Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata terorisme? Sebagian orang akan berpikir tentang pembantaian, pengeboman dan tumpah darah. Sebagian lagi berpikir tentang ratapan dan rintihan darah manusia yang ditumpahkan oleh segelintir orang atau kelompok yang kita sebut teroris.

Apakah teroris itu manusia, atau pantaskah mereka disebut sebagai manusia yang mempunyai hak asasi? Di tengah banyaknya nyawa yang mereka bantai, dan hak asasi orang lain yang mereka curi dengan paksa. Hanya untuk mencapai tujuan yang mereka anggap benar, dan tidak sedikit pun hati nurani mereka merasa bersalah mendengar jeritan dan pekikan mahluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan.  

Dan apakah teroris itu punya Tuhan (agama) dan atas dasar apa mereka tega berbuat demikian? Belakangan ini kita sering dibuat ngilu mendengar aksi dari manusia (teroris) paling merasa benar di muka bumi ini. Bayangkan untuk di Indonesia saja sepanjang tahun 2015 sampai juni 2017, total ada 336 orang yang di tetapkan sebagai tersangka kasus terorisme (www.viva.co.id). Data tersebut belum termasuk dari belahan dunia lain yang pastinya masih banyak tindakan mereka yang jelas-jelas melanggar HAM.

Lantas apa yang mendasari mereka tega melakukan tindakan keji itu? Yang pertama adalah pemahaman dan pola pikir yang salah terhadap suatu keyakinan yang mereka yakini secara berlebihan dan mereka anggap benar padahal sebenarnya salah. Inilah yang pertama sekali mendasari hati dan pikiran para teroris untuk tega merenggut hak asasi orang lain. Yang kedua adalah kesenjangan ekonomi. 

Di mana ini dapat mempengaruhi pola pikir manusia yang sulit mendapatkan pekerjaan sehingga memilih jalan sempit dengan bergabung ke kelompok radikal tadi. Yang terakhir adalah tidak terima dengan adanya perbedaan baik itu agama, budaya, dan sebagainya. 

Inilah beberapa faktor yang membuat golongan manusia(teroris) di belahan dunia ini tega dan bahkan bangga merenggut hak azasi orang lain demi kepuasan dan keyakinan semu mereka. Mereka percaya bahwa darah sesamanya itu bisa memberikan mereka kunci surga. mereka yakin rintihan sesamanya itu menambah kekayaan moral mereka.

Mereka tidak peduli  jeritan manusia yang terkapar dengan darah yang membanjiri. Mereka seperti malaikat pencabut nyawa yang menebar teror dan ketakutan psikologis bagi korban-korbanya.

Mereka tidak peduli betapa banyak hak azasi  yang mereka renggut dengan bengis sambil tertawa seakan tak bersalah. Mereka berkata ini demi sang pencipta  padahal sang Pencipta murka atas tindakan mereka. Mereka berceloteh ini demi sebuah agama padahal mereka punya agama yang salah. Mereka berteriak ini demi sebuah perdamaian padahal yang terjadi hanya kekacauan, ketakutan,  dan cucuran air mata. 

Tanpa ada rasa penyesalan, mereka puas dengan dosanya. Itulah gambaran singkat dari manusia yang salah kaprah dan tak mampu mencari kebenaran sejati dari keyakinan yang overdosis. Oleh karena itu jadilah kita pribadi yang selalu memperbaiki diri tanpa mencari pembenaran untuk diri sendiri. 

Kita boleh punya keyakinan untuk agama,  budaya dan lainnya, tapi jangan karena keyakinan kita itu kita merampas hak-hak orang lain. Menerima perbedaan jauh lebih baik daripada menonjolkan kepribadian yang belum tentu baik untuk kepentingan umum. 

Tidak terlalu fanatik untuk suatu keyakinan, jauh lebih baik daripada fanatik dan merasa yang terbaik. Kita mulai dari diri sendiri untuk mengikis paham radikalisme  dan kita sebarkan ke sekitar kita. Menciptakan perdamaian itu kewajiban semua orang demi kebaikan bersama tanpa adanya rasa perbedaan. Tuhan menciptakan kita sama mengapa kita ciptaannya tidak mau bersama? 

Perbedaan itu indah dengan menekan ego dan kepentingan pribadi. Kita buang paham radikal itu dari diri kita sendiri untuk kebaikan kita bersama. Sejatinya semua agama yang baik mengajarkan hal yang sama yaitu saling menghormati, menghargai, dan membawa kedamaian.

Islam dengan keindahannya dan Kristen dengan kasihnya menjadi bukti bahwa tidak ada agama yang di akui di Indonesia ini membawa kepada yang buruk. Hanya saja ada sebagian orang yang salah menafsirkan ajaran agamanya tadi sehingga menimbulkan salah tafsir dan dapat menjadi pemicu timbulnya kebencian.

Di masa sekarang ini menjadikan agama sebagai landasan untuk berbuat jahat dan menjadi teroris adalah yang tidak logika dan di luar nalar manusia sehat. Itu sama saja dengan menampar wajah kita sendiri dengan sebuah kotoran dan memperlihatkannya kepada orang lain. 

Hal ini tentunya harus menjadi perhatian khusus untuk kita sebagai kalangan anak muda dan generasi penerus bangsa, dimana kita harus bisa berpikir sehat,kritis dan menerima perbedaan. Kita tidak perlu terlalu mengurusi agama orang lain, hak-hak orang lain justru kita harus menghargainya dan mengedepankan kepentingan umum dari kepentingan pribadi kita. Kita harus menjaga NKRI ini dari serangan-serang berbasis isu SARA dan juga perpecahan. 

Karena di luar sana atau bahkan di dalam negeri kita ini para teroris-teroris sedang mempersiapkan diri untuk memecah belah bangsa kita dengan menyebarkan ujaran kebencian sehingga masyarakat yang tadinya bersatu menjadi pecah dan perang saudara. Jangan kita biarkan hak kita direbut oleh mereka-mereka yang punya kepentingan pribadi. Sebagai bangsa Indonesia kita harus bersatu. NKRI harga mati.