Seperti inikah rasanya dihantam pilu sebab gagal melupakan masa lalu? Bak dihujam anak panah di tengah mengerikannya Perang Badar yang begitu menggelora, aku sungguh menderita dengan semua yang ku alami.

Engkau yang terpatri di ujung tanduk ingatan, selalu mampu menjerumuskanku ke perosok kenangan suatu masa. Aku ingin melepas tentangmu, melepas semua hal yang selalu mengoyak ketenanganku.

Aku yang dahulu selalu melihat rekahnya senyummu di pagi hari, harus dipisahkan oleh pahitnya kenyataan bahwa kau sudah tak bersamaku.

Bagaimana mungkin aku mampu tersadar sedang semua gerak-gerik liku tubuhmu terekam lengkap elok-elok dalam sanubari nadiku.

Aku bahkan terngiang-ngiang dengan celotehmu di siang terik ketika kau keluhkan ‘aku ingin makan ini, aku ingin minum itu,’ tapi lagi-lagi aku ditampar keadaan, kau sudah tak di sampingku wahai sayang.

Sambil menggigit jari aku menerka-nerka, adakah orang bodoh sepertiku yang gagal meninggalkan masa lalu, bahkan begitu berat meninggalkan luka yang padahal menggerogoti batin setiap sore dan malamnya.

Seperti biasanya di setiap pagi ku seduh kopi di atas cangkir yang kau berikan saat ulang tahunku waktu itu, ku nikmati kopi seteguk demi seteguk dengan penuh haru, entah mengapa rasanya hambar, lebih hambar dari pada air tawar yang mengalir di sepanjang kali aliran Sungai Kelingi.

Seperti inikah menderitanya aku melupakanmu? Pontang-panting di ambang harapan, jatuh bangun di ujung pesakitan masa lalu. Aku ambyar karena gagalnya daku melupakanmu.

Entah seberapa banyak sumpah serapah yang keluar dari lisan ini, membegal takdir yang dirasa tak pantas didapatkan, lantas siksaan cinta apa lagi yang harus dialami oleh seorang bernasib malang sepertiku.

Kalau saja masa dapat berputar ke arah kiri, tentu kebersamaan denganmu akan benar-benar ku pertaruhkan agar kau tetap duduk bersamaku sampai ujung hayat.

Begitu dalam rasaku padamu wahai kasih. Hingga saat ku terbangun dari panjangnya malam hanya kau yang muncul diingatan.

Kita memang telah selesai, tapi rasaku padamu tak jua kunjung usai. Pertanda bahwa aku masih berada pada gelapnya masa lalu.

Bak cerita Zainuddin yang hampir mati karena cinta, mati-matian mencintai Hayati tapi apatah kata keadaan tak bisa menyatukannya, apa segetir itu yang namanya cinta?

Lebamnya batin dan bonyoknya perasaan adalah tamparan keras bagi diri, jangan mau dipermainkan oleh perasaan.

Di sepanjang malam doa-doa selalu dilangitkan, berharap sendu atas Tuhan agar mampu dikuatkan atas nama pedihnya keterpurukan.

Ya Rabb hamba hanya kaum-kaum lemah, yang tak berdaya di atas rantai-rantai rasa yang masih teruntai, bahkan terikat erat di dalam simpul nadi masa nan dahulu.

Rima-rima penghambaan selalu diselingi oleh resapnya air mata tak karu-karuan, diseka diusap bahkan dihentikan oleh jemari tangan, namun deras kucurnya tak mampu melerai air mata yang kian tumpah semakin menjadi-jadi.

Aduh, aku kian merana dengan perasaanku, semakin malam semakin meledak-ledak, semakin dilupakan semakin mengingatkan daku pada senyum mekar di wajahmu yang merah kemayu itu.

Aku dihianati oleh perasaanku sendiri, bagai seorang pengecut yang tak pernah benar-benar berani atas keputusan yang ingin dilewati. Aku bahkan tak rela membuangmu dari ingatanku.

Terjerembam ke dalam igauan lama, entah mengapa kenangan bersamamu selalu terungkit dengan begitu mudahnya, detik boleh berganti, menit boleh bertukar, tapi kenangan bersamamu tak pernah berhenti di otakku.

Banyak celoteh yang bersabda “untuk apa terus menerus tertelan masa lalu? toh dia juga telah bahagia lepas darimu, pun ia telah lupa bahwa kau adalah masa lalunya. Sampai kapan ingin duduk di situ?”

Di satu senja ku beranikan diri menatap foto-fotomu, juga membaca obrolan lama kita di gawaiku. Awalnya aku tersenyum, tak selang beberapa masa terurai pula derasnya air mata. Aku sebodoh itu, memancing luapan emosi berbalut luka.

Di ujung kamar tepatnya dipojokan ruangan yang agak remang kala itu, ada sayup-sayup kerinduan untuk kembali memadu asmara denganmu, acap kali terbesit untuk memberanikan diri menghubungimu lagi, maukah kita ulangi romansa dahulu?

Lalu kembali aku tersentak, astaga! apa yang baru saja aku pikirkan, untuk apa mengusik seseorang yang bahkan tak peduli lagi dengan terpuruknya aku menghadang kegelapan ini.

Sesaat setelah itu turun pula hujan, rintiknya semakin melengkapi kegetiranku. Hujan memang kejam! datang di saat yang tidak tepat, bagaimana aku dapat menikmatimu, sedang air mataku lebih deras dari pada rintik-rintikmu yang turun menghujam bumi.

Aku tak boleh lalai dengan perasaan, tak boleh terbawa arus yang menyeret memori tentangmu yang harusnya dibuang jauh-jauh, atau dibakar bersamaan dengan perasaanku padamu.

Sekejam inikah melupakan? Di atas simpul-simpul harapan, ingin sekali rasanya lepas dari jerat ingatan, lepas dari perangkap masa lalu, dan bangun dengan sejuta kebaikan setelahnya.

Bahkan tertatih-tatih aku menghapusmu, hingga sekian purnama silih berganti, menandakan sewindu sudah kita tak bersama, tapi mengapa aku gagal menghapusmu?

Sungguh, aku benar-benar gagal menghapus semua memori lamaku tentangmu, sedikit saja tak ada ruang bagiku untuk membencimu, tak ada masa untuk menengok kejelekanmu, kau masih harum dalam hayatku.

Bahkan jika kau telah membunuh jiwaku, takkan mampu tangan ini mengotori wajahmu, apatah lagi memecahkan gemudi kehidupanmu, jujur aku tak mampu.

Aku dibutakan oleh cinta, dibuat menjadi budaknya. Kalau sudah begini bagaimana mampu aku menghapusmu walau tertatih-tatih. Sungguh kejam!

Aku menjadi jijik dengan diriku, benar-benar jijik rasanya. Hanya karena perkara asmara aku jadi sehina ini. Aku salah menilai rasa, aku kalah melawan rindu.

Jangan sentuh lagi yang namanya cinta, jangan lagi sampai dibodohi perasaan. Cukup sekali saja, cukup aku saja!