3 bulan lalu · 45 view · 3 min baca · Filsafat 94272_15149.jpg
Leadership & Management

Tertolong atau Teralienasikah Manusia?

Revolusi industri 4.0 di Indonesia telah mulai dicanangkan sejak tahun 2011 dan mulai menyebar informasinya yang dapat dirasakan tahun 2017 hingga sekarang. Dengan memasuki revolusi industri 4.0, Indonesia mulai memasuki kancah persaingan teknologi industri berbasis otomatisasi, digitalisasi, robotik, dan big data.

Perkembangan zaman menuntut proses produksi barang dan jasa yang efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Maka diperlukan perubahan, pembenahan, hingga adaptasi teknologi yang diperlukan untuk menunjang dan memperlancar revolusi industri 4.0. Harapannya, bangsa Indonesia bisa tetap ikut ambil bagian atas persaingan ekonomi skala global.

Pada koran Kompas bagian Ekonomi, Jumat, 12 Oktober 2018, oleh Andreas Maryoto dengan judul “Adaptasi Menuju Revolusi Industri 4.0”, berusaha menggambarkan kondisi dan kebutuhan revolusi tersebut. Proses penerapan revolusi industri 4.0 ini memberi dampak-dampak yang luar biasa dengan kecanggihan teknologi untuk menolong hidup manusia.

Adanya anggapan revolusi industri itu mampu menolong hidup manusia itu seperti pabrik yang menggunakan robot dalam pekerjaannya. Maka hasilnya, pekerjaan manual akan berkurang atau tidak ada, yakni oleh manusia dan digantikan “kepiawaian” robotik dan komputasi. Begitu juga kebutuhan dan ketergantungan akan teknologi makin tinggi.

Kebutuhan dan ketergantungan akan teknologi yang tinggi terwujud pula dalam hal nyata, yakni komunikasi. Dua perusahaan telekomunikasi, yakni XL Axiata dan Telkomsel, berusaha mengembangkan jaringan komunikasi teknologi 5G. Implementasi teknologi 5G adalah muncul gambaran akan model mobil tanpa pengemudi, sepak bola virtual, balap sepeda virtual, dan lain-lain.


Begitu juga dalam konteks pengelolaan kota cerdas, seperti pengelolaan air, tempat sampah pintar, dan lampu lalu lintas. Inilah harapan dan upaya pengembangan teknologi dari konsekuensi revolusi industri 4.0.

Berangkat dari sini, dapat dilihat banyak kebutuhan yang diperlukan untuk menunjang revolusi tersebut, yakni salah satunya sumber daya manusia (SDM). Pemerintah diharapkan agar segera membuat kebijakan dalam mengatur strategi pendidikan masyarakat kelas menengah ke bawah, agar dapat ikut ambil bagian atau bersinergi dalam pergerakan roda revolusi industri 4.0 ini. 

Perlu disiapkan sistem pendidikan yang terarah dan terintegrasikan dengan/pada revolusi industri 4.0, sehingga masyarakat akan mudah memperoleh pekerjaan.

Perubahan industri 4.0 ini menciptakan lapangan pekerjaan baru dan menggantikan lapangan pekerjaan yang lama dengan basis manusia (manual). Dengan demikian, masyarakat akan mampu berjalan beriringan dengan revolusi industri 4.0 dalam otomatisasi kerjanya.

Menyadari hal ini, secara langsung atau tidak langsung, manusia telah mengalami pergeseran makna kerja. Dulu manusia harus bekerja dengan tenaga utuh (fisik) agar bisa menghasilkan atau mendapatkan upah. Sekarang kecanggihan teknologi telah menolong umat manusia agar tidak perlu bersusah payah bekerja dan bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik.

Imbasnya pun juga masuk pada pendidikan agar masyarakat yang ada itu mengarahkan diri pada tuntutan dan kebutuhan industri, yang seolah-oleh menjadi tujuan hidupnya. Akhirnya kondisi tersebut oleh Harbert Marcuse seorang tokoh Mazhab Frakfurt disebut One Dimensional Man (Manusia Satu Dimensi), yang mana manusia tidak bisa melawan, melainkan hanya mengikuti dan mengafirmasi saja.

Manusia ditundukkan oleh sistem agar mau mengikuti tuntutan dan kebutuhannya agar mampu meningkatkan produktivitas. Dalam hal ini adalah mengondisikan situasi yang ada agar sejalan dengan keinginan kapitalis. Prosesnya adalah menggunakan atau memanipulasi hasrat kebutuhan manusia dengan dimanipulasi agar manusia mau mengikuti kehendak sistem yang ada.


Modelnya seperti menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu yang diubah menjadi kebutuhan manusia yang asli saat ini, contohnya kendaraan bermotor, gadget, dan lain-lain. Banyak model teknologi yang telah merambah dan merasuki hidup manusia yang secara tidak sadar mengendalikan hidup manusia itu sendiri.

Manusia sudah tidak dapat memilih lagi secara bebas apa yang menjadi kebaikan dirinya. Situasi di sekitarnya telah membentuknya sedemikian rupa. Pilihan-pilihannya sudah diarahkan secara langsung tanpa disadari dengan lingkungan yang membentuknya.

Kerja bukan lagi suatu bentuk mengembangkan potensi diri secara maksimal dan menuju pada aktualisasi diri. Kerja menjadi semacam produktivitas yang memiliki masa waktu dan jumlah saja. Bila mencapai waktunya, berarti sudah selesai.

Makin canggih teknologi mengarahkan manusia untuk tunduk dan menerima sajian yang timbuh dalam kehidupan masyarakat. Dari situ setiap orang merasa butuh untuk terus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Padahal pemenuhan tuntutannya tidak sesuai dengan latar belakang hidupnya.

Pergerakan revolusi industri sendiri mau tidak mau mengajak masyarakat berperan secara aktif mendukung program tersebut. Padahal kondisi masyarakat Indonesia tidak atau belum secara baik siap menerapkan kondisi tersebut.

Akhirnya masyarakat ditarik dengan harapan-harapan yang menjanjikan akan keadaan hidup yang baik dalam negara Indonesia, seperti perekonomian yang baik, tekonologi yang memudahkan bekerja, dan lain-lain. Idealisme dari pengaruh revolusi industri ini menjadikan lupa apa yang menjadi kebutuhan pokok pertama-tama bagi kebaikan bangsa Indonesia.


Inilah tantangan yang dialami oleh seluruh masyarakat Indonesia saat ini. Pergerakan roda kehidupan telah sedemikian cepat dan memaksa siapa pun saat ini untuk turut terlibat. Bila tidak, akan ditinggalkan dan dibuang. Begitulah kondisi yang saat ini terjadi.

Maka dari sini, manusia makin tertolong atau teralienasikah (terasing) dalam bahasa Marx dari kondisi itu? Jawabanya masih belum diketahui secara pasti.

Artikel Terkait