64351_26985.jpg
Ilustrasi: thepacemakers.org
Agama · 4 menit baca

Terorisme dan Pendidikan Agama

Runtutan kejadian teror beberapa hari ini menjadi tragedi kemanusiaan yang membuat kita semua berduka. Mulai dari ulah bejat teroris yang sempat menguasai Mako Brimob, tragedi 3 bom di gereja-gereja di Surabaya, sampai serangan bom di Polrestabes-nya. Semua kejadian teror itu memang biadab sekali.

Ideologi terorisme adalah ideologi parasit yang sering berinang pada agama. Sebagaimana kita tidak mungkin membakar sebatang pohon hanya untuk membunuh benalu pada satu dahannya, kita juga tak bisa sekadar menyalahkan agama atas kebiadaban ideologi terorisme.

Peluru, borgol, dan penjara hanya memberantas para pelaku terornya. Ibarat memotong rumput hanya pada ujung-ujungnya. Dibutuhkan lebih dari itu semua untuk memberantas terorisme sampai ke akarnya. Banyak orang percaya bahwa pendidikan adalah salah satu cara yang paling ampuh untuk membasmi ideologi tersebut bahkan sampai benih-benihnya.

Salah satu pendidikan yang paling ampuh adalah pendidikan agama. Dengan pendidikan agama yang benar, seseorang bisa lebih memahami dan mencintai agamanya tanpa menyalahkan atau menjelekkan agama lain dari kacamata agamanya sendiri.

Sayangnya, pendidikan agama yang kita dapat di sekolah sering kali masih “keblablasan”. Misalnya, saya masih ingat guru agama Islam saya, yang tentu sangat ahli dalam agama Islam, menjadi kelewat sok tahu tentang agama-agama lainnya.

Ketika ia mengajarkan bahwa Allah itu Maha Esa, ia tak jarang mengolok betapa bodohnya penganut politeisme. Ia membuat analogi ngawur dengan sebuah mobil yang tak mungkin dikendarai dua orang sopir. Menurutnya, jika Tuhan itu lebih dari satu, akan terjadi kontradiksi jika Tuhan pertama menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan Tuhan lainnya.

Ketika guru saya mengajarkan bahwa Allah bersifat Mukhalafatu Lil Hawadits (Berbeda dengan mahkluknya), sehingga tidak bisa digambarkan atau dibayangkan wujudNya, ia sering mengolok betapa konyolnya manusia-manusia yang menciptakan (membuat) tuhan dari batu dan tanah liat untuk kemudian disembah-sembah sendiri.

Ketika saya belajar ayat Alquran, (Qs 112:3), yang artinya “Dia [Allah] tiada beranak dan tidak pula diperanakkan”, guru kami sering menggambarkan betapa konyolnya istilah Tuhan Bapa dan Tuhan Anak. Ungkapannya itu sebodoh ungkapan “kalau Tuhan dilahirkan, siapa bidannya?”.

Banyak sekali contoh-contoh lain pendidikan agama Islam yang saya terima dari guru saya yang cukup intoleran. Pernah kami menertawai kepercayaan mengenai kehidupan setelah kematian (reinkarnasi). Kami juga sering ditakuti bahwa orang-orang ateis adalah orang-orang amoral yang sesat dan pemuja setan.

Akibat dari pendidikan yang intoleran itu, kami yang beragama mayoritas Islam sering mem-bully salah satu teman yang beragama Kristen. Kami mengatainya bahwa Tuhannya tak akan mampu menolongnya kalau Dia sendiri tidak bisa lolos dari tiang salib. Saat itu, teman saya sebenarnya ingin menjelaskan, tapi suaranya tenggelam oleh olokan dan tertawaan kami.

Baru ketika saya duduk di bangku kuliah dan mulai berkutat dengan buku-buku, pikiran saya terbuka. Buku Sejarah Tuhan karya Karen Armstrong barangkali buku yang paling berpengaruh membuka wawasan saya. Saya akhirnya menyadari bahwa apa yang disampaikan guru agama Islam saya mengenai ajaran agama lain atau bahkan ateisme sepenuhnya salah.

Pada akhirnya saya memahami mengapa begitu banyak dewa dalam ajaran Hindu. Saya juga akhirnya memahami apa makna nirwana dan reinkarnasi bagi ajaran Budha. Meskipun kesusahan, saya pun juga sedikit memahami trinitas dalam ajaran Kristen.

Saya juga menyadari bahwa bahkan orang-orang ateis yang tidak beragama pun sebenarnya bukanlah orang yang amoral dan menakutkan. Mereka hanyalah orang-orang rasional yang menolak untuk mendasarkan konsep moral pada agama dan Tuhan.

Perjalanan saya memahami Sejarah Tuhan dari Karen Armstrong pun berujung ke pemahaman bahwa semua agama mengajarkan kebaikan dengan tata cara dan aturannya masing-masing. Dan tidak ada yang salah dengan hal itu.

Kesadaran yang saya dapatkan itulah yang seharusnya diajarkan kepada para siswa sejak sekolah dasar. Seorang guru agama tak perlu menjelekkan agama lain untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap agamanya. Karena sejatinya, tak ada agama yang mengajarkan keburukan.

Tindakan terror, misalnya, jelas tidak ada dalam ajaran agama mana pun. Kesalahan itu murni kesalahan personal pemeluknya, bukan ajaran agamanya. 

Diakui atau tidak, para teroris itu bukan tidak beragama. Di antara banyak teroris, para teroris beberapa hari ini kebetulan adalah orang-orang beragama Islam yang mendapatkan pendidikan yang salah mengenai tafsir Alquran.

Menurut Karen Armstrong, dalam sejarah agama-agama, akan selalu ada pemeluk agama yang berpaham radikal. Mereka selalu memandang bahwa agama sudah semakin disalahartikan oleh para pemeluknya sekarang. Sehingga mereka selalu merasa perlu adanya gerakan pemurnian kembali kepada ajaran agama yang sama seperti yang dibawa utusan Tuhan pada zaman dulu.

Gerakan-gerakan pemurnian kembali ajaran agama itulah yang sering ditempuh dengan cara-cara kekerasan ataupun teror oleh para pemeluk agama berpaham radikal. Minimnya pendidikan agama yang toleran pada pelaku-pelaku teror itulah yang menjadikan mereka mengambil kekerasan sebagai jalan pintas. Padahal sejatinya tujuan agama adalah untuk menciptakan kedamaian.

Seperti piano, gitar, dan biola di tangan anak-anak kecil, ia hanya akan menghasilkan suara bising di telinga. Sedangkan di tangan musisi hebat, alat musik itu akan menjadi orkestra yang menyenangkan.

Seperti itu pula agama-agama. Di tangan para pemeluknya yang bodoh dan ambisius, agama hanya menjadi pembenaran atas tindakan-tindakan kekerasan semacam teror. Sebaliknya, di tangan pemeluknya yang cerdas dan santun, agama dapat menghadirkan orkestra penuh kedamaian di altar Tuhan. Maka sudah menjadi tugas kita bersama untuk mengajarkannya dengan penuh toleran.