Ketika kita melihat saat pandemi ini, banyak sekali hal baru yang kita temukan entah karena ketidaksengajaan atau memang sudah berniat dari awal. Saya pun sama seperti itu. Terutama jika berbicara mengenai lagu dan film.

Sepanjang masa pandemi ini saya banyak menemukan hal baru untuk saya, baik itu lagu, film, teater, atau hal berbau seni lainnya yang tidak biasanya akan saya nikmati. Berawal dari keisengan untuk mendengarkan lagu yang bukan bahasa ibu saya, lama-lama dengan rasa penasaran yang ada, bahkan menjadi bagian dari hari-hari saya.

Sama halnya dengan film atau teater yang awalnya bukan kawasan yang akan saya nikmati, saya malah terbuai dengan mudahnya.

Namun di balik itu, ada saja komentar yang kurang mengenakkan bagi saya saya sendiri, seperti “lah memang kamu tahu artinya?” atau mungkin seperti “memangnya kamu tahu dia sedang apa?”

Menurut saya, justru karena itulah saya menikmatinya. Entah karena saya memang tidak mengerti dengan bahasa atau apa yang sedang disampaikannya, itu merupakan point yang membuat saya dapat menikmatinya, menjadi seperti “tanpa mengerti pun kita masih bisa menikmatinya.”

Saya sangat yakin bukan hanya saya yang pernah merasakan hal ini.

Saya juga sangat yakin, entah itu aktor-aktris, artist, musician, atau creator, mereka semua membuat karya pun pasti memakai hati, ada rasa yang dituangkan ke dalam karya mereka.

Pernah tidak ketika berdiri di depan sebuah lukisan kita tiba-tiba takjub, padahal lukisan tersebut jika dilihat dengan mata awam hanya tentang beberapa goresan berwarna saja?

Pernah tidak tiba-tiba tenggelam dalam lagu yang bahkan kita tidak mengerti artinya tapi hanya mendengarkan beberapa bait saja ikut terenyuh dengan flow lagu tersebut?

Atau ketika sedang menonton film yang sangat membosankan tiba-tiba entah angin dari mana ketika ada adegan yang intens tiba-tiba kita yang awalnya mengantuk, langsung ingin menobatkan film tersebut dalam ajang Oscar?

Menikmati bukan berarti kita harus mengerti apa yang ada di dalamnya namun ketika ada perasaan yang terhubung antara kita dengan sang penciptanya. Itu yang ada di benak saya.

Bahkan ketika orang awam berkata hal tersebut tidak ada maknanya, bisa jadi ketika kita yang melihatnya malah meneteskan air mata, saking takjubnya.

Mereka, orang-orang yang dengan ringan mulutnya berkata seakan menghakimi apa yang kita nikmati, bisa sedemikian tentunya karena mereka tidak paham apa yang kita rasakan. Atau mungkin bisa saja tidak ingin mengakui bahwa sebenarnya mereka pun takjub.

Pun begitu saat saya sedang melihat teman saya sendiri yang mempunyai idolanya entah dari Korea Selatan, Thailand, dan Cina untuk mayoritasnya, meskipun ada beberapa negara lain juga.

Saya sesekali heran mengapa mereka serela itu mengeluarkan uang-uang mereka hanya untuk idola mereka yang bahkan mengenal mereka pun tidak.

Saya rasa jika saya berbicara ‘kenal saja tidak’ cukup rude bagi mereka, padahal bisa saja bagi idola mereka sendiri, meskipun idola mereka tidak bisa melihat para penggemarnya satu-persatu, pasti memiliki suatu hal yang membuat antar idola dan penggemar saling terhubung.

Ya salah satunya dari karya mereka.

Jika kita telaah lagi bukankah itu hal yang sebenarnya manis?

Interaksi antara penggemar dengan idolanya yang saling memberi, jika dalam biologi kita biasa mengatakannya sebagai simbiosis, simbiosis mutualisme.

Di mana penggemar memberikan motivasi untuk idolanya sendiri dan idolanya pun memberikan karyanya dengan maksimal kepada penggemarnya sebagai balasannya. Entah idolanya bisa mengingat atau tidak tentang penggemarnya satu-persatu, tetapi mereka tetap saling memberi satu sama lain.

Bahkan di dunia ini, kita bisa saja memberikan suatu hal kecil kepada seseorang entah bisa mengingat kita atau pun tidak, tapi memberikan efek yang sangat kuat kepada masing-masing individunya.

Saya sendiri sebenarnya memang tidak pernah membuka mulut tentang ini untuk menanyakan langsung kepada teman-teman saya karena saya tahu pasti setiap orang berhak memiliki kenikmatannya sendiri. Lagi pula saya mungkin juga merasakannya saat ini, ketika saya bisa menikmati karya orang lain tanpa tahu secara tersurat apa yang ingin disampaikan.

Satu hal yang ingin saya tunjukkan di sini, setiap orang memiliki kenikmatannya masing-masing. Entah itu saya dengan keluarga saya, teman-teman saya, atau pun orang lain bisa saja berbeda. Lalu, apa pun yang orang lain nikmati, bisa kita nikmati juga. Pun begitu sebaliknya.

Mungkin saja ada beberapa hal yang tidak bisa kita tangkap dari banyak karya di dunia ini. Seperti tulisan saya saat ini. Mungkin ada beberapa orang yang tidak menangkap apa yang ingin saya sampaikan pada akhirnya, pun ada juga orang yang mungkin bisa relate dengan tulisan seperti ini.

Karena apa pun itu, kita tidak bisa selalu menjadi gula di antara banyak semut. Ada kalanya kita harus menjadi gula di akuarium.