Hari itu, 26 November 2008, beberapa pemuda, di antaranya Imran (Amandeep Singh) dan Abdullah (Suhail Nayar), akan mendaratkan perahu karet sambil terus mendengar instruksi suara dari Bull. Sementara, Arjun (Dev Patel) terburu-buru datang ke Hotel Mumbai, tempat kerjanya. Arjun terancam dihukum oleh chef Hermant Oberoi (Anupam Kher) yang terkenal perfeksionis, disiplin, dan tegas.

Adegan pembuka tersebut menuntun penonoton pelan-pelan merasakan tensi mendalam serangan teror Mumbai 2008. Jantung penonton dibuat berdegup secara perlahan hingga mencapai puncak ketegangan.

Seluruh staf Hotel Taj Mahal Palace Hotel bekerja seperti biasa hari itu. Mereka akan kedatangan pasangan kaya David (Armie Hammer) dan Zahra (Nazanin Boniadi) yang baru mempunyai bayi bernama Cameron.

Hotel kelas atas di Mumbai tersebut juga akan kedatangan tamu eksentrik, seorang pengusaha kaya mantan anggota pasukan khusus Uni Soviet bernama Vasili (Jason Isaacs). Segala rincian preferensi para tamu sangat diperhatikan staf hotel. Motto mereka, “tamu adalah dewa”, sebagaimana yang diungkap chef Hermant Oberoi.

Kesibukan rutin mereka tiba-tiba terpecahkan oleh tembakan Imran dan kawan-kawan. Para teroris muda tersebut menembak ke sembarang tamu. Arjun, David, Zahra, dan Vasili terjebak di restoran. Sementara chef Oberoi, di dapur, mengoordinasi staf hotel tersisa untuk menyelamatkan para tamu. 

Bagaimana nasib mereka?

Para penulis naskah John Collee dan Anthony Maras sangat berhasil menyekap penonton dalam situasi terjebak serangan teroris. Mereka pun memainkan ritme ketegangan dengan sangat teratur. Dari adegan awal hingga akhir, situasi teror dihadirkan sejak kondisi buruk, lebih buruk hingga sangat buruk. Boleh dibilang, tidak ada elemen teror yang terlewatkan untuk dieksploitasi oleh film ini.

Sampai beberapa jam, penonton akan disuguhi aksi kekejaman para remaja penebar teror. Aksi mereka sangat tidak manusiawi. Mereka mnggeledah kamar satu per satu hingga ke toilet. Setelah itu, para korban ditembaki tanpa ampun, termasuk dengan menjebak sekumpulan tamu hotel.

Setelah itu, di bagian tengah cerita, penonton akan memahami kerumitan emosi salah satu pelaku teror, Imran. Kompleksitas emosi tersebut dapat dianggap mewakili latar belakang seluruh remaja pelaku tero, hingga penonton akan menunda penghakiman atas mereka.

Kita juga akan disuguhi dedikasi tinggi para staf hotel. Mereka rela mengorbankan apa pun demi melindungi para tamu. Sekalipun Hotel Mumbai secara umum menyajikan fiksionalisasi dari kisah nyata, herosime para staf hotel adalah fakta historis.

Di satu sisi, sutradara Anthony Maras berhasil menekankan fokusnya pada ketegangan drama penyanderaan. Di sisi lain, narasi latar belakang serangan teror Mumbai 2008 sangat minim sekali. Penonton tidak akan mendapat wawasan sejarah yang memuaskan.

Potensi isu kesenjangan juga tidak diangkat. Padahal, latar belakang Arjun dan tamu-tamu Hotel Mumbai jelas menawarkan sesuatu yang menarik bila isu itu diangkat. Sekalipun secara halus dalam adegan atau dialog.

Dev Patel bermain baik memerankan Arjun. Kualitas aktingnya relatif setara seperti perannya sebagai Saroo (Lion, 2016) dan Jamal Malik (Slumdog Millionaire, 2010). Patel berhasil mempresentasikan karakter pelayan yang tenang dan mengabdi bagi keselamatan dan kenyamanan tamu hotel.

Arjun bukanlah tokoh historis dalam serangan teror Mumbai 2008. Karakternya adalah gabungan karakter pelayan yang menjaga para tamu di restoran dan penjaga keamanan yang mengantarkan perwira polisi ke ruang CCTV untuk melihat jejak pelaku.

Armie Hammer dan Jason Isaacs bermain cukup aman sebagai David dan Vasili. Nazanin Boniadi berhasil membuat penonton merasakan emosi campur aduk seorang ibu, di bawah ancaman teror, yang terpisah dari bayi dan suaminya.

Ketiganya, seperti Arjun, bukanlah figur historis. David dan Zahra adalah gabungan dari karakter pasangan yang disandera teroris serta pasangan yang memutuskan berpisah agar anaknya masih berpeluang diasuh oleh ayah atau ibu yang selamat.

Sedangkan Vasili adalah karakter gabungan antara seorang pengusaha kaya dan mantan prajurit pasukan khusus. Sutradara Maras sengaja mereka karakter tersebut menjadi fiksi guna menghormati privasi dan menjaga trauma para korban.

Namun, bintang dari seluruh aktor dan aktris adalah Anupam Kher. Ia bermain gemilang menyajikan karakter berwibawa, disiplin, tenang, dan tegas saat menghadapi teror dalam karakter Chef Hermant Oberoi. Penonton akan sangat mudah mengagumi sosok Oberoi yang ditampilkan Anupam Kher.

Chef Hermant Oberoi sendiri adalah tokoh historis. Sutradara Maras tidak mungkin mereka figur ini jadi tokoh fiksi. Chef Hermant Oberoi sangat terkenal di India. Ia adalah kepala koki di Hotel Taj Mahal Palace hingga tahun 2015 dan koki selebritas di India. Aksi heroiknya saat serangan teror Mumbai 2008 masih terkenal hingga saat ini.

Senimatografi film ini pun benar-benar meyakinkan. Caranya mengambil kamera benar-benar membuat penonton merasakan teror. Oleh karena itu, Hotel Mumbai bukan film yang layak ditonton oleh anak di bawah umur.

Bagi para penggiat kemanusiaan, Hotel Mumbai sangat layak untuk ditonton. Film ini cukup sempurna menggambarkan bagaimana dampak indoktrinasi pada remaja termasuk keluarganya. Pembantaian dilakukan tanpa ampun hanya karena para korban adalah mereka yang berbeda.

Perasaan menjadi korban dan solidaritas kepada sesama korban dalam diri pelaku ditanamkan lalu diubah menjadi dendam. Dendam itulah yang membuat mereka membantai para korban tanpa ampun. Para korban dibunuh hanya karena mereka berbeda dari si pelaku.

Hotel Mumbai sangat layak ditonton. Penonton akan merasakan ketegangan kuat selama dua jam, walaupun penonton takkan mendapat wawasan sejarah. 

Selain itu, film ini akan mengingatkan penonton pada bahaya indoktrinasi radikalisme. Hotel Mumbai akan membayar lunas tiket bioskop Anda. Film ini juga berpeluang menjadi salah satu film yang mengesankan dalam hidup Anda.

Cuplikan Resmi Hotel Mumbai (2019): https://www.youtube.com/watch?v=gVQpbp54ljA