“... menikmati pemandangan yang demikian menyehatkan mata dalam arti sesungguhnya. Hamparan elok warna hijau dedaunan, berselimut halimun sehabis hujan."

Rencana menikmati panorama Puncak di Rindu Alam berubah, karena ternyata restoran yang melegenda sejak tahun 1970-an itu tutup. Mungkin sedang menjalani perbaikan.

Tapi tak mengapa, perjalanan panjang menembus jalan menanjak berliku, berlanjut mengikuti jalan landai menurun. Tiada lelah seujung pun, sepanjang hasrat menuju Puncak bakal teraih, tak sekedar angan-angan.

Tak jauh dari Rindu Alam, di sebelah kiri jalan, sekilas terbaca tulisan ‘Puncak Pass’ berpemandangan luas nan asri.

Sempat penasaran, perjalanan berlanjut terus agak jauh menurun. Namun belum nampak tempat singgah yang terlihat nyaman di sepanjang kiri pun kanan jalan. 

Terbayang tempat bertuliskan ‘Puncak Pass’ yang memikat sejak pandangan pertama, maka berputar balik arah jalan menjadi sebuah keputusan.

Benar, masuk ke tempat penginapan berhalaman luas ini, terdapat tempat terbuka untuk bersantai sambil menikmati aneka masakan. Banyak meja kursi ditata rapi, beratap fiber tembus pandang, mengurai cahaya beraura kehijauan.

Semakin lengkap dengan panorama di bawah, berupa bentangan hijau hutan pinus berlatar belakang langit seluas mata memandang.

Hawa Puncak begitu sejuk menerpa syaraf pipi. Angin meliuk-liuk sepoi, melengkapi sapuannya di kedua pipi. Syer ke pipi kanan, syer ke pipi kiri. Syer kanan lagi, syeer kiri lagi. Begitu lembut, membuat kedua pipi lambat laun merona.

Seorang wanita muda pramusaji berbaju rapi kain batik warna hijau, datang menghampiri. Senyumnya ramah, menyerahkan buku lebar berisi foto dan nama beragam menu. Lalu bertanya mau pesan apa.

Sebuah kebiasaan. Menjawab pertanyaan, dengan bertanya. Answering a question with a question. Bagai sebuah lagu karya Manfred Mann’s Earth Band.

“Mbak, ada promo?” Edi balik bertanya, buah kebiasaan.

Edi, sosok pria pendiam, irit bertutur kata, namun berkarisma, penyayang keluarga.

“Oh, maaf ngga ada Pak.” Mbak Pramusaji menjawab, tetap ramah. Pakai kata maaf pula.

Keliru Edi! Kebiasaan bertanya “Ada promo?” dia lakukan di tempat penyaji masakan di ruang terbuka area wisata alam. Jika disampaikan pada restoran di dalam sebuah mall, pertanyaan itu mungkin masih relevan.

Maklum, Edi tipikal pria penuh perhitungan. Bukan pelit, hanya dalam benaknya pemasukan kudu berimbang dengan pengeluaran. Dari dulu dia memang doyan matematika.

Meski demikian, Edi mencoba demokratis, penampung aspirasi, penyambung lidah orang-orang yang dia cintakan, keluarganya.

Edi dan orang-orang kesayangannya lalu berembuk bersama, membuahkan kesepakatan dalam wujud satu pertanyaan.

“Mbak, menu favorit di sini apa?”

“Ada Pak, Hollandse Poffertjes.” Jawab Mbak Pramusaji fasih.

Gimana? Ricis?” Edi balik bertanya, hanya mendengar suku kata paling belakang, Cis.

Holland se, Pof fer tjes.” Ulang Mbak Pramusaji lebih pelan. Wajah ramahnya bergerak-gerak pelan mengikuti penggalan suku kata.

“Gambarnya yang mana ya Mbak?” Edi masih mendengar kata Cis saja, minta lebih gamblang dalam bentuk foto di buku menu.

“Ini Pak yang namanya Holland se, Poffer tjes.” Telunjuk lentik Mbak Pramusaji menunjuk sebuah foto yang dari tadi dihafal Edi sebagai Cis.

Sebuah foto cantik berupa olahan masakan dalam bentuk cemilan, bukan santapan utama. Bagus penampilannya berupa bulatan-bulatan bola warna kuning kecoklatan bertabur serbuk gula, lalu ada hiasan warna merah serupa pohon pinus, di sampingnya.

“Ini cocok buat hidangan pembuka Pak, boleh dicoba.” Mbak Pramusaji merekomendasi.

