Seniman
1 tahun lalu · 94 view · 4 menit baca · Budaya 68156_94731.jpg
clubebrasileirodetrensfantasmas.blogspot.com

Teroris, Kalian Egois!

Mau tidak mau, kabar buruk bisa sampai secepat kilat ke setiap diri, sekarang ini. Sudah canggih, mau bagaimana lagi. Contohnya aksi teroris. Tidak menunggu hitungan menit, pulau seberang sudah tahu kejadian bom di Jawa.

Se-apatis-apatisnya orang yang apatis, kalau dengar kabar aksi teroris, telinganya juga pasti langsung berdiri.

Teroris. Bermacam spekulasi, analisa dan atau, apalah namanya, soal aksi teroris pun diumbar. Mencari tahu, beropini di media sosial, dan aksi-aksi lain yang mengecam aksi biadab itu juga ramai.

Presiden Jokowi berkata, "Terorisme tidak ada kaitannya dengan agama mana pun."

Benar sekali itu, Pak Presiden. Teroris tahu, dan paham betul kalau sudah menciderai agama seseorang, emosi susah dibendung. Jangankan beda agama, mereka yang se-agama pun juga gampang sekali saling sakit hati dan memancing emosi. 

Membentuk kelompok-kelompok yang merasa (hanya) ajarannya yang benar, yang lain salah cara beribadahnya, salah pahamnya, dan salah-salah yang lain. Aneh, kadang kita lebih suka beribadah layaknya perlombaan 'siapa yang paling alim', bukannya untuk hubungan (portal) antara diri dan Tuhan.


Teroris, saya rasa mereka juga punya agama. Agama dengan ajaran yang freak. Mereka bisa bilang kalau agama mereka itu adalah Islam, Kristen Protestan, Katolik, Buddha, Hindu atau Kong Hu Cu. Bisa saja. Toh banyak juga di antara kita yang punya agama (maksudnya yang tertera di KTP), tapi tak ada ciri-ciri atau gelagat sedikitpun (pernah) beribadah sesuai dengan agama yang tertera itu.

Setiap yang beriman kepada Tuhan, pasti beragama. Dan, di antara kita, ada yang terus menggali tentang agama. Benar ada yang Islam, ada yang Kristen Protestan, Katolik, Buddha, Hindu dan Kong Hu Cu, tapi apakah sama rasa, cara dan seberapa dekatnya kita pada-Nya antara kita yang se-agama ini?

Penggalian harus ada dasarnya. Apalagi soal agama. Bengkok sedikit, bahaya. Apalagi banyak. Jangan juga setengah-setengah, apalagi hanya berdiri di pinggir saja.

Gara-gara menggali agama yang salah arah. Ada juga yang jadi gila benaran. Gara-gara salah mengartikan ayat. Mendalami satu ayat tapi seolah sudah membaca isi keseluruhan kitab suci. Orang macam ini suka menetap di satu tempat tujuan atau ruang yang dikiranya sudah finish.

Islam berkata, "Allahu Akbar!" Allah Maha Besar. Seberapa besar Tuhan menurutmu? Bagaimana sebenarnya Dia menurutmu? Tujuan yang dianggap sudah finish, ternyata belum. Masih ada langit di atas langit ternyata. So!? Menyesal pun tiada guna. Yang belum hijrah, ya hijrah. Hingga benar-benar full hijrah. Terus belajar agar berpindah dan tak jalan di tempat.

Ada teroris yang mungkin menyebut diri mereka Islam. Prediksinya, main agama lebih cepat menyulut api emosi. Tapi Islam cara apa yang mereka pakai? Menggali satu ayat saja lalu seolah sudah paham seluruh isi Alquran dan mengklaim sudah tahu cara cepat masuk surga?

Kalau ada yang demikian cara berpikirnya, dasar manusia instan! Mentang-mentang sekarang kebutuhan bisa didapat dengan cara instan, ke surga juga ingin instan. Seolah masuk surga disamakan dengan pesan makanan pakai aplikasi ojek online.


Kalau iya masuk surga. Kalau tidak? Gimana kalau ternyata posisi si pelaku bom bunuh diri masih di depan pintu surga? Apalagi kondisinya sudah terlanjur mati. Apa kemudian bernyanyi menghibur diri,

‘Pintu surga, pintu surga
Di mana Engkau berada
Bagaimana caranya
Kita memasukinya..."

Jikalau ternyata teroris tidak berkaitan dengan agama, dan pesan ketakutanlah tujuannya, bagaimana?

Meresahkan memang. Seminggu yang lalu, Senin siang, usai paginya ada bom meledak di Markas Polrestabes Surabaya dan sehari sebelumnya terjadi di tiga gereja, saya liputan di pengadilan di Padang. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Sambil menunggu-nunggu sidang, beberapa kali membaca berita tentang aksi teroris di Surabaya, setiap kali itu juga saya deg-degan, seolah sebentar lagi juga bakal ada bom meledak di pengadilan ini. Apalagi yang mau disidang adalah koruptor. Yang kerjanya maling uang rakyat untuk kepentingan pribadi.

Kadang kalau dipikir-pikir, tujuan kebanyakan teroris sama dengan koruptor. Kalau teroris mengklaim aksi yang ia lakukan bisa membuat jiwanya masuk surga, walau dengan membunuh dan menyakiti manusia lain. Koruptor juga demikian, 'membunuh' rakyat dengan kemiskinan biar dia bisa masuk surga (di dunia).

Masuk surga itu butuh kunci. Salah satunya akhlak yang mulia. Kalau belum mulia, belum bisa tinggal di surga. Bayangkan saja kalau di surga masih ada yang masih doyan korupsi, surga bakal habis dikavling-kavling. Tapi saya yakin surga tidak begitu. Puncak kedamaian ada di sana. Hanya kemuliaan yang tercurah dari setiap jiwa penghuninya. Bukan malah mementingkan diri sendiri.

Saya setuju dengan jargon #KamiTidakTakut kalau ada aksi teroris, yang (lebih) banyak dan biasanya dibagikan di media sosial. Biar tambah hebat, sebaiknya tambah juga #KamiTabah. Soalnya, bagi saya, aksi teroris yang memakan nyawa juga adalah musibah. Anggap saja akibat human error. Segala tetap pada kuasa Tuhan. Ada makna di balik kejadian. Ada amarah yang jangan sampai membara, makanya perlu tabah. 

Amarah membutakan jiwa. Jangan sampai ketakutan dan pemicu emosi yang disebar teroris membuat kita lupa tentang Indonesia yang harus dipertahankan kesatuannya di dalam keanekaragamannya.


Sekarang, masih enak tinggal di Indonesia. Masyarakat masih bebas merdeka beribadah sesuai agama yang dianut. Jangan sampai tersulut, jadi saling memusuhi dan menganggu. Apalagi ibadah itu butuh khusyuk. Bagaimana bisa khusyuk kalau hati masih was-was?

Agama, teroris dan jalan-Nya. Apakah teroris berada di jalan-Nya? Atau sebaliknya? Di Islam ada ungkapan rahmatan lil ‘ala­­min, rahmat bagi seluruh manusia, sudahkah kita berupaya menjadi demikian, atau masih seperti mereka (teroris), teror bagi seluruh manusia? Sekian. Assalamualaikum, artinya ; semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa. Peace!

Artikel Terkait