Sekitar satu setengah tahun yang lalu saya pernah ngobrol dengan salah seorang perempuan yang menjadi salah satu primadona di lingkungan para mahasiswa. Saya tahu dia termasuk perempuan yang anggun, cantik, mempesona dan membuat bengkak mata banyak pria. Tubuhnya langsing menyentil kelopak mata, keanggunannya pun sungguh innalillahi luar biasa.

Sosoknya yang indah, ramping, gemulai plus dengan senyuman yang aduhai persis mengingatkan saya pada sosok Ana Althafunnisa, salah seorang pemeran utama dalam film Ketika Cinta Bertasbih yang pernah tenar di Indonesia. Ana, seperti yang kita ketahui bersama, dalam film tersebut dikenal sebagai pribadi yang santun, teduh, lembut, murah senyum dan juga taat beragama.

Setelah melakukan riset saya pun berkesimpulan bahwa hampir 70 persen dari keistimewaan luar-dalam seorang Ana itu ternyata terhimpun rapi di dalam dirinya. Aduh. Pokoknya saya hanya bisa elus-elus dada kalau mengingat kecantikannya. Mungkin dialah salah seekor wanita teranggun dan tercantik yang pernah hinggap di mata saya. Sangat wajar jika para mahasiswa mentahbiskannya sebagai primadona idaman para pria.

Balonnya sih tak persis sama seperti buah semangka, tapi pancaran senyumnya, alamak, benar-benar terasa semlohai di kelopak mata. Gaya bicaranya pun halus persis seperti Ana. Tapi kalau soal “isinya” gurih atau tidak, wah, hamba tidak bisa berkomentar apa-apa. Karena tentunya ini termasuk rahasia besar yang hanya bisa dibongkar setelah cinta terikat janji setia. Assudahlah. Kalau dilanjutkan lebih dalam bisa-bisa iman saya meledak seperti bom Samarinda. 

Tapi, meskipun ditahbiskan sebagai primadona, ada satu hal yang cukup “disayangkan” dari dia. Usut punya usut ternyata dia enggan berpacaran dengan pria kecuali setelah terikat kontrak perkawinan yang halalan thayyiba, seperti yang diajarkan Agama. Cintanya tak bisa digadaikan kepada sembarang pria.  

Dan memang, sepertinya, di mata dia, pacaran itu termasuk aib dan perbuatan tercela. Karena ia tergolong kedalam perbuatan tercela, maka seorang Muslim dan Muslimah tak diberikan ruang untuk mendekatinya. Apalagi, pacaran itu—seperti kata ustaz-ustaz—dapat mengantarkan seseorang menuju pintu zina. Dan zina termasuk perbuatan yang dikutuk dalam kitab suci kita.

Tapi anehnya, ketika saya bertanya terkait bagaimana dia memaknai pacaran, ternyata dia tidak bisa menjawab apa-apa. Entah karena memang dia enggan bicara, atau memang karena yang bersangkutan benar-benar kesulitan untuk menjawabnya.

Maklum, istilah pacaran memang tak memiliki rumusan yang jelas di kalangan para ulama. Kita tahunya pacaran itu haram. Tapi kalau disuruh mendefinisikan pacaran itu apa, kadang kita juga geleng-geleng kepala.

Tapi itu tidak penting lah. Yang pasti, setahu saya, perempuan yang satu ini sampai sekarang masih setia dengan kejombloannya. Meskipun tak sedikit laki-laki yang menaruh hati sama dia. Dalam bahasa Arab, perempuan semacam ini biasanya disebut dengan istilah “imraah ‘afifah”, yakni perempuan yang teguh menjaga kehormatannya. Dia cantik jelita, tapi dia tak rela “menjual” kecantikannya kepada sembarang pria.   

Nah, berbeda cerita dengan yang pertama, sekitar empat hari yang lalu ada salah seorang perempuan yang curhat sama saya. Dia mengisahkan perjalanan cintanya yang cukup panjang layaknya rel kereta. Dengan sedikit baper, ia tak malu menguak sisi hitam dari perjalanan cintanya karena—katanya—dia ingin meminta solusi sama saya.

Cerita perempuan yang kedua ini berbeda seratus derajat dengan yang pertama. Kalau yang pertama tak pernah merasakan gelapnya dunia percintaan anak muda, maka yang kedua ini memiliki “catatan hitam” yang merekam pengalaman pahitnya kala merajut cinta dengan seorang pria.

Mula-mulanya saya tak ingin bercerita. Tapi belakangan, dia mempersilakan secara terbuka agar pengalamannya di muat dalam tulisan saya. Dia tak mengharapkan apa-apa kecuali, katanya, dia ingin berbagi pelajaran kepada anak muda yang lainnya agar mereka tak terjerumus kedalam penyesalan serupa.  

