“Bang biasa ya, aku pesan pedas.” Kataku kepada abang penjual warung langganan ku saat masih sekolah SMA. Warung penyetan pinggir jalan dengan menu terlengkap.

                “Sendirian aja bang?” sapa penjual dengan suara khas nya, yang menurutku tidak berubah sama sekali semenjak 12 tahun lalu saat aku masih kelas 2 SMA.

                “Iya lagi pengen menyepi.” jawabku singkat malas berbasa-basi.

                “Menyepi kok di warung penyetan.” lirih kata penjual dengan nada geli. Aku hanya tersenyum tipis mendengar kalimat itu. Rasanya malas sekali harus menanggapinya, jumlah kalimat di pikiranku lebih banyak yang ingin tetap tinggal ketimbang jumlah kata yang bersedia keluar.

                “Minumnya teh tawar panas ya Bang!!” Teriak ku kepada penjual, yang anehnya sampai sekarang aku gak tau nama aslinya siapa.




•••

                “Dari mana kamu? sendirian aja?” suaranya masih sama, orangnya masih sama, tapi sikap dan pembawaan dirinya berbeda, aku sempat berpikir orang ini siapa? Untung saja kesadaran ku mengambil alih lebih cepat. Dia adalah si biang kerok dulu di kelas, dia yang bernama Ferdi. Orang yang sepertinya tak pernah punya kesedihan dalam hidupnya, orang yang tak pernah merasa kecewa, orang yang merasa bahwa hidup ini tak perlu diseriusin, setidaknya itu menurut sudut pandang ku dulu.

                Aku yang masih melongo karena bingung melihatnya, akhirnya mampu bersuara “Eh, sori.” aku menelan ludah. “baru pulang kerja” jawabku singkat, dan aku merasa tidak perlu menjawab pertanyaan yang ke dua karena aku yakin dia sudah tau jawabannya.

                “Masih sering ke sini bung? Aku sudah lebih dari delapan tahun gak ke sini. Ternyata masih sama tata letaknya, dan aku berharap semoga masakannya juga masih sama enaknya.” Ferdi diam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. “Astaga ternyata sudah lama sekali.” dia menoleh ke arahku, “Apa yang membawamu kemari bung?”

                “Hahaha, apalagi kalau bukan rasa lapar?” kalau diperhatikan tawaku terdengar hambar, lebih terdengar memaksa. Yang membawaku ke sini adalah rasa suntuk yang tiba-tiba menyapa, rasa lelah yang tanpa diduga memeluk lebih erat, jiwa yang tiba-tiba merasa terpojokan oleh keadaan. Aku datang ke sini membawa harapan bisa menaruh semua perasaan itu dan meninggalkan nya di sini, sejenak meski sebentar saja memandang hidup ini dengan rasa ringan seperti saat masih remaja dulu. Berharap mampu menemukan kedamaian yang dulu adalah teman akrabku di tempat ini.

                “Hahaha, oke anggap saja begitu.” sepertinya Ferdi paham muatan yang ada dalam nada bicaraku.

                Sejenak aku memperhatikan Ferdi lebih seksama, aku juga melihat rasa lelah di sana. Ferdi tidak tampak seperti Ferdi yang dulu. Bukan soal kerutan atau kulit yang lebih gelap, bukan soal ototnya yang sekarang tampak lebih tebal terutama otot di lengan nya. Sekarang aku melihat wajah yang penuh pertimbangan, aku melihat kehati-hatian yang terpancar dari wajahnya.

                Cukup lama kami terdiam tanpa ada yang melempar kata, bukan tidak mau berbicara tetapi tidak tau harus mulai dari mana. Kami sama-sama sibuk dengan pikiran kami masing-masing, merenungi nasib masing-masing. Persoalan hidup yang kami hadapi kini sudah jauh berbeda dengan yang kami hadapi dulu saat masih remaja. Menjalani kehidupan sebagai orang dewasa, semua terasa lebih kompleks. Bukan lagi benar dan salah, perkaranya sudah berbeda.

                “Gimana kerjaanmu lancar?” Ferdi membuka percakapan.

                “Ya seperti biasa, gitu-gitu aja.”

                “Maksudmu?”

