Matahari bersinar terang menyinari Kota Mekah ketika saya melaksanakan Thawaf Wada pagi itu. Perasaan sedih menyelimuti karena segera akan meninggalkan Baitullah.

Perjalan umroh memang belum berakhir. Setelah sholat dzuhur, saya dan rombongan bertolak menuju Kota Madinah Al-Munawarah, tempat di mana Rasulallah dimakamkan. Kami memasuki kota Madinah lewat tengah malam.

Di Madinah tidak ada lagi kegiatan terkait Umroh. Setahu saya, kegiatan ibadah yang dilakukan hanya melaksanakan sholat 5 waktu di Masjid Nabawi. Pahala sholat di Masjid Rasulalah ini 1000 kali dari pahala sholat di masjid lainnya, selain Masjidil Haram.

Setelah sarapan pagi, saya bersama suami dan orang tua kami, berjalan-jalan menikmati Kota Madinah yang sahdu. Kami menyusuri jalan di sekitar Masjid Nabawi. Kanan kiri berjejer hotel-hotel yang bentuknya hampir sama. Saya terlebih dahulu mengambil gambar lokasi hotel tempat kami menginap, khawatir tersesat ketika akan pulang.

Burung-burung merpati berkumpul di jalan lalu berterbangan seolah-olah menyambut kedatangan para jemaah. Jumlahnya sangat banyak. Kabarnya burung-burung tersebut adalah keturunan burung  peliharaan Siti Aisyah R.A. Uniknya, mereka hanya berkumpul hingga pelataran Masjid Nabawi. Mereka tidak pernah masuk ke halaman utama apalagi masuk ke dalam masjid.

Di sekeliling Masjid Nabawi dipenuhi toko yang umumnya menjual oleh-oleh dan emas perhiasan. Banyak jamaah mampir berbelanja selepas menunaikan shalat.

Saat perjalanan pulang ke hotel, saya berpapasan dengan rombongan kecil yang sepertinya hendak melakukan sesuatu. Saya segera mencari tahu ada apa gerangan. Ternyata rombangan tersebut hendak pergi ke Ar-Raudhah. 

Lagi-lagi, karena kurangnya ilmu dan minimnya informasi dari pihak travel, saya baru mendengar kata ”Ar-Raudhah” di pagi itu. Ya sudahlah, saya harus nrimo atas buruknya kualitas layanan travel dan ketidak-jelasan informasi disana-sini agar tidak mempengaruhi ke-khusu’-an ibadah.

Saya langsung mencari tempat nyaman untuk berselancar di dunia maya. Mencari tahu apa itu Ar-Raudhah?

Ar-Raudhah adalah daaerah yang terletak didalam Masjid Nabawi yaitu daerah antara mimbar Rasulullah dengan makamnya. Sebuah hadist menyatakan bahwa Ar-Raudhah merupakan salah satu taman yang nanti ada di surga. Tempat yang mustajab untuk berdoa.

Saya membayangkan duduk di taman surga, menadahkan tangan, meminta dan mengadu segala sesuatu pada Allah yang Maha Besar. ”Ah, saya tidak boleh melewatkan kesempatan ini,” tekad saya ketika itu.

Waktu untuk mengunjungi Ar-Raudhah ternyata dibatasi. Saya mengambil jadwal malam hari setelah selesai shalat Isya. Saya pun mengajak ibu saya dan ibu mertua bersiap-siap di lobby lebih awal agar tidak ketinggalan rombongan.

Sambil menuggu rombongan lengkap, seorang jamaah bercerita pengalamannya ke Ar-Arraudhah yang penuh sesak dan dorong-dorongan. Niat saya tiba-tiba goyah karena harus mendampingi 2 orang tua yang sudah sepuh. Ibu saya dan ibu mertua. 

Saya membujuk ibu saya untuk menunda niatnya karena beliau menggunakan kursi roda. Saya tak bisa membayangkan resikonya jika harus dorong-dorongan menggunakan kursi roda. Sedih dan rasa bersalah menyelimuti ketika terpaksa menghantarkan ibu ke kamar hotel.

Saya kembali ke lobby menemui ibu mertua dan jamaah lain yang sudah siap bergerak menuju Ar-Raudhah. Kami dipandu oleh seorang ustadzah. 

