dia" di dalam kepala. Hal itu tak lain dan tak bukan karena kita sendirilah yang telah mengarang “dia". Dan pada kenyataannya, “dia" tak kan pernah eksis di dunia nyata.

Iklan, film, dan musik bertanggung jawab dalam meyakinkan kita bahwa, setelah alami sakit hati di masa lalu, kita pada akhirnya akan temukan orang yang tepat, belahan jiwa yang telah lama hilang. Tentu saja itu adalah ide brilian yang mampu dilakukan oleh sebuah perusahaan ketika sedang berupaya menjual tiket konser ataupun tiket bioskop.

Kecocokan adalah pencapaian yang bisa dihasilkan oleh cinta. Bukannya malah dijadikan sebagai prasyarat, bahkan sebelum cinta itu sendiri dijalani. Kita akan lebih bijak dan nyaman dengan seseorang, ketika berhenti memaksakan pandangan bahwa: pasangan yang tepat buat kita haruslah orang yang selalu mampu berbagi selera, ketertarikan, dan juga pendapat yang kita punyai.

Faktor lain yang membuat kita akan selalu merasa sendirian ialah kemampuan setiap orang yang bisa berbahagia dengan caranya sendiri-sendiri, bahkan ketika sedang menjalani hubungan sekalipun. 

Hubungan tak akan pernah menyelesaikan masalah kesendiran yang dimiliki manusia. Karena memang tiap-tiap dari kita terlahir sendirian, dan nantinya akan mati sendirian pula. Kita terlalu unik untuk bisa dimengerti sepenuhnya oleh orang lain.

Dan tentu saja, kita harus tahu perbedaan mencolok antara apa yang kita butuhkan dengan apa yang kita inginkan—jika kita bicara soal pribadi introver atau pula ekstrover. Tak bisa dipungkiri bahwa kita adalah makhluk egois, yang mana hanya ingin mendengar apa yang ingin kita dengar, hanya ingin membaui apa yang ingin kita baui, dan hanya ingin melihat apa yang ingin kita lihat.

Sebagai penutup, mengutip tulisan Chuck Palahniuk dalam bukunya yang berjudul Invisible Monsters, “Orang yang kaucintai dan orang yang mencintaimu, tidak akan pernah menjadi satu orang yang sama,” —mereka adalah dua orang yang berbeda.