“Boleh, pesan dua.” Jawab Edi setelah menghitung jumlah bola-bola Cis yang mengakomodir jumlah dia dan kelima orang bersamanya.

Berenam mereka asyik bercengkerama, menanti Cis beserta pesanan lainnya, menikmati pemandangan yang demikian menyehatkan mata dalam arti sesungguhnya. Hamparan elok warna hijau dedaunan, berselimut halimun sehabis hujan.

Bagi Edi, rona hijau dedaunan lebih menggairahkan dibanding bentangan warna merah muda uang kertas seratus ribu Rupiah, yang tak kan menyehatkan mata dalam pengertian sebenarnya. Menyehatkan sih, namun fana, sekejap saja.

Rona merah muda si penebar kesehatan fana.

Pesanan minuman tiba. Edi menikmati secangkir kopi tubruk panas sebagai pembuka. Cita rasa Robusta cocok sebagai penyeimbang suasana ruang terbuka.

Tak berapa lama masakan pesanan telah tiba. Penganan yang dari tadi Edi dengar Cis, disuguhkan tepat di hadapannya.

Demi lebih mengenal Cis, Edi mengabaikan kata 'Hollandse'. Dibuka lagi buku menu besar, lalu kata 'Pof fer tjes' dia eja berulang-ulang.

"Oh! Gampang ternyata. Pof fer tjes." Pekik Edi dalam hati.

Kata-kata bahasa Belanda memang sering kebanyakan huruf. Biar mudah, Edi pun bilang Pofercis. Lumayan daripada sejak tadi dia hanya ingat Cas Cis, Cas Cis.

Edi mencoba separuh Pofercis dibelah garpu, lalu dia oles ke lelehan selai sirup Stroberi berbentuk pohon pinus. Lhep! sensasi hangat empuk dirasakannya saat kue ala Belanda itu hinggap menyentuh bibir terbuka.

Hmmm... Edi merasa bagai pria Eropa. Ya, pria Eropa yang belum bisa bertutur kata Belanda.

Sensasi panas belahan Pofercis berpadu sentuhan lembut kenyal, diperkaya taburan manis serbuk gula, menutupi gurih yang muncul tiba-tiba. Mirip takoyaki, hanya tak berasa gurih asin. Semacam serabi manis tanpa santan kelapa. Tepatnya, pancake berbentuk bola.

Tapi, tak cocok pula disebut pancake, karena terolah dalam logam bulatan, tak dihampar ke atas wajan. Jadi, Pofercis ya Pofercis, bukan takoyaki, bukan serabi, apalagi dadar manis. 

"Poffertjes en zich!" Ungkap Edi. Serbuk gula menyembur tipis dari mulutnya.

Sepiring Poffertjes penghias alam nan merindukan. 

Sekali lagi, Edi menjumput irisan Pofercis tergeletak di piring. Dia oles pelan di atas lelehan sirup selai merah stroberi. Cep! Irisan Pofercis berlumur stroberi menancap mulut, lalu mengatup.

Hmmm... Sekali lagi Edi merasakan sensasi bagai pria Belanda penebar resep-resep cemilan rahasia, di Hindia Belanda.

Tebaran kebahagiaan bola-bola Pofercis begitu nyata. Terasa mengalir dalam untaian syaraf bercita rasa setiap penikmatnya.

"Mas, anak-anak senang, enak Pofercisnya. Nanti kapan-kapan ke sini lagi, ya?" Bisik sang belahan jiwa, lembut menyapa.

"Ya, nanti bisa diulang, tak cukup sekali saja." Edi menjawab mesra, tak sekedar berjanji saja. Jemari kanannya merengkuh telapak tangan belahan jiwa. Sementara jemari kirinya mengelus-elus dompet di atas meja, sebagai bahasa pertanda.

Semua hidangan di atas meja telah menuntaskan kewajiban memenuhi hak meraih kepuasaan cita rasa. Tak hanya itu, keindahan panorama dan hawa Puncak Pass menjadi penyempurna.

Edi dan orang-orang yang dicintakannya pun pamit pulang. Sebuah kartu debet digesek dalam satu mesin persegi mungil, pengurang nominal Rupiah seharga menu yang telah dipesan. Tak ada rasa sesal, karena semuanya sepadan.

Rencana menikmati jagung bakar di kawasan tertinggi Puncak, mendadak tergantikan petualangan mencicip kehangatan Pofercis untuk kali pertama.

Seringkali memang demikian, sebuah kegagalan meraih tujuan pertama bakal tergantikan oleh tujuan kedua yang tak terduga. Namun lebih membahagiakan ternyata. Dengan syarat; selalu bersyukur tentunya.