Selama perjalanan, beliau memberikan pengarahan apa saja yang harus dilakukan. Beliau juga meminta kami selalu tetap dalam barisan, cekatan dalam bergerak dan bersabar menunggu antrian. “Jika karpet yang diinjak berwarna hijau, berarti kita telah berada di Raudhah, segeralah sholat dan berdoa”, begitu instruksi beliau.

Tanpa terasa langkah kaki telah dekat dengan Ar-Raudhah. Jemaah berdatangan dari segala penjuru pintu masjid,  bergerak menuju satu titik, pintu masuk Ar-Raudhah. Saya dan rombongan bergerak tertib. Berjalan beberapa meter lalu duduk menunggu antrian. Begitu seterusnya hingga pada satu titik kami harus menunggu lama, padahal Ar-Raudhah selangkah lagi di depan mata.

Jemaah dikelompokkan berdasarkan negaranya. Wewenang menentukan rombongan yang masuk Ar-Raudhah berada di tangan askar wanita. Seorang wanita Arab datang bersama ibunya terlibat perang mulut dengan askar. Saya tak paham apa masalahnya, yang jelas tak berapa lama mereka bertengkar, wanita itu beserta ibunya akhirnya masuk tanpa antri. Hmm…

Sambil menunggu giliran, saya sempat memperhatikan ibu-ibu yang sudah sepuh menggunakan kursi roda dan mendapat previllege jalur khusus. Duh.., jadi sedih, teringat ibu saya yang saya minta menunggu di kamar hotel.

Saya dan rombangan mulai gelisah karena tak kunjung dipanggil. Tak sadar menggerutu karena disalip beberapa kali oleh rombongan lain yang menggunakan kostum berwarna hitam. Untuk kesekian kali kami diminta bersabar. Andai baju saya berwarna hitam, saya bisa mendompleng rombongan itu sehingga mendapat kesempatan lebih awal, hehe...  

Tiba-tiba seorang askar berteriak memanggil “Indonesia !”. Saya dan ibu mertua bergegas berdiri dan berlari menuju Ar-Raudhah seperti halnya jemaah lain.

Seketika suasana menjadi kacau. Dorong-dorongan antarjemaah terjadi. Saya melihat ke kanan-kiri yang ternyata telah dikelilingi bangsa lain bertubuh besar. Saya dan ibu mertua terjepit. Tubuh saya terangkat dan nyaris terjatuh. Tangan ibu mertua yang saya pegang erat nyaris terlepas. Semua tenaga saya kerahkan mempertahankan posisi badan agar tidak terjatuh. 

Terpikir untuk membatalkan masuk Ar-Raudhah dan keluar dari kerumunan itu. Tanpa sengaja saya menunduk dan betapa senangnya karena melihat karpet yang saya injak berwarna hijau. Berarti saya telah memasuki Ar-Raudhah. Saya sudah bisa memulai sholat dan berdoa.

Dorong-dorongan terus berlanjut. Saya membatalkan rencana sholat karena situasinya tidak memungkinkan. Hanya doa yang jauh dari khusu’ saya panjatkan. Pasrah. Tiba-tiba seorang askar memanggil dan menunjuk ke sebuah kursi agar saya bisa sholat sambil duduk. Betapa senangnya, akhirnya  bisa sholat juga diantara kerumunan mengerikan itu. Beberapa menit berselang, saya dipersilakan askar meninggalkan Ar-Raudhah.

Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan. Ternyata sifat garang, sikut-sikutan dan tidak peduli keselamatan orang lain bisa muncul di saat berusaha mencari rahmat Allah.

Namun rupanya hal tersebut tidak terjadi pada jemaah laki-laki. Suami saya bercerita bahwaa mereka antri dengan tertib dan bisa sholat dengan tenang. Apakah karena wanita lebih bersemangat atau memang tidak sabaran? Entahlah.

Lantas apakah saya harus mengalah lalu meninggalkan kerumunan agar tidak menyakiti diri sendiri dan juga orang lain? Tidak, ini adalah bagian dari perjuangan. Cari cara lain untuk melewatinya bukan malah mengambil langkah seribu.