Hari itu ada acara perpisahan di sekolahku. Perpisahan memang hal yang paling tidak diinginkan untuk terjadi. Tapi sebagaimana kita menerima sesuatu yang datang, begitu pun dengan pergi. Suatu saat siap tidak siap pasti itu akan terjadi.

Beberapa hari sebelum acara perpisahan, aku dan dia mengatur pertemuan. Kami duduk di sebuah kursi di taman kota, ia memulai perbincangan.

“Gak kerasa sebentar lagi kita udah gak satu sekolahan lagi ya.” katanya padaku.

“Hm iya,” kataku spontan sambil sedikit terkejut ia akan membahas hal itu. Hal yang tak pernah sedikit pun ingin aku bahas dengannya. Tapi apa boleh buat sekuat-kuat aku menahan diri, semua akan terjadi juga.

“Besok saat acara perpisahan, aku mau pakai kemeja warna biru langit,” katanya dengan semangat.

“Wah iya? Pasti keren!” sambutku. Tanpa kusadari air mata ku ikut menetes, langsung buru-buru ku hapus. Ternyata ia sudah melihat duluan sebelum sempat aku hapus.

“Kok nangis? Semunya pasti bakalan baik-baik aja Dena, kita saling percaya ya.” Jawabnya.

Aku tak sanggup memberikan respon apa-apa. Malam itu berlalu seperti menitipkan luka baru, aku takut.

Dia adalah seseorang yang resmi menjadi pacarku beberapa bulan lalu, namanya adalah Ghafii. Kalau dipikir2 lagi, hubunganku dengannya memang baru sebentar, bahkan bisa dibilang baru saja dimulai. Ia adalah kakak kelasku, saat itu aku duduk dibangku kelas XI dan dia kelas XII. Tapi sekarang aku bukan ingin membahas bagaimana pertemuanku dengannya, tapi ketakutanku saat acara perpisahan benar-benar membuatku berpisah dengannya.

Aku senang karena perpisahan berarti sesuatu yang baru akan segera datang. Ia akan segera menjadi seorang mahasiswa yang pastinya itu hal yang ia tunggu-tunggu untuk segera terwujud. Tapi bagi yang ditinggalkan perpisahan itu hanya berisi kesedihan. Menangisi kepergian orang yang secara tidak langsung ternyata mengharapkan perpisahan itu terjadi.

***

Acara perpisahan itupun akhirnya tiba. Sesi  pertama dimulai dengan acara resmi, selanjutnya sesi hiburan yang mana hanya diikuti oleh siswa saja.

Ghafii adalah seorang yang pandai bermain alat musik, hanya saja aku tak pernah dinyanyikan olehnya, tidak apa-apa mungkin belum ada waktu yang tepat.

Ia naik keatas panggung bersama empat temannya. Mereka mulai melantunkan lagu-lagu indah yang khas dengan sebuah perpisahan. Selama ia diatas panggung mataku tak berhenti memperhatikannya. Ku tatap ia dalam-dalam, ia balas dengan menatapku juga dan ditambah senyum manisnya, salah satu hal yang paling aku sukai darinya.

Setelah selesai melantunkan beberapa lagu, tiba juga pada lagu legend berjudul “Kisah Kasih Di Sekolah” siapa yang tak tahu dengan lagu ciptaan Alm. Chrisye yang satu ini, lagu berjuta kenangan.

Bait demi bait lagu dilantunkan dengan indah dan mataku masih terus tertuju padanya, entah dorongan dari mana tiba-tiba dadaku terasa sesak, mataku panas, jangan, jangan sekarang aku tahan agar air mataku tak jatuh, aku tak mau ia melihatku menangis lagi. Tapi kesekian kalinya aku tak mampu membendung air mata ini agar tak tumpah, dalam hati aku menjerit, aku sangat mencinatimu, jangan pergi. Seolah paham dengan raut wajahku, mukanya langsung berubah seperti bertanya, ada apa kenapa menangis?.

Namun situasi saat itu tak bisa mengizinkannya persis berada disampingku untuk memberikan pundaknya. Aku langsung meninggalkan kerumunan dan lari menuju toilet. Aku tak mampu berada di situasi ini, tanpa pikir panjang aku langsung meninggalkan sekolah tanpa berpamitan dengannya.

***

Sampai di rumah, aku merasa menyesal mengapa aku begitu terbawa suasasa, toh ini cuma acara perpisahan sekolah, bukan berpisah dengannya. Aku langsung menghubunginya dan meminta maaf atas sikapku yang sangat tidak bisa diajak kerja sama. Untungnya ia memaafkanku dan bilang bahwa ia mengerti dengan keadaanku. Bagaimana aku tak terus jatuh hati pada sosok yang selalu mengerti? Aku makin gila karenamu.

Itu hari terakhirku bertemu dengannya di sekolah. Hari-hariku berlalu begitu saja, pergi sekolah bukan hal yang paling aku tunggu-tunggu lagi. Secara tidak sadar perlahan demi perlahan semuanya memang berubah.

Beberapa hari setelah acara perpisahan, komunikasiku dengannya masih baik-baik saja, saling melontarkan kalimat rindu, walaupun tak berujung temu.

Ia melanjutkan sekolahnya di salah satu Universitas yang terletak di luar kota. Itu artinya aku dan dia akan menjalani hubungan jarak jauh, yang menurutku itu bukan hal yang mudah. Tapi aku optimis saja, jika cinta tak akan ada yang berubah walau sejauh apapun jaraknya.

Seminggu, dua minggu, semuanya berjalan baik-baik saja, walaupun komunikasiku dengannya tak begitu lancar karena kesibukannya sebagai seorang mahasiswa baru, dan aku mencoba untuk tetap mengerti.

***

Sampai disuatu ketika temanku melihatkanku sebuah foto seorang perempuan sedang bersama Ghafii ditambah keterangan foto dengan emoticon love yang baru saja diunggahnya di media sosial milik perempuan itu. Aku terdiam sejenak, mencerna kembali apa yang aku lihat barusan. Aku berusaha tidak percaya dengan apa yang aku lihat, tapi itu terasa sangat nyata.

Langsung buru-buru aku hubungi Ghafii untuk menanyakan hal itu, aku berusaha tetap tenang untuk siap mendengarkan jawaban darinya.

“Maafin aku, aku gak bermaksud ngecewain kamu, aku janji gak akan deketin dia lagi, maafin aku.” Jelas Ghafii.

Aku terdiam dan merasa sesuatu yang sangat berat telah menimpaku, roboh pertahananku. Air mataku tak berhenti menetes, kepedihan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.

Aku ambil napas panjang-panjang lalu kubuang pelan-pelan, aku berusaha kuat untuk terakhir kali ini saja.

“Oh yaudah, kita udahan aja ya, kamu cintanya sama dia, kan, kamu maunya kita pisah aja, kan, aku gak pernah nyesal karena udah jadi orang yang paling mencintaimu.” Langsungku tutup telfon.

Sejak hari itu semuanya hancur, semua yang udah aku bangun dengan sedemikian rupa, ia robohkan hanya dalam waktu sepersekian detik. Aku berusaha untuk menjadi yang terbaik dan dia berusaha untuk terus mencari yang lebih baik. Pada akhirnya perpisahan itu benar-benar terjadi.