                Aku terdiam sejenak, “Perusahaan selalu menetapkan target yang tinggi bung, aku mulai keteteran. Hampir setiap saat aku kepikiran soal kerjaan. Di rumah, di jalan, saat makan, saat berkendara, hanya target yang ada di dalam kepalaku. Tersiksa rasanya.” aku berusaha mengatur nafas. Aku mengijinkan diriku menarik nafas lebih dalam dan lebih panjang. Ferdi menunggu dengan sabar, “Berat bung rasanya, kadang ingin menyerah, ingin berhenti saja, ganti pekerjaan. Tetapi saat ingat pekerjaan ini yang mencukupi kebutuhan hidupku, keinginan itu pergi begitu saja. Dalam hati kecilku, aku ingin keluargaku tetap hidup sejahtera.”

                Ferdi juga ikut menghela nafas panjang, memperlihatkan sedang mempertimbangkan sesuatu. “Kehidupan semakin dewasa memang tidak semakin mudah bung, tetapi kita yang menjadi semakin kuat. Hidup lebih sering hanya perlu untuk dijalani, jangan khawatir, kita hanya perlu bertahan. Sudah. Kurangi beban pikiranmu sobat.” senyuman Ferdi terasa hangat sekali di pelupuk mataku.

                Aku terdiam sejenak, terlintas dalam pikiran apakah benar ini Ferdi yang aku kenal? Astaga kenapa dia bisa sebijaksana ini?

“Ini Ferdi bukan?” kata ku sambil menunduk dan melihat tepat pada sorot matanya, sengaja ku sunggingkan sedikit senyum kepadanya.

                “Eh si bangsat. Hahaha.” Ferdi tertawa terbahak-bahak sambil menutup matanya. Dia sepertinya geli sendiri dengan isi pikirannya. 

                Aku tidak tahu persis apa yang ada di benak Ferdi. Kini menafsirkan isi pikiran Ferdi menjadi teka-teki yang rumit bagiku, padahal dulu itu adalah keahlianku. Tiba-tiba saja aku terlintas pertanyaan, “Kejadian apa saja yang menimpamu selama dua belas tahun terakhir ini bung? Hingga kau bisa menjadi sebijaksana ini?” Sengaja sekali ku berikan nada mengejek pada pertanyaan ku yang terakhir, dari dulu selalu terasa menyenangkan keakrapan seperti ini.

                Lagi-lagi aku melihat dengan jelas ketenangan Ferdi, terpancar melalui mimik mukanya, “Seperti yang kamu ketahui dari dulu bung, kehidupan tak pernah mudah bagiku. Meski kau lebih sering menilaiku sebagai anak periang, kau tau sisi hati terdalamku. Dan aku selalu bersyukur Tuhan selalu menunjukan kuasanya, tak pernah berhenti memberikan kasih sayang-Nya kepadaku.”

              “Bisa lebih spesifik?”

                “Gak ada yang lebih spesifik bung, kita di sini tidak untuk membicarakan itu, kita di sini karena mau makan. Hahaha.” tawa Ferdi sempat membuat pengunjung menoleh ke arah kami, dan jelas Ferdi tidak peduli. “Semua yang ada di pikiranku sekarang adalah hasil dari akumulasi keputusan hidup yang sudah aku lalui selama ini.” Suara Ferdi terdengar mantap. “Sepertinya kamu sedang tidak bergairah bung? Aku ingatkan, jangan pernah menyesal telah menjalani kehidupan ini bung, seberapa besar dan rumit masalah mu jalani saja. Percaya pada hati nurani mu, aku yakin dia akan menuntunmu pada kehidupan yang lebih baik.”

                 Aku terdiam lama, bahkan sangat lama. Hingga Ferdi sudah hampir menghabiskan makanan nya, aku sama sekali  belum menyentuh makanan ku. Saat Ferdi mencuci tangannya pada air kobokan di atas meja, aku baru mulai minum teh panas yang sudah menjadi dingin.

Sahabat yang dulu selalu menghiburku dengan leluconnya kini ia kembali menghiburku, tetapi bukan dengan lelucon nya. Kini ia menghiburku dengan kebijaksanaannya. Kini aku mampu kembali merasakan itu, riang gembira seperti saat masih remaja. Tetapi dengan sudut pandang yang berbeda.