Peristiwa bom bunuh diri yang belum lama terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, kemudian disusul kabar terbaru ada penggerebekan terduga teroris di Tanjung Barat, Jakarta Selatan merupakan peristiwa yang mengundang reaksional publik serta permenungan mengenai ihwal hasrat terdalam apa yang ada dalam diri seseorang untuk menjadi teroris?

Menurut penelitian banyak orang menjadi teroris karena mengidamkan mati sahid yang pada intinya tidak ada lagi kepentingan dunia dan yang ada hanya kepentingan akhirat. Bagi mereka dunia tempatnya kekeceweaan, tempatnya ketidakadilan, tempatnya kemunafikan serta tempat bagi ketidakpastian hidup.

Dalam perspektif psikologi seseorang yang kecewa dan patah hati atau patah semangat akan lebih mudah dipengaruhi untuk berbuat sesuatu dan bahkan membunuh orang lain ataupun bunuh diri sekalipun akan ia lakukan. 

Seseorang yang demikian akan melakukan berbagai kekerasan tanpa perlu lagi pertimbangan akal sehat ataupun hati nurani. Ketika seseorang didominasi oleh kepentingan serta keegoisan dirinya maka hati nurani tidak akan bekerja bahkan seolah-olah membenarkan apa yang ia perbuat.

Semakin ia melakukan kekerasan semakin ia merasa mendapatkan identitas sosial serta penghargaan dari orang lain. Kekerasan merupakan komunikasi bisu paling nyata, maka mereka membenci komunikasi dan cenderung kasar serta memaksakan suatu hal agar seturut dengan kehendaknya. 

Pemaksaan kekerasan ini kemudian bertransformasi ke diri korban sehingga ada kekuatan yang dibatinkan dan dihayati seakan menjadi motivasi pribadi si korban memang layak untuk diperlakukan demikian dan menuruti kehendaknya sehingga pandangan korban mengenai kehidupan berubah.

Kehidupan memiliki dinamismenya sendiri yang harus diatasi dengan kerangka-kerangka khusus. Layaknya tanaman ia membutuhkan air dan cahaya matahari yang cukup untuk mengembangkan dirinya. 

Bila tanaman tidak mendapatkan air dan cahaya matahari yang cukup maka tanaman tersebut akan mati. Begitupun manusia yang lahir dalam kondisi politik, sosial, dan ekonomi yang tidak mendukung potensi kemampuannya untuk berkembang dengan begitu ia tidak lagi percaya akan harapan dan lebih memilih kehancuran dengan cara mencintai kematian.

Pengalaman eksistensial dirinya terhadap realita di sekitarnya memunculkan perasaan untuk mencurahkannya kepada siapa ia mampu mendapat jawaban atas permasalahan hidupnya. Ia ingin mencari teman yang pengalamannya mirip dengannya sehingga suatu beban lebih terasa ringan. Ketika ia sudah menemukan banyak teman yang mirip pengalamannya maka di sana ada peleburan perasaan sehingga menjadi satu perasaan, satu nasib serta satu tujuan.

Ketika telah menjadi satu perasaan, satu nasib dan satu tujuan maka mereka akan memilih satu orang yang dianggapnya sebagai orang yang layak memimpin untuk mencapai suatu tujuan. Dalam hal ini pemimpin akan dipandang sebagai orang yang lebih mengerti soal ajaran, soal pengetahuan dan orang yang lebih dalam berbahagai hal. 

Langkah selanjutnya bila ajaran, pengetahuan, dan berbagai doktrin dipaparkan seolah-olah memandang pemimpin mempunyai suatu moral yang lebih tinggi daripada orang-orang biasanya. Hal ini logis, misalnya ketika kita melihat pendeta atau ulama ataupun tokoh agama lain seolah-olah ada perasaan mengatakan bahwa mereka mempunyai moral yang lebih tinggi daripada kita orang biasa.

Menganggap pemimpin mempunyai moralitas yang lebih tinggi ini dinamakan moral virtuosi dalam terminologi Max Weber. Implikasi dari moral virtuosi ini adalah (i) orang akan kecewa bila ternyata ekspetasi mengenai pemimpin tidak sesuai dengan faktanya, (ii) orang akan membenarkan baik perkataan dan perbuatan pemimpin meskipun hal itu salah. Implikasi kedua inilah yang berbahaya karena pemimpin akan mendapatkan legitimasi yang kuat sehingga perkataan dan perbuatannya dibenarkan dan diikuti oleh para pengikutnya.

Moral virtuosi inilah yang kemudian menggiring orang untuk mempercayai kebenaran tunggal. Ironinya kebenaran tunggal ini dibawa kepada soal Tuhan dan akhirat. Ia berusaha memberi indoktrinasi bahwa hidup di dunia tidaklah penting dan hanya sementara maka akhirat merupakan kehidupan yang sesungguhnya yang harus dituju manusia. 

Ia mematahkan hubungan antara realita dengan transendental, antara profan (duniawi) dengan dunia yang sakral, antara yang kini dengan yang akan datang seolah-olah tidak ada hubungan di antara keduanya.

