Tuhan terlalu otoriter ketika melahirkan manusia ke rimba dunia ini. Kita dibiarkan tersesat, bertanya-tanya, dan ujungnya pusing sendiri.

Siapa kita yang bisa menentang-Nya?

"Tuhan, kenapa kita tak diskusi terlebih dulu sebelum aku lahir? Barangkali aku ingin berspesies lain, bukan menjadi manusia?"

Lalu, perasaan mencekam pekat ketika aku makin menganyam usia. Dipecundangi dunia sudah biasa. Merelakan asa yang mengangkasa. Kemudian aku beralih munafik bersembunyi di balik firman-firman-Nya.

Ya, aku salah satu spesies manusia termunafik di dunia. Aku orang yang memecundangi rasaku. Aku melepaskan apa saja "yang katanya" bukan seharusnya milikku.

Bodoh. Tentu saja bodoh. Aku menatap kehilangan demi kehilangan bak tatapan kerbau. Kosong. Sekali lagi, aku sungguh bodoh! Berdiam diri tak bisa apa-apa. Aku tidak tahu harus apa, makanya aku diam tanpa apa.

Apakah Tuhan ingin menjadikan tiap manusia munafik seperti aku? Kurasa iya, tapi juga tidak.

Konon, manusia dilahirkan ke belantara dunia seperti malaikat. Suci, putih, bersih. Makin bertambah usia, makin pekat akan dosa. Pertanyaannya, "Mengapa Tuhan tak menjadikan kita kecil saja sampai akhir usia?" Ya, biar bisa langsung masuk surga. Setelah mati, manusia akan masuk surga (seperti yang dikisahkan para "dewa").

Ah, kumohon Tuhan tak pernah menyesal telah mendatangkan aku yang banyak tanya pun keras kepala ini. Kuakui, aku sendiri pun heran dan tak bisa memfinalkan pertanyaan-pertanyaanku atas hidup dan kehidupan. Selalu ada yang menggelitik batinku.

Aduh, tradisi menjadi manusia melelahkan sekali, Tuhan! Bahkan, sampai detik ini Kau masih otoriter. Aku bilang, aku ingin berhenti saja menjadi manusia. Aku ingin mencoba terbang dan menghisap nektar laksana kupu-kupu. Kau pun tak mengiyakan atau menidakkan. Sia-sia saja, tubuhku masih berat dan besar.

Menjadi manusia alangkah rumit, Tuhan! Ditodong dengan panah tanya beracun di hati, pun sulit tercabut. "Kapan ini?", "Kapan itu?", dan aku balas semua tanya itu, "Kapan kau mati?" Kemudian aku dimusuhi!

Apa yang salah? Bukankah itu juga pertanyaan setara yang mengandung unsur "kapan"?

Konyol. Lucu bagai parodi komedi. Berpacu dengan waktu, menunggu musim berganti, dan menunggu kematian: pekerjaan utama manusia! Sedangkan kebahagiaan itu letaknya tersembunyi. Terkadang jauh digapai.

Begini, kita ambil contoh mengenai "kaya". Definisi kaya bagiku adalah keberlimpahan. Bagi orang lain tentu sama, hanya ada embel-embel "di belakangnya". Misalnya, kaya harta, kaya jabatan, dan kaya hati.

Terkadang opiniku amat sok tahu. Ya, yang kaya harta terlihat sangat bahagia karena berkecukupan materi. Tapi, apakah benar demikian? Sedangkan "kebahagiaan letaknya tersembunyi".

Bahkan, materi menjadi tradisi. Menciptakan mayoritas dan minoritas. Yang mayoritas menghina dan menindas minoritas. Manusia macam apa ini?

Manusia macam apa aku ini, sedangkan aku sendiri tak tahu termasuk golongan mana?

Tradisi manusia sangat absurd. Berbeda ketika menjadi burung. Mereka terbang bebas di angkasa, mencari makan, mencari pasangan, dan begitu seterusnya. Simpel, bukan?

Nah, menjadi manusia rumitnya ampun-ampunan. Poin utamanya saja masih tak terlihat. Ada yang bertanya, apakah yang menjadi poin utama?

Menurutku yang sok tahu ini, poin utama hidup adalah menikmati hidup dengan bahagia. Apakah yakin sudah benar-benar bebas belenggu dan menikmati hidup senikmat-nikmatnya? Ah, kurasa bagian ini akan penuh kenaifan.

Tubuh kita selalu terikat tradisi-tradisi dan norma-norma. Manakala jiwa ingin bebas, tapi terhambat tubuh terikat. Sama halnya ketika jatuh cinta. Pusing setengah mampus.

Katika aku jatuh hati kepada seseorang, naluri kemanusiaanku yang mau tidak mau sudah terdikte tradisi akan bergolak. Segala aspek kehidupan dipertimbangkan. Padahal, idealnya jatuh cinta ya jatuh cinta aja. Kenapa harus pusing dengan latar belakang segala?

Itulah. Salah satu keotoriteran Tuhan. Kita harus berjuang menebak siapa cinta sejati kita. Lucunya, tidak semua manusia akan tangguh dan berpegang teguh menyelesaikan permainan tersebut dengan benar. Banyak yang gugur dan bersama orang yang salah (bukan cinta sejatinya). Benar atau benar?

Sementara aku berpusing ria dan penasaran siapa cinta sejatiku. Yups, aku jauuuh dari teguh dan tangguh. Modal utamaku hanya "penasaran" dan "kepala batu".

Jangan kira aku spesies manusia yang kuat. Aku rapuh dan tertatih-tatih. Hanya saja, derajat ke-kepo-anku terlalu bertalu dan kurang ajar. Aku penasaran dengan tapak hidupku selanjutnya. Sungguh penasaran.

Sampai kapan Tuhan akan otoriter dengan hidupku? Rasanya, aku akan menagih hak-hak bahagiaku kepada-Nya yang selama ini terampas keadaan. Ingin rasanya, melihat dengan jelas segala bentuk ketersembunyian itu.

Sampai kapan?

Sampai sesak di dadaku berganti kelegaan. Juga, menunggu opiniku lenyap jadi abu bahwa Tuhan otoriter. Aku ingin berdiskusi dengan-Nya. Mengutarakan absurdnya isi kepalaku.

Menebas kemunafikan dan kepecundangan diriku atas belantara dunia. Membebaskan belenggu tubuh yang terikat tradisi dan norma. Bahwa, jiwa dan tubuhku sama ingin bebasnya.

Semoga, Tuhan tak menyesal melahirkan aku (yang cerewet) ke jagad ini.