Saat mengucap janji pernikahan, pasti happily ever after adalah ending yang diharapkan. Cuma memang jalan hidup tidak selalu indah, banyak pernikahan berakhir dengan perceraian. Perceraian berpengaruh pada banyak pihak, misalnya pasangan dan anak yang lahir dari pernikahan mereka. 

Banyak yang bilang perceraian membawa dampak negatif, contohnya anak mereka bisa jadi broken home, stigma masyarakat mengenai janda, dan masih banyak lagi.

Tapi, masa sih hanya hal buruk saja yang muncul dari perceraian?  Let’s look on the brighter sides, sebenarnya ada hal-hal positif dari perceraian, lho. Misalnya terhadap anak. Tidak selalu anak dari keluarga bercerai jadi hancur tanpa masa depan. Yuk, simak dampak positif perceraian terhadap anak.

1. Lepas dari ketegangan di antara kedua orang tua

Pertengkaran orang tua selalu berdampak kepada anak. Anak tidak paham kenapa orang tuanya saling berteriak atau malah perang dingin. Hal ini membuat anak merasa tidak nyaman dan tenang di rumah. Tidak paham apa masalahnya, anak menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab perselisihan mereka.

Rasa kehilangan pasti dirasakan anak saat salah satu orang tuanya meninggalkan rumah. Namun, positifnya adalah berkurang sumber ketegangan sehingga anak bisa merasakan ketenangan dan menjalani proses penyembuhan hati.

2. Lebih mandiri

Selalu ada papa atau mama siap untuk anak. Misalnya papa mengantar ke sekolah, mama menemani belajar, atau nonton film bersama kedua orang tua. Oleh karena perceraian, anak kehilangan satu figur penting dalam kehidupan sehari-hari. 

Untuk mengatasi kehilangan ini, anak dipaksa jadi lebih mandiri. Misalnya sadar belajar tanpa diawasi atau disuruh, mencuci piring, dan hal-hal sederhana lain yang tidak dilakukannya sendiri semasa orang tuanya masih bersatu. 

3. Berpikir lebih terbuka dan melihat dari berbagai sudut

Sejak kecil kita ditanamkan konsep keluarga adalah ayah, ibu, dan anak tinggal serumah. Tapi perceraian membuat konsep keluarga yang dikenalnya jadi berubah. Anak belajar bahwa bahwa keluarga tidak selalu serumah. 

Anak akan memahami  meski ayah-ibu berpisah, dia tetap anak mereka. Sebab takkan pernah ada mantan anak atau mantan ayah dan ibu.

Situasi ini mengajari anak bagaimana menghadapi dan beradaptasi terhadap hal-hal baru. Anak juga akan mampu menilai sebuah masalah dari berbagai sudut pandang, seperti halnya ia berusaha memahami kenapa perceraian  terjadi baik dari sisi ayah maupun ibunya.

4. Belajar menyayangi dan memelihara perasaan tersebut

Bagaikan bunga, rasa sayang harus dipelihara selalu ada. Sebab perasaan bisa layu jika tak dirawat. Sebuah perumpamaan yang romantis, namun terasa keras jika dipelajari melalui perceraian. Awal perceraian, biasanya anak jadi ragu akan dirinya sendiri. Ragu apa orang tuanya masih sayang dan peduli kepadanya.

Jika anak bisa melewati fase ini dengan baik (tentunya dibantu orang tua dan orang-orang sekitarnya), dia akan mengerti berbagai bentuk kasih sayang. Misalnya cinta antara pria dengan wanita bisa hilang, tapi kasih orang tua kepada anak sifatnya abadi.

Perceraian adalah salah satu bab dalam buku kehidupan anak. Bab yang akan dia baca berulang kali dan selalu memberi pengertian baru tentang menyayangi serta menjaga perasaan itu tetap ada.

5. Lebih bertanggung jawab

Banyak perceraian tidak berjalan mulus. Jamak kasus orang yang bercerai pergi begitu saja melepaskan tanggung jawabnya terhadap anak. Hal ini membuat oleng keadaan anak, baik dari sisi mental dan kerap kali finansial, sebab hanya ada satu orang tua  yang merawat serta membiayainya.

Anak sadar ia harus survive dan berusaha mengisi kekurangan tersebut. Dulu anak malas-malasan ikut les pilihannya sendiri. Kini ia sadar uang les tidak jatuh dari langit, bahwa orang tua yang merawatnya harus banting tulang membiayainya. Anak akan berjuang agar jerih payah mereka tidak sia-sia.

Dia pun lebih berhati-hati membuat pilihan. Misalnya dia butuh handphone baru, sedangkan di saat bersamaan game favoritnya merilis seri baru. Uang yang dimiliki terbatas, sehingga ia harus memilih satu saja. Inilah saatnya anak belajar memiliki prioritas dan tanggung jawab atas pilihannya. 

Jika berpikir jauh ke depan, ia akan memilih handphone sebab fungsi gadget tersebut tidak hanya menelpon. Handphone bisa membantunya mencari pengetahuan yang tidak didapat di sekolah. Beda dengan game yang fungsinya lebih terbatas dibanding handphone.

Apa pun pilihannya, anak berkesempatan belajar menjalani tanggung jawab untuk pilihannya. Bisa saja pilihan yang dibuatnya salah, tapi kesalahan itu yang membuatnya semakin dewasa.

Pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup. Cara mengajarnya yang keras kelak membantu kita di masa depan. Begitu juga dengan anak, perceraian bisa jadi kelas belajar kehidupan yang baik. 

Dengan bimbingan orang tua dan orang-orang terdekat, anak bisa mengambil sisi positif perceraian untuk bekal hidup  lebih baik di masa depan.