Salah satu filsuf ternama yaitu Friedrich Nietzsche pernah menggugat pembatasan oleh model kebenaran. Ia tidak percaya oleh kebenaran tunggal karena baginya kebenaran tunggal tidak mendewasakan bahkan menghambat perkembangan seseorang maupun masyarakat untuk mencapai kemandirian kritis dan otonom. 

Kebenaran tunggal mempunyai sistem pengawasan terhadap moral seseorang yang pada akhirnya baik kebebasan berekspresi, berpikir serta bertindak dibelenggu agar searah dengan kebenaran tunggal. Bila tidak melaksanakan kehendak suatu kebenaran itu justru ia merasa bersalah.

Kesadaran kritis tidak diasah karena terbiasa dengan sikap dogmatis. Sikap ini tidak melatih diri untuk mempertanyakan apa yang dianggap sebagai kebenaran berikut dengan prosedur-prosedurnya. Kegiatan berpikir telah disumbat, padahal aksentuasi kehidupan diletakkan pada aktivitas berpikir itu sendiri. 

Konsepsi baru tentang pemikiran menunjukkan bahwa berpikir bukan lagi hanya membuka syarat-syarat kemungkinan pengalaman atau pengetahuan tetapi berpikir adalah menyingkap kemungkinan-kemungkinan baru kehidupan (Gilles Deleuze, 1962).

Cara Nietzsche menangkal kebenaran tunggal dengan menawarkan beberapa prinsip untuk dimengerti dan dilaksanakan, di antaranya: 

(i) prinsip eksterioritas, menunjukkan bahwa di balik pengetahuan atau kebenaran tersembunyi naluri tirani. Padahal hasrat untuk berkuasa adalah naluri utama manusia. 

(ii) prinsip fiksi, menyingkapkan bahwa kebenaran adalah kasus khusus kekeliruan dengan mengasumsikan kebenaran tidaklah tunggal karena kebenaran itu jamak dan tidak definitif (tidak didefinisikan). 

(iii) prinsip penyebaran, menjelaskan bahwa kebenaran tidak bergantung pada salah satu subjek namun banyak sintesa sejarah. Pernyataan bahwa bumi bulat bukanlah datang dari asumsi satu orang tetapi dengan penelitian dan pengamatan dari berbagai pihak yang pada akhirnya memberi kesimpulan bahwa bumi itu bulat.

Prinsip-prinsip inilah yang menunda manusia menyimpulkan suatu hal, menunda percaya akan suatu hal, dan memeriksa berbagai objek pengamatan dan keyakinan seseorang terhadap suatu hal agar membuka kemandirian kritis kita untuk mencari suatu hal yang sejati dan juga maknawi dalam kehidupan sekarang maupun yang akan datang.

Kembali kepada topik. Ketika orang sudah tidak lagi peduli soal kehidupan dunia maka kita mau memberi argumen yang paling logis sekalipun sulit untuk mengubah keputusannya bahkan argumentasi logis kita membuat mereka semakin tersudutkan dan perasaan mereka semakin kuat. Merupakan hal yang hampir sia-sia memberi argumen logis kepada mereka karena yang terganggu bukan lagi dimensi kognisi tetapi afeksi.

Banyak orang gelisah hatinya karena keputusannya merupakan ketidakpastian. Kita tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Hidup manusia tidak digerakkan oleh kerangka instingtual layaknya hewan maka logis bila setiap keputusan manusia mengandung ketidakpastian. Padahal di sisi lain manusia membutuhkan kepastian agar ia tidak gelisah, agar ia tidak bingung, agar ia damai sejahtera dan hanya satu hal yang paling pasti dari masa depan yaitu kematian.

Oleh karena mereka yang memilih jadi teroris awalnya kehilangan harapan lalu disusupi indoktrinasi mengenai kebenaran tunggal pada akhirnya ia akan memilih untuk mencintai kematian karena kematian satu-satunya masa depan yang paling pasti dalam kehidupan ini. Pengharapan bagi mereka hanyalah sikap pasif dan sikap tidak realistis dengan memaksa keadaan yang tidak mungkin terjangkau. 

Padahal orang yang membenci harapan berarti orang tersebut mengalami ketidakberdayaan dan keterputusan yang mendalam akan kehidupan, memilih potong kompas serta tidak berani menghadapi masalah hidup yang sesungguhnya.

Terorisme akan mencintai kebenaran tunggal yang tidak logis dan tidak berdasar. Mereka tidak mampu menangkap makna perbedaan sebagai bukti bila Tuhan benar-benar kaya dan ajaib. Mereka menyukai kekerasan, cenderung kasar, memaksakan sesuatu dan pada akhirnya kekerasan dan berbagai pemaksaan itu berujung menyakiti dirinya sendiri untuk memusnahkan orang lain.

Tidak demikian orang yang berpengertian dan berakal budi karena ia akan menimbang segala sesuatu, tidak tergesa-gesa, menghitung kemungkinan yang terjadi, serta menguji dirinya sendiri sampai ia menemui makna kausal dirinya dengan kehidupan. Ia akan menanggalkan berbagai kekerasan untuk memilih bertahan dan setia dengan cara mencintai kehidupan.


DAFTAR PUSTAKA

Deleuze, Gilles, 1962. Nietzsche and Philosophy, Columbia University.