Wanita kedua ini bertutur secara terus terang bahwa kisah cintanya bermula ketika dia selalu merasa iri kala melihat teman-temannya bergandengan mesra dengan para pria. Maklumlah. Namanya juga anak muda. Nikah belum bisa, tapi cinta sudah menggelora. Akhirnya dia pun coba-coba. Dia mungkin penasaran. Ingin mencicipi rasanya pacaran itu seperti apa dan bagaimana.  

Dan ternyata, tak disangka, setelah coba-coba berhadiah, akhirnya dia pun tersunggur kedalam dosa yang selama ini dihindari oleh perempuan-perempuan model pertama. Padahal dia termasuk perempuan yang taat beragama; salat tidak pernah lupa, bahkan puasa sunnah pun, kata dia, terus berjalan seperti biasa. Tapi apa mau dikata, setan telah berhasil menewaskan kesadarannya. Dan akhirnya dia pun terjerat kedalam dosa besar yang dinistakan oleh Agama.  

Alah. Tanpa harus menyebut merek, Anda juga pasti sudah paham yang saya maksud itu dosa apa. Ya soal rasa sih saya juga belum pernah mencoba. Cuma banyak orang bilang konon katanya rasanya itu sedap menggelegar layaknya terbang di alam surga. Kata orang loh ya. Saya belum coba. Tapi sudahlah. Kelak mungkin anda juga akan turut merasakan kegurihannya.

Nah, singkat cerita, setelah beberapa kali ngobrol secara terbuka dengan saya akhirnya dia “menyesali” perbuatannya dan beniat tulus ingin bertaubat kepada Yang MahaKuasa. Dia menyesal—dan mungkin sekaligus sedih—karena dia sudah berpacaran dengan pria yang sudah “menodai” dirinya. Sudah berani menodai, meninggalkan pula. Lengkaplah sudah derita batin yang dialaminya.

Sebelum mengajak “tempur”, kata dia, sang pria selalu “mengiming-imingi” dengan janji bahwa dia akan menikahinya jika waktunya tiba. Gombalan-gombalan manispun diobral sedemikian rupa. Ya namanya perempuan, kalau sudah dibuai asmara, biasanya mudah klepek-klepek dan nurut-nurut saja. Akhir cerita, tewaslah sudah keperawanannya.

Untung saja, sekarang, kata dia, sang pria sudah kembali datang dan sudah berubah tidak seperti sebelumnya. Dia tidak pernah lagi mengajaknya tempur di atas arena. Bahkan, kalau sekarang, kata dia, menyentuh tangannya pun tidak. Meskipun, pukulan batin yang menghujam dadanya hingga saat ini mungkin masih terasa. Apalagi pacarnya belum bisa kasih kepastian apakah dia bersedia menikahinya atau tidak.

Itulah cuplikan kisah singkat dari perempuan kedua. Perempuan kedua ini termasuk perempuan yang “taat”, tapi sayang, ketaatannya tergerus oleh pergaulan anak muda yang kering dari nilai-nilai Agama. Mereka berpacaran, tapi lupa batasan Agama. Mereka memadu cinta, tapi lupa dengan tuntunan Yang MahaKuasa.

Apa kira-kira pelajaran penting yang bisa kita petik dari kisah singkat dua perempuan di atas, terutama yang kedua? Jawabannya tentu tak terhingga. Tapi, yang pasti, ini bertautan erat dengan efek samping dari tradisi berpacaran yang dewasa ini sudah dipandang biasa di lingkungan anak muda.

Dalam tulisan ini saya tidak akan berfatwa apakah pacaran itu halal atau tidak. Toh kita sendiri sudah dewasa dan bisa menalar mana yang sesuai dengan ajaran Agama dan mana yang melanggar aturan Yang MahaKuasa.

Saya hanya ingin mengajak anda untuk merenungkan ulang konsekuensi negatif dari berpacaran yang selama ini sudah kita pandang biasa. Karena diakui atau tidak, tradisi pacaran ini sudah berhasil menewaskan keprawanan wanita dan keperjakaan pria yang sejujurnya dimuliakan dan dihormati dalam Agama kita.

Ya. Bagi orang yang tak beragama—atau kurang menghayati ajaran Agama—mungkin ini hal biasa. Tapi bagi orang yang memeluk Agama tentu ini bisa dipandang sebagai sebuah malapetaka. Karena betapapun ini menyangkut kehormatan manusia.    

Sebetulnya kita juga tahu ini semua. Tapi masalahnya kadang kita lupa. Dan yang suka membuat kita lupa itu tak lain adalah syahwat dunia dan hasutan iblis durjana. Apalagi kalau iman setipis daun kelapa. Weuh. Sudah. Mereka berdua akan lebih leluasa mengoyak kehidupan kita.

Ya, terkait soal pacaran, saya kira, setiap orang memilik motif yang berbeda-beda; ada yang hanya ingin ikut-ikutan saja, ada yang ingin mencari keuntungan harta, ada yang murni karena dorongan cinta, ada yang karena dorongan nafsu belaka, tapi ada juga yang berniat untuk menunaikan perintah Agama. Intinya motif mereka berbeda-berbeda. 

Tapi, yang penting untuk kita sadari bersama, apapun motif utama dari pacaran, intipan iblis durjana tak akan pernah absen dari lingkungan kita. Sekalipun, misalnya, sejak semula kita tak berniat untuk melakukan yang tidak-tidak.

Tapi tetap saja. Iblis memiliki seribu satu cara untuk membuat manusia tersungkur hina kedalam dosa. Dan kalau sudah tercebur kedalam dosa, seperti zina, misalnya, orang yang beragama kadang merasakan penyesalan yang luar biasa. Awalnya mungkin terasa sedap, tapi kalau sudah “melendung”, yang tersisa hanyalah rasa nelangsa.  

Persis pada titik inilah kita akan sadar mengapa Islam—sebagai Agama yang memuliakan manusia—melarang pemeluknya untuk mendekati perbuatan zina. Ayat yang sering dikutip, misalnya, “Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu termasuk perbuatan yang nista.” (QS 17: 32). Artinya, Islam tak hanya melarang berzina, tapi juga melarang sesuatu yang dapat membuka pintu zina.

Itu sebabnya, misalnya, Islam juga melarang laki-laki dan perempuan berdua-duan di tempat tertutup tanpa ada orang ketiga. Bukan apa-apa. Larangan semacam ini disampaikan sejujurnya bertujuan untuk menghindari letusan syahwat yang tak jarang membuat orang menyesal sepanjang masa. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari).

Hadits ini—dan hadits-hadits serupa lainnya—sering dijadikan dasar oleh sementara orang untuk melarang berpacaran di tempat tertutup tanpa disertai dengan mahramnya. Sepintas, hadist tersebut tampak “norak”. Masa iya orang cuma berdua-duaan di tempat tertutup saja dilarang? Kan tidak selamanya orang berdua-duan itu terdorong untuk melakukan zina?

Tapi, kalau kita mampu menangkap spirit utama dari hadits tersebut, kita akan paham bahwa Nabi Saw mengutarakan demikian tak lain karena ia hendak menutup rapat kejadian yang tak diinginkan seperti yang dialami oleh perempuan kedua. Sebab, setahu saya, aksi indehoi yang ehem-ehem itu kadang bermula dari hal-hal ringan, yang kadang kita anggap biasa.

Kadang berawal dari chatting-an, kemudian telponan, selanjutnya janjian, naik mobil berduaan, setelah itu diajak makan, kemudian diajak main ke rumah teman, atau diajak ke taman, perlahan berani pelukan, ciuman, mesra-mesraan, alah, kalau sudah begitu terbukalah sudah pintu untuk ehem-eheman.

Itulah salah satu strategi setan dalam meracik jebakan. Dia memiliki tahapan-tahapan, atau khuthuwat dalam bahasa al-Quran. Tidak langsung sampai tujuan. Dia goda manusia secara perlahan. Dan kalau dia sudah berhasil, maka yang tersisa hanyalah rasa penyesalan.    

Nah, melalui larangan-larangan seperti di atas, Agama itu sejujurnya hanya ingin menghindari hal demikian. Hal yang kadang awalnya terasa sedap, tapi pada akhirnya terasa mengerikan. Yang awalnya terasa gurih, tapi ujungnya berakhir dengan penyesalan. Yang awalnya terasa aduhai, tapi pada akhirnya membuat kita galau.

Agama ingin menghindari hal demikian. Tujuannya bukan untuk mengekang manusia dalam kekakuan, tapi justru Agama menginginkan agar manusia terbebas dari kenestapaan dan penyesalan. Saya kira dalam beragama kita sering menjumpai teks-teks yang demikian. Teks yang secara lahiriah tampak norak dan aneh, tapi sejujurnya di balik keanehan atau kenorakan teks tersebut ada celah kebaikan yang kadang tak sempat kita pikirkan.

Terlepas dari halal atau tidaknya pacaran, yang pasti, kalau tak ingin berujung dengan penyesalan—seperti kisah perempuan kedua—dalam berpacaran kita harus mengindahkan batasan. Ya. Pacaran mungkin mengasyikan. Tapi kalau sudah melendung, yang tersisa hanyalah penyesalan.

Kepada laki-laki saya hanya bisa berpesan: Jangan biarkan pisang ambon yang menggelayut cantik di balik celana anda bertindak liar masuk kedalam lipatan terlarang. Dan kepada perempuan saya juga berpesan: sayangilah lipatan ketupat anda karena sesungguhnya lipatan tersebut merupakan sebuah kehormatan yang tak tergantikan.

Satu-satunya cara yang diperbolehkan untuk mempertemukan dua benda sakral tersebut hanyalah pernikahan. Mengapa harus pernikahan? Karena hanya dengan pernikahanlah perjumpaan mereka akan melahirkan kebahagiaan dan rida Tuhan. Bukan hanya kesenangan seperti yang dilakukan ketika berpacaran. Pacaran itu awalanya saja sedap, tapi kalau lupa batasan, jadinya mengerikan.

Kairo, Husein-Darrasah, 24